Bab 4

Alasan Lembur Suamiku Setiap Malam

 Setelah mengirimi aku pesan, Mas Fahri langsung buru-buru pulang. Sepertinya dia memang sudah tidak sabar untuk menuntut penjelasan dariku, padahal aku yang lebih berhak untuk itu.

 Enak saja. Aku memang wanita dan harus taat terhadap suami, apakah kepada seorang pembohong juga aku harus hormat? Yang benar saja.

 Sebelum benar-benar pergi, Mas Fahri melirikku dengan tajam. Meskipun melihat dengan jelas, aku berpura-pura tidak melihatnya, dan tetap fokus sama Kania yang sedang digoda Dino.

 "Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Toh, mereka sudah pergi." Dino mulai mencoba mendapatkan penjelasan.

 "Seperti yang kamu lihat." Aku menjawabnya cuek. Tidak usah menjelaskan, dia juga pasti sudah tahu.

 "Jadi selama ini dia mengkhianati kamu?" tanyanya sambil menatapku tidak percaya. "Ah, yang benar saja. Memangnya apa kelebihan wanita itu sampai membuatnya berpaling darimu?" ia beberapa kali menggelengkan kepalanya.

 "Begitulah lelaki. Dia tidak akan pernah merasa cukup, padahal di rumah sudah ada ikat yang segar, dan halal baginya." Aku hanya mengatakan apa yang aku inginkan. Selama ini Mas Fahri memang tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dirinya mempunyai wanita lain. Baik itu selingkuhan atau pun yang lainnya.

 Ponselnya pun seringkali aku pegang, tapi tidak pernah aku temukan hal-hal yang aneh. Semuanya normal-normal saja. Perhatian dan sikapnya juga tidak pernah berubah. Mas Fahri selalu bersikap romantis tanpa membuat celah sedikit pun.

 "Kamu bisa menceritakan apapun yang dirasakan, Dee," lirih Dino. Ya, selama ini memang dia hanya akan mengatakan itu.

 "Bisa antar kami pulang?" tanyaku sambil memikirkan bagaimana reaksi Mas Fahri nanti ketika melihat kami pulang diantar Dino.

 "Tentu saja," jawabnya cepat.

 "Hore, kita diantar Papa pulang!" Kania langsung berseru setelah mendengar respon Dino dan Haikal pun ikut tersenyum lebar.

 Walaupun selama ini anak sulungku selalu bersikap dewasa, tapi dia tetaplah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya. Namun, selama ini hanya aku yang ada di sisinya, tanpa seorang Papa.

 Mungkin sekarang hatinya sedang menghangat karena Dino berperan sebagai papanya meksipun hanya untuk beberapa saat.

 Ketika baru sampai di taman perumahan, anak-anak langsung minta berhenti. Mereka meminta turun untuk memborong semua jualan seorang wanita yang sudah sepuh.

 "Berapa rambut neneknya, Nek?" tanya Dino sambil duduk di sampingnya.

 "Satunya delapan ribu."

 Tanpa menunggu lama, Haikal langsung menghitung semuanya, lalu menyerahkan satu lembar uang merah kepada Nenek yang namanya masih tidak aku ketahui itu.

 "Tidak, biar Papa saja yang bayar." Dino menahan tangan Haikal dan mengeluarkan uang dari dompetnya.

 "Ini, Nek, kembaliannya ambil saja."

 Kami kembali masuk ke dalam mobil dan benar saja, Mas Fahri sedang menunggu di depan pintu rumah.

 Kami turun dari mobil bersama-sama.

 "Ucapkan apa, Sayang?" Aku mengingatkan kepada anak-anak untuk selalu mengatakan permisi, maaf, tolong, dan terima kasih. Ini adalah kata-kata yang sangat penting bagiku dan anak-anak. 

 Tepat di hadapan Mas Fahri, Haikal dan Kania memeluk Dino erat. "Terima kasih atas hari ini, Pa, kami bahagia sekali," ucapnya bersamaan.

 "Sama-sama, Sayang. Kan ini sudah menjadi kewajiban Papa sebagai orang tua kalian. Ingat, harus selalu nurut apa yang Mama katakan, ya," pesan Dino kepada anak-anak. Padahal dia belum menikah, tapi sifatnya sudah seperti seorang ayah beneran.

 Andai saja Mas Fahri bisa seperti ini? Tapi ah, rasanya sangat tidak mungkin. 

 "Darah, Pa." Anak-anak melambaikan tangannya ketika Dino menaiki mobilnya yang dibawa oleh karyawannya ke sini.

 "Apa yang kau lakukan? Siapa laki-laki itu?" Mas Fahri melayangkan tatapan tajam, seolah aku adalah seorang penjahat yang berhak untuk diintrogasi.

 Haikal dan Kania langsung masuk ke kamarnya tanpa memedulikan Mas Fahri yang tersenyum lembut kepada mereka. Bagus. Ini akan membuat Mas Fahri semakin merasa tersiksa.

 Tanpa menjawab, aku langsung masuk ke dalam rumahnya. Berpura-pura seolah tidak melihat manusia yang super duper sibuk itu.

 "Dania!" Mas Fahri mulai membentak dan tangannya mencekal pergelangan tanganku.

 Aku membalikan badan dan ikut melayangkan tatapan tajam. "Kenapa, Mas? Kenapa malah kamu yang marah?" tanyaku santai.

 Aku tidak ingin semua penyakitku kambuh hanya karena apa yang sudah dia lakukan padaku. Aku juga layak untuk bahagia.

 "Kamu perempuan yang sudah memiliki suami, apa pantas kamu melakukan hal itu dengan seorang laki-laki lajang di luaran sana, hah?" Ia berteriak tepat di depan wajahku.

 "Wah, sampai kapan kamu mau membalikan fakta, Mas? Kamu juga seorang laki-laki yang sudah beristri dan mempunyai dua anak, tapi malah bersama dengan wanita lain. Bahkan sampai melakukan kontak fisik," ucapku penuh penekanan.

 "Itu berbeda, Dania! Seorang laki-laki bisa mempunyai lebih dari satu wanita, tapi tidak dengan wanita sepertimu!" Suaranya kali ini terdengar lebih keras.

 "Siapa perempuan itu, Mas? Selingkuhan atau kekasih gelapmu?" tanyaku membuatnya langsung terdiam. Dia pikir aku akan langsung melupakan kejadian hari ini? Mimpi.

 "Oh, aku lupa, keduanya sama saja, ya. Bukankah kamu dulu pernah bilang, jika seorang suami lebih memilih selingkuh daripada memuliakan istrinya, maka anjing sungguh jauh lebih baik?" Aku menatapnya lekat untuk mendapatkan jawaban.

 Dulu dia mengatakan hal itu dengan menggebu-gebu dan sekarang dia tidak bisa berkutik?


Bersambung ....


Seorang laki-laki dipegang perkataannya, tapi belum apa-apa kelemahannya sudah ditemukan Dania. Apakah dia bisa menjawabnya?



Next? Yuk follow

 Subscribe

 Like dan komen, ya agar lebih semangat lagi untuk part selanjutnya, ya.

 Love you all.