Bab 5

Alasan Lembur Suamiku Setiap Malam

 Mas Fahri tetap diam. Dia sepertinya belum menemukan alasan yang tepat untuk membohongiku, atau dia mungkin sudah tahu kalau aku tidak akan percaya lagi dengan apapun yang dia katakan.

 "Cepat jawab!" Aku mulai berteriak. Kesabaranku rasanya sudah habis, apalagi jika mengingat selama sepuluh tahun ini dia selalu berbohong.

 Mas Fahri masih diam. Andai anak-anak tidak ada, aku pasti sudah melampiaskan semuanya.

 "Ini yang kamu bilang sibuk selama sepuluh tahun ini?" tanyaku lagi sambil menatap matanya dengan penuh kebencian. Mata yang dulu memandangnya dengan penuh cinta dan kelembutan, kini tinggal tersisa hampa, dan kenangan yang pahit.

 "Jawab, Mas! Kenapa kamu hanya diam? Siapa wanita itu?" tanyaku berteriak. Mungkin saat ini anak-anak sudah mendengarnya, tapi semoga saja tidak. Di kamar, ada Mbak Lina yang baru bekerja kemarin untuk menjaga anak-anak kalau aku sibuk. Aku berharap dia bisa membuat anak-anak menjauh dark tempat kami sekarang.

 Kebetulan di kamar anak-anak juga ada pintu ke menuju ke taman belakang.

 Mas Fahri hanya terdiam. 

 "Menyuruhku buru-buru pulang ternyata hanya untuk ini, sia-sia jadinya kami pulang cepat kalau kamu hanya diam," desisku kesal, lalu pergi ke kamar.

 Siapa yang harus aku beritahu dengan apa yang terjadi hari ini, apa keluarganya Mas Fahri? Tapi apa mungkin mereka akan berpihak padaku daripada Mas Fahri? 

 Aku mengacak rambut frustasi setelah melepaskan jilbab. Kejadian hari ini benar-benar sangat mengguncang hatiku. Aku juga tidak dapat memendam semua ini sendiri, terlebih Mas Fahmi tidak mau mengaku.

 Baru saja aku hendak beranjak ke kamar mandi, ponselku berdering keras. Ink adalah dering pesan.

 [Mbak, ini aku yang tadi Mbak berikan sapu tangan.]

 Membaca kata sapu tangan, aku kembali teringat dengan kejadian yang tadi. Ah, ya, aku bisa mencari tahu semua tentang Mas Fahri yang belum aku ketahui dari wanita ini. 

 [Oh, iya, Mbak. Saya Dania, Nama Mbak siapa?] balasku mulai berbasa-basi, tapi tepat sasaran. Tanpa perlu bersusah payah, dia sudah menghubungiku lebih dulu.

 [Wah, Mbak, Dania. Salam kenal, Mbak. Aku Ranti.] Ia membalas dengan sangat cepat dan ini membuatku sangat senang.

 [Boleh saya tanya sesuatu? Niatnya mau tadi, tapi tidak enak.]

 [Tentu saja boleh, Mbak. Mau tanya apa?]

 Ranti sungguh sopan. Apa dia adalah kekasih gelap Mas Fahri atau istrinya juga?

 Ah, rasanya aku tidak siap untuk beberapa kemungkinan terburuk. Semoga saja tidak.

 [Suamimu kamu terlihat tidak asing, dia orang mana?] Aku langsung bertanya tentang Mas Fahri.

 [Masih dekat restoran tadi, Mbak. Cuman kalau aku orang kampungnya. Lebih tepat pinggiran, sih.]

 Dia tidak menyangkal, berarti benar kalau Ranti sudah menjadi istrinya Mas Fahri. Ya ampun, Mas, apa yang sudah kamu lakukan?

 [Sudah berapa lama kalian menikah? Anak-anak kalian lucu, ya.] Aku membalas dengan stiker hati.

 [Kalau pacaran sudah sekitar lima tahun, Mbak. Waktu aku masih bersama dengan suami yang dulu sampai anak yang paling kecil lahir, terus kami pisah. Mas Fahri langsung melamarku.] Ia membalas stiker ungkapan kebahagian.

 Lima tahun? Tega sekali kau membohongi aku selama ini, Mas?

 Aku langsung melemparkan ponselku ke dalam koper besar yang menjadi tempatku menyimpan barang-barang rahasia, lalu keluar untuk menuntut jawaban dari Mas Fahri. Namun, sebelumnya aku memastikan dulu anak-anak tidak ada di kamarnya.

 Setelah tahu anak-anak ada di taman, aku langsung menghampiri Mas Fahri yang ada di ruang tamu.

 "Bagaimana? Apa kau sudah bisa menjawabnya?" Aku berbicara dengan penuh penekanan sambil duduk di depannya.

 "Jawaban apa yang kau inginkan?" Mas Fahri mulai bicara, tapi hatiku kembali mendidih.

 "Jawaban apa kau bilang? Apa kau kehilangan ingatan sampai melupakan apa saja yang sudah aku tanyakan tadi?" teriakku dalam hati. Aku tidak ingin membuatku kalah sebelum mendapatkan penjelasan apapun. 

 "Siapa wanita tadi sebenarnya?" tanyaku mencoba untuk tetap anggun.

 "Dia pacarku," jawabnya percaya diri.

 "Kenal berapa lama?"

 "Belum lama. Belum ada satu bulan."

 "Apa kamu ada perasaan padanya?"

 "Dulu iya, sekarang enggak. Hatiku hanya untukmu dan anak-anak kita, Dania." Ia lagi-lagi menjawabnya dengan cepat dan berusaha untuk menggenggam tanganku, tapi aku segera menepisnya.

 "Mau sampai kapan kamu berbohong, Mas?" Aku mengepalkan kedua telapak tangan.

 "Aku menjawab jujur, Dania. Apa yang kau lihat itu bukanlah kebenarannya, jadi percayalah padaku," ucapnya menghiba.

 Brakkk ... aku menjatuhkan vas bunga yang ada di sampingnya dengan kaki sampai menimbulkan kegaduhan. Mas Fahri bahkan menatap tidak percaya ke arahku.

 "Aku tanya sekali lagi, ada hubungan apa di antara kalian, dan sudah berapa lama kalian saling mengenal?" Aku menatap nyalang ke arahnya.

 Rasanya kesabaranku sudah habis.

 "Aku sudah jawab, kita hanya pacaran biasa, Diana. Aku baru mengenalnya tidak lama dari hari ini. Kenapa kamu sampai emosi seperti itu?" bentaknya dengan disertai tatapan tajam.

"Bagaimana kalau perempuan itu sudah mengaku sebagai istrimu, Mas?" tanyaku membuatnya tidak percaya.

 "Jangan mengada-ngada! Tidak ada hubungan yang seperti itu di antara kami!" teriaknya tidak terima.

 "Ranti sendiri yang sudah mengatakan kepadaku kalau kalian sudah menikah, Mas," teriakku tanpa mempedulikan tatapannya yang melemah. "Mau sampai kapan kau bohong seperti ini? Sampai kita pisah?" Aku benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi.

 "Tidak, jangan katakan itu. Ranti sudah berbohong kepadamu, dia tidak akan mengatakan itu," tukasnya sambil mencari sesuatu di ponselnya dan berhenti di salah satu nomor.

 Mataku membulat sempurna ketika melihat kata demi kata yang diketiknya kepada sebuah kontak yang bernama Adam.

 Apa maksudnya?


 Bersambung ....


 Kira-kira nomor siapa itu, ya?


 Next? Yuk follow

 Subscribe


 Tap love


 Komen

 
 I love you all.