Bab 1 (Kepergok)

 ALASAN LEMBUR SUAMIKU SETIAP MALAM

 "Hei, semuanya! Maaf sudah membuat kalian menunggu," ucap Mas Fahri kenapa seorang wanita dan anak-anak yang sedang makan di restoran yang secara kebetulan aku dan anak-anak juga mau makan di sini.

 "Gapapa, kok, Mas, anak-anak bisa nunggu," ucap seorang wanita yang ada di sampingnya sambil mengelus pergelangan tangan Mas Fahri.

 Ah, ternyata ini yang dikatakan lembur suamiku. Aku pura-pura masuk dan tidak melihat ke arah mereka dengan anak-anak.

 "Ma, kok, itu kayak Papa, ya?" Kania, anak keduaku yang berusia lima tahun menunjuk ke arah Mas Fahri. Namun, Haikal langsung mengalihkan.

 "Mungkin kamu salah lihat adik Mas yang cantik," ucapnya sambil mencoba mengarahkan tatapan adiknya ke arah lain.

 Aku dan Mas Fahri sudah menikah selama sepuluh tahun. Dulu, aku menikah di usia muda yang belum punya pengalaman apapun. Karena Mas Fahri terus-menerus datang membujukku agar mau menikah dengannya sampai membuatku pusing dan menyetujuinya.

 Dulu dia berjanji akan selalu bersama denganku dalam suka dan duka, juga posisiku di dalam hatinya tidak akan pernah terganti.

 Akan tetapi, sekarang sepertinya ia sudah menjilat ludahnya sendiri. Kini laki-laki yang sudah menjadi suamiku selama sepuluh tahun itu malah makan dengan lahap sambil menatap ke arah wanita itu dan beberapa apa yang berada di depannya.

 "Kamu capek ya, Mas?" Wanita itu bertanya sambil melap keringat yang ada di wajah Mas Fahri.

 Aku langsung mual ketika melihat apa yang dia lakukan barusan, apalagi Mas Fahri sama sekali tidak menyingkirkan tangannya. Malah terlihat menikmati.

 "Ma, aku mau makan bareng Papa." Kania mulai kembali nakal.

 "Iya, Sayang. Kapan-kapan kita makan sama Papa, ya?" Aku mengusap puncak kepalanya lembut.

 Bagaimanapun juga, Kania masih kecil, dia tidak akan mengerti apa yang sedang dilakukan papanya. Namun, tidak dengan Haikal. Dia sudah besar.

 "Aku mau makan itu, Pa," seru salah satu anak yang duduk dengan Mas Fahri.

 "Yang mana, Sayang?"

 "Yang itu sama itu, Pa."

 Aku dapat melihat gadis kecil yang kira-kira berusia empat tahun itu menunjuk ke arah mana saja. Dengan sigap, Mas Fahri langsung mengambilkan makanan yang diinginkannya.

 "Ma, kenapa Papa bisa makan sama dia dan aku cuman makan sama Mama dan Mas Haikal saja?" Kania kembali memberikan pertanyaan yang membuatku terdiam.

 Aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Bukan hanya Kania dan Haikal yang terluka, tapi aku juga sama. Hatiku sakit melihat suami yang katanya super sibuk itu malah makan dengan anak-anak dari orang lain, tapi dia lupa dengan anaknya sendiri.

 Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku malah merasa seperti orang ke tiga, padahal jelas-jelas akulah yang berhak ada di sana!

  "Sabar ya, Dedek Sayang. Orang sabar disayang Allah. Kania mau, 'kan disayang sama Allah?" Kini Haikal kembali merespon pertanyaan Kania.

 Untunglah dia sudah ngerti. Kalau sama-sama belum, mungkin air mataku sudah menetes dari tadi.

 "Sekarang kita makan, ya?" Aku langsung menyuapi Kania yang tidak lagi bicara, tapi matanya tetap menatap ke arah meja Mas Fahri dengan tatapan yang berkaca-kaca.

 Ya Allah, rasanya aku sudah tidak sanggup lagi.

 "Mas aja yang suapi Dedek, ya, Mama ke kamar mandi dulu." Tanpa menunggu jawaban Haikal, aku langsung berjalan cepat ke kamar mandi untuk menumpahkan segala rasa yang ada di dalam dada.

 Baru saja aku mau menangis, wanita yang tadi duduk bersama Mas Haikal tiba-tiba masuk ke kamar mandi.

 "Mbak baik-baik saja?" Ia melemparkan tatapan heran.

 Aku terpaksa tersenyum ke arahnya sebagai bentuk jawaban.

 "Oh, syukurlah. Tadi aku gak sengaja lihat Mbak, kupikir Mbak ada apa-apa karena terus melihat ke arah kami," ucapnya seolah dia adalah wanita yang tidak tahu apapun, kalau laki-laki yang berada di sampingnya adalah suamiku.

 Dapat kulihat wanita itu membersihkan bajunya yang terkena saos dan aku spontan memberikan sapu tangan kepadanya.

 "Tidak usah, terima kasih banyak." Ia terlihat tidak enak hati.

 "Gapapa, Mbak. Ambil saja." Aku memberikan sapu tangan kembali ke tangannya.

 "Wah, makasih banyak ya, Mbak. Boleh minta nomor ponselnya, nanti saya wapri Mbak untuk mengembalikan ini," ucapnya membuatku kembali tersenyum.

 Aku langsung memberikan kartu nama padanya.

 "Wah, ternyata pemilik sebuah restoran besar. Enggak nyangka bisa kenal orang hebat," ucapnya yang terlihat bangga.

 "Biasa aja, kok." Aku hanya bicara seadanya.

 Ketika saos di bajunya sudah hilang, kami langsung keluar. Wanita itu meletakan sapu tangan yang aku berikan di atas meja dan itu membuat Mas Fahri terkejut. Ia langsung meraih sapu tangan itu.

 "Dari mana kamu dapatkan ini?" Wajah Mas Fahri merah padam.

 "Dari seorang teman, Mas." Wanita itu menjawab dengan santai.

 "Siapa? Di mana orangnya?" Mas Fahri terlihat tidak sabar.

 Wanita itu kembali berdiri dan menunjuk ke arah meja kami. Mas Fahri pun langsung melihat ke arahku yang masih berdiri sambil menatapnya dengan ribuan pertanyaan.