Bab 6

 Alasan Lembur suamiku Setiap Malam 

 "Adam?" Aku mengucapkan nama itu dan membuat Mas Fahri menatap tajam ke arahku.

 "Jangan ganggu privasi suamimu, Dania!" bentaknya membuatku sangat terkejut.

 Oh, jadi dia mau bermain lembut? Baiklah. Aku akan dekati Ranti tanpa sepengetahuanmu, Mas, dan lihat bagaimana hasilnya nanti.

 Karena takut anak-anak sudah kembali ke kamar dan melihat pesan dari Ranti alias Adam itu. Aku akan mengumpulkan bukti yang cukup untuk membuat keluarga besar kami berdua percaya dengan apa yang akan aku katakan.

 [Kenapa, Mbak? Mbak terkejut, ya? Aku pacaran dengan Mas Fahri meksipun masih status istri karena suamiku suka main kasar, Mbak. Bukan hanya itu, dia juga suka main perempuan. Tidak pernah kasih nafkah, jadi hanya bisa marah-marah, dan itu membuat Mas Fahri semakin peduli padaku.] 

[Apalagi anak-anak kekurangan kasih sayang dari ayahnya, jadi Mas Fahri yang menggantikan posisi itu.]

 Sederet pesan yang Ranti kirimkan membuat dadaku bergemuruh. Bisa-bisanya Mas Fahri peduli kepada anak orang lain, tapi malah menyengsarakan anaknya sendiri. Apa-apaan ini? Apa ini pantas?

 Selama ini anak-anak selalu menolak jika diajak bermain ke taman perumahan. Mereka hanya akan membeli rambut nenek, lalu buru-buru pulang. Itu karena banyak anak yang main di taman dengan ditemani orang tuanya. Bahkan hampir semua anak di temani ayahnya.

 Makan bersama saja bisa kehitung selama anak-anak besar. Bagaimana mau makan bersama kalau Mas Fahri saja jam tujuh belum bangun, sementara anak-anak harus sudah berangkat ke sekolah.

 Jam delapan, Mas Fahri sudah siap kembali untuk pergi ke kantor, dan pulang jam dua atau jam tiga pagi di saat anak-anak sedang tertidur lelap.

 Aku belum sanggup untuk membalas pesan Ranti, aku mau menata hati lebih dulu, agar sanggup untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk.

 "Hari ini, aku mau mau bersama anak-anak. Mereka ke mana?" Suara Mas Fahri terdengar di depan pintu setelah suara ketukan terdengar.

 "Mereka sudah bahagia dengan dunianya sendiri, jadi kamu tidak usah meluangkanwaktu waktu untuk anak-anak," jawabku dari dalam.

 Kania, aku bisa maklum. Perasaannya belum begitu dewasa, tapi berbeda dengan Haikal yang sudah tahu apa itu rasa sakit.

 Brakkk ... pintu dibuka dari luar dengan penuh emosi.

 "Maksudnya apa?" Mas Fahri menatapku tajam. Rahangnya kembali mengeras. Sementara aku masih fokus dengan laporan keuangan sambil menghitung keuntungan.

 "Maksudnya sudah jelas. Aku tidak butuh suami yang gemar berbohong, begitupun dengan anak-anak." Aku berbicara tanpa melihat ke arahnya.

 Aku tahu dia akan marah, tapi aku adalah orang yang tidak pandai untuk menyembunyikan rasa sakit. Namun, ini hanya tarik ulur saja, aku ingin Mas Fahri merasakan sakit seperti yang aku dan anak-anak rasakan selama ini.

 "Jangan kau kita aku akan menceraikanmu, jangan gegabah, Dania. Anak-anak tentu saja membutuhkan kehadiranku. Kalau kau tidak percaya, lihatlah!" Ia berbicara dengan penuh percaya diri dan memanggil anak-anak ke kamarnya.

 Aku pun ikut penasaran dengan apa yang akan ia lakukan, jadi mengekor di belakangnya.

 "Mas, Dek, main sama Papa, yuk?" anaknya membuat Mbak langsung terdiam. Semenjak Mbak kerja di sini, ia belum pernah bertemu dengan Mas Fahri. Jadi pasti sangat ketakutan dan serba-salah.

 Wajah Kania langsung berseri dan akan segera berlari ke arah Mas Fahri, tapi Haikal melarangnya. "Jangan, Dek. Papa kan sedang sibuk," ucapnya membuatku tertawa lepas.

 "Tapi aku kangen Papa." Mata Kania berkaca-kaca.

 "Iya, Mas tahu. Tapi kan Papa sibuk. Bagaimana kalau kita telpon Papa Dino?" Haikal mengusulkan.

 "Enggak, Mas. Kamu jangan kaya gitu. Papa kalian cuman ada satu, Papa yang sekarang ada di hadapan kalian. Bukan laki-laki yang mengaku-ngaku itu," cegahnya, lalu mengambil ponsel Haikal yang hendak menelpon Dino.

 "Loh, kamu kan pulang juga karena sudah kepergok dengan istri mudamu, Mas. Kalau enggak, mungkin kamu juga gak akan pulang sampai jam tiga nanti." Aku mendekat ke arah anak-anak dan memeluk mereka satu persatu.

 "Kalian harus bisa mengiklaskan Papa kalian, ya, mungkin Papa asli kalian memang Papa Dino." Aku kembali memanas-manasi.

 Mas Fahri langsung menarikku kembali masuk ke dalam kamar. "Istighfar kamu, Dania! Kamu sudah berdosa banget sama suami," ucapnya sambil memegang pundakku.

 "Aku sadar kok, Mas, yang harusnya rajin istighfar itu kamu. Sudah kepergok di tempat umum, masih saja ngeles." Aku langsung menimpali.

 Mas Fahri tidak mendengarkan apa yang aku katakan, ia malah kembali keluar kamar, dan masuk ke kamar anak-anak.

 "Papa mohon sama kamu, Mas, jadilah anak yang baik." Mas Fahri memeluk kedua anaknya yang kini sudah menangis.

 Aku kembali masuk ke dalam kamar dan untuk menanyakan kepada Ranti jam berapa saja Mas Fahri ada di sana. Namun, sebelum aku mengetik pesan kepadanya, ada pesan dari kakak ipar, kakaknya Mas Fahri.

 [Dania, kamu harus hati-hati, katanya Mas Bagas melihat suami kamu selalu dijemput seorang wanita di kantor.] 

 Mataku terbelalak ketika membacanya. Wah, ternyata suaminya Kakak ipar juga sudah melihatnya? Baguslah. Aku ingin melihat mereka lebih memihak siapa, aku atau Ranti.

 [Bukannya Mas Fahri dan Mas Bagas satu kantor, berarti tahu, dong, wanita itu seperti apa?] 

 Aku sengaja mengirimkan pancingan kepada Mbak Mira, karena aku tidak yakin kalau mereka memang tidak tahu apapun.

 [Katanya enggak tahu. Karena beda divisi, Mas Bagas jadi tidak tahu lebih jelasnya. Kamu perhatikan saja gerak-gerik Fahri, ada yang mencurigakan, gak? Kalau Mas Bagas alhamdulillah aman. Kalau telponan juga sama yang namanya Ranto.] balasnya cepat dengan beberapa stiker kebahagiaan.

 Ranto? Kenapa namanya mirip Ranti?


Bersambung ....

 Wah, kok sama, cuman beda huruf "I" saja?
 
Next?


 Yuk follow

 
Subscribe, like, dan komen.

 Mampir juga di;

 1. Menyesal Usai Talak

 2. Hadiah Pernikahan Pembawa Petaka

 3. Keihklasan Cinta

 4. Ketika Istriku Tak Lagi Kerja

Dan yang lainnya, ya.


Terima kasih, love you all.