Bab 3

 Alasan Lembur Suamiku Setiap Malam

 "Biasa aja apanya sih, Mas? Apa jangan-jangan mata kamu sudah tidak berfungsi, ya?" Wanita itu terlihat sangat kesal. Jelas, semua mata pasti tahu bagaimana tampilan laki-laki yang kini duduk di depanku. 

 "Kania mau makan apa? Mau disiapin?" Laki-laki yang bernama Dino itu menawarkan diri kepada Kania. Gadis kecilku menggeleng pelan.

 "Kania hanya mau disuapi Papa," tolaknya halus.

 Dino menatapku untuk meminta penjelasan.

 "Nanti aku jelaskan, sekarang bukan waktu yang tepat," ucapku setengah berbisik.

 Dino mengangguk. Ia pun mengambil piring Kania dan memberikan suapan. "Papanya lagi sibuk, sama Om aja, ya?" ucapnya lembut.

 Kania kembali menggeleng. "Papa gak sibuk, itu Papa ada di sana," lirihnya pelan sambil menunjuk ke arah meja Mas Fahri yang sontak membuat Dino ikut menatap ke arahnya.

 "Sial*n. Apa yang sedang laki-laki itu lakukan di sana?" Dion sangat marah setelah melihatnya.

 "Seperti yang Om lihat, Papa sedang makan dengan seorang ibu, dan beberapa anak kecil."  Haikal berbisik dan membuat Dino terlihat semakin marah. "Maka dari itu aku mau minta izin sama Om, boleh gak kalau kita panggil Papa?" tanyanya membuatku terkejut.

 "Kamu gak perlu setuju kalau gak merasa nyaman." Aku menimpali. Selama ini aku selalu membuat Dino berada di posisi yang sulit, tapi dia tidak pernah menolak untuk membantuku sedikit pun.

 "Gapapa, aku tidak pernah merasa tidak nyaman jika itu berhubungan denganmu, dan juga anak-anak," jawabnya dan kami langsung mengucapkan terima kasih.

 "Kania Sayang, mulai sekarang kamu panggil Om dengan sebutan "Papa" saja, bagaimana?" Haikal berbisik di telinga Kania dan gadis itu langsung berubah drastis.

 "Beneran boleh?" tanyanya sambil menatapku untuk meminta izin.

 "Gapapa, Sayang. Om akan sangat senang kalau jadi Papa kalian." Dino mulai menunjukkan sikapnya yang kelewat percaya diri. Untunglah dia hanya suka menunjukkannya di hadapanku, entah bagaimana kalau yang lainnya melihat sikapnya yang seperti ini.

 Kania sontak berdiri. "Hore, akhirnya aku punya Papa," serunya membuat Mas Fahri dan semua orang yang ada di meja itu menatap ke arah kami.

 "Papanya keren, ya, Ma?" Anak-anak wanita itu ikut memuji ketampanan Dino dan itu membuat rahang Mas Fahri kembali mengeras.

 "Iya, tampan, gagah, ker—"

 "Cukup!" Mas Fahri berbicara dengan setengah berteriak membuat wanita itu menghentikan perkataannya.

 "Jangan puji laki-laki itu lagi, cepat habiskan makanan kalian, dan kita langsung pulang!" titahnya tajam dan hal itu membuat anak-anak yang ada di depannya kembali tidak bicara.

 "Pa, aku mau itu!" Kania menunjuk makanan yang ada di dekatku, tapi dia malah meminta tolong kepada Dino. Aku baru sadar, ternyata Kania sudah pintar membuat Mas Haris kebakaran jenggot.

 "Iya, Sayang." Dino mengusap puncak kepala Kania lembut dan matanya menatap ke arahku. "Sayang, Kania katanya mau makan itu."

 Aku terbelalak ketika mendengar Dino memanggilku dengan sebutan "Sayang", bahkan mata Mas Fahri secara terang-terangan menatap ke arah kami dengan tajam.

 "Ayo kita pulang!" Mas Fahri tiba-tiba berdiri dan hendak melangkah, tapi wanita itu menggenggam tangannya kembali.

 "Kamu gak kasihan sama anak-anak, Mas? Kasian mereka masih mau makan, mana makannya lahap banget," pintanya lembut.

 Melihat bagaimana cara anak-anak itu makan, aku bisa menarik kesimpulan kalau wanita itu dari kalangan biasa, tapi aku akui sikapnya sangat baik, dan tulus. Tidak seperti pelakor biasanya yang selalu liar dan tidak punya sopan santun. 

 Setelah melihat anak-ana yang ada di depannya makan dengan lahap, Mas Fahri mencoba menurunkan egonya, dan kembali duduk.

 "Papa, aku mau disuapi, maaf kalau tadi aku menolak Papa yang mau menyuapi. Aku maunya baru sekarang!" Kania kembali meminta hal yang tidak-tidak.

 "Boleh." Tanpa banyak bicara, Dino langsung melakukan apapun yang diminta Haikal dan juga Kania.

 Bahkan, kami juga pergi ke taman bermain yang kebetulan ada di belakang meja Mas Fahri. Kami berjalan santai melewatinya, tapi mata Mas Fahri tidak lepas dari kami dengan tatapan yang penuh emosi.

 Seolah mengatakan, "Aku yang seharusnya ada di sana, bukan laki-laki itu."

 Kami saling becanda dan tertawa bersama tanpa memperhatikan Mas Fahri dan yang lainnya. Ketika Kania dan Haikal sudah lelah bermain, kami kembali duduk di meja, dan memesan minuman segar.

 "Bagaimana, seru enggak?" tanya Dino kepada kedua anakku.

 "Seru banget, Pah, kapan-kapan kita main lagi ke sini, ya?" Kania menatap wajah Dino dengan penuh harap. Menurutku ini wajar, karena Mas Fahri tidak pernah ada di rumah selama anak-anak libur. Apalagi ketika mereka sekolah.

 "Siap, Tuan Putri. Apapun yang kalian inginkan, Papa akan langsung memberikannya tanpa ragu," jawab Dino sambil memeluk Kania juga Haikal dan mata yang menatapku.

 Kami sudah terlihat seperti keluarga bahagia.
 
 Baru saja aku mau ikut memeluk Kania, ponselku berdering sangat keras. Ternyata hanya sebuah pesan dari Mas Fahri.

 [Cepat pulang, ada banyak hal yang perlu kita bicarakan!]

 Harusnya aku yang berbicara begitu, bukan seorang laki-laki penipu seperti dia.


 Bersambung ....

 
 Wah, kayaknya bakal lebih sengit, nih.

 Jangan lupa follow

 Subscribe

 Tap love dan komen, ya agar part selanjutnya segera hadir.

 Mau update cepat atau lama?