Hari Pertama

Hari Senin, hari pertamaku masuk kerja. Grogi. Ini momen pertamaku bekerja lagi setelah 3 tahun lamanya tidak menyandang status sebagai pekerja kantoran. Dan terutama karena harus bertemu lagi dengan Galang setelah pertemuan tanpa sengaja tempo hari di acara reuni. Apa yang kira-kira akan dikatakannya nanti, apakah ia akan menganggapku melakukan penipuan? Huh entahlah.

“Biar kutemani sampai ke dalam” kata Arman sesampainya kami di Cafe Mentari.

Mungkin ia melihat kegugupan pada ekspresi wajahku. Di perjalanan pulang dari acara reuni kemarin, aku menceritakan semuanya. Perihal aku yang menggunakan kartu identitas lamaku untuk melamar kerja. Mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur melihat Galang bicara padaku dengan nada marah.

“Jangan!! Kau pikir aku anak kecil harus dianter masuk segala,” cegahku.

“Kalau bosmu marah, keluar saja, nanti akan kubantu mencari pekerjaan yang cocok buatmu.”

“Heem” hanya itu jawabku.

“Bahkan seharusnya, kamu tidak perlu bekerja, aku bisa menghidupimu dan Rania,” katanya lagi, lirih. Dia sudah tahu aku paling tidak suka jika dia berkata seperti itu.

“Terimakasih tumpangannya,” kataku lalu turun dari mobil.

“Tunggu!”

“Apa lagi sih?” aku urung menutup pintu.

“Pulang jam berapa?”

“Aku belum tau! Aku bisa pulang sendiri, kamu tidak perlu menjemputku.”

“Akan kujemput. Kabari jika urusanmu di kantor sudah selesai.”

Aku menutup pintu mobil. Sedikit keras. Kesal, karena dia tidak pernah mendengarkan perkataanku, selalu saja memutuskan hal yang berkaitan denganku secara sepihak, tanpa meminta persetujuanku.

Aku masuk ke Cafe sambil merapal doa dalam hati. Apa yang akan terjadi hari ini aku sudah menyiapkan diri. Mungkin aku akan dimarahi atau bahkan penerimaanku sebagai karyawan dibatalkan, aku pasrah.

Di depan pintu ruangan Pak Wira aku mendengar Galang bicara dengan nada kesal.

“Bang, dia udah nipu kita!”

Aku menimbang-nimbang apakah akan tetap menguping pembicaraan mereka sampai selesai atau mengetuk pintu.

“Tok-tok-tok”

Kuputuskan untuk mengetuk pintu, kalau ketahuan aku menguping pasti bakal kena masalah lagi. Apalagi sekarang juga sudah jam masuk kantor. Kalo gara-gara menguping aku jadi telat menghadap, penilainan mereka terhadapku akan makin buruk.

“Ya masuk!” suara Pak Wira terdengar dari dalam.

Aku membuka pintu, “Selamat pagi Pak Wira, Pak Galang.”

“Oh Nadia, mari masuk, dan silakan duduk,” Pak Wira menyambutku dengan ramah. Sementara Galang memandangku dengan tatapan sinis.

“Sekarang apa penjelasanmu?” tanya Galang tanpa basa-basi setelah aku duduk di kursi depan meja Pak Wira.

“Maaf Pak, bukannya saya mau menipu. Saya ngga bohong kok, status saya memang belum menikah. Saya...”

“Oh masih mengelak, lalu kemarin anak yang memanggi kamu mama?” Galang memotong pembicaranku, nada suaranya meninggi.

“Galang, biarkan dia selesai bicara!” Tegur Pak Wira. Galang diam. Meski Pak Wira bekerja untuknya sepertinya ia punya rasa segan terhadap Pak Wira.

“Silakan Nadia..” Pak Wira kembali memberiku kesempatan untuk bicara.

“Maksud saya, saya belum menikah lagi Pak, setelah suami saya meninggal empat bulan lalu. Saya ngga bohong kan. Saya ingin menunjukkan kompetensi saya Pak, beri saya kesempatan paling tidak satu bulan saja. Kalau ternyata kinerja saya mengecewakan, saya bersedia dipecat.”

“Baiklah Nadia, kita coba satu bulan ini bekerjasama,” kata Pak Wira bijaksana.

“Bang..” tapi nampaknya Galang tidak bisa menerima.

“Galang, mari kita beri kesempatan Nadia satu bulan ini. Lagipula kita sudah tidak punya waktu untuk recruitmen.”

Pak Wira berdiri dari tempat duduknya.

“Sekarang saya mau keluar dulu, ada janji dengan klien. Saya sudah minta chef masak semua menu kita untuk konten socmed. Nanti kalau sudah selesai difoto, makanan itu bisa dibagi-bagikan saja untuk karyawan yang masuk. Kalau kurang kamu bisa pesan lagi ke bagian dapur. Oke!”

“Baik pak!” jawabku dengan hati berbunga.

“Nadia, semangat ya, saya percaya kamu bisa.”

Pak Wira menepuk pundakku.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Melihat Pak WIra pergi sampai ujung pintu.

“Ngapain kamu lihatin Bang Wira terus? Naksir? Jatuh cinta? Dia udah punya anak istri ya!” ucapan Galang membuyarkan senyumanku.

 “Permisi Pak saya mau mulai bekerja,” aku berusaha tetap sopan di depan Galang. Kutahan-tahan amarahku. Sabar Nadia, paling juga besok dia balik ke planetnya, kamu ngga kan ketemu dia lagi.

“Ingat ya, saya tidak mau ada drama keluarga dibawa-bawa ke kantor. Telat ngantor karena anak rewel lah, atau apapun itu, saya tidak suka.”

“Baik Pak,” jawabku lalu pergi dari ruangan Pak Wira.

Semua menu cafe Mentari sudah berjejer rapi di meja. Aku memotretnya satu persatu dengan berbagai angle. Aku harus menabung content paling tidak untuk seminggu depan, kalau bisa sebulan.

Kulihat Galang tengah duduk di sudut cafe sambil memainkan gawainya.

“Permisi Pak,” aku menghampirinya.

“Saya harus memotret bapak dengan menu cafe kita.”

“Ya,” hanya itu jawabnya, tapi pandangannya tak beralih sedikitpun dari gawainya.

Aku meletakkan sepiring nasi goreng di depannya.

“Pak maaf, bapak bisa pegang sendok dan garpunya?”

Ia nampak kesal saat meletakkan gawai di meja dan beralih memegang sendok garpu.

“Pak, bisa noleh sedikit ke kanan Pak.”

Ia menuruti instruksiku.

“Pak, maaf noleh ke kanan, tapi tidak usah menghadap kamera.”

Galang menarik napas, nampak kesal.

“Senyum dikit pak.”

Ia tersenyum. Palsu.

“Jangan kebanyakan Pak, dikit aja!”

“Kamu itu bisa motret ngga sih?!”

Galang membanting sendok garpu di meja.

“Aduh Pak tadi udah bagus lho, tinggal kurangi senyum dikiit aja.”

“Kasih instruksi itu yang jelas, jangan sepotong-potong!” bentaknya.

“Maaf Pak.”

Galang mengambil kembali sendok dan garpu lalu berpose seperti yang kupinta.

CEKRAK-CEKREK, aku mengambil beberapa foto.

Setelah nasi goreng, aku meletakkan mie sapi lada hitam di mejanya, lalu spagheti, steak, sup iga, mashed potato, burger, roti bakar, dan aneka minuman. Kuminta ia berganti pose. Setelah duduk dengan menoleh ke kanan, kuminta ia duduk menghadap jendela, duduk sambil makan, berdiri, berjalan, kayang, koprol, eh ngga lah, bisa ngamuk dia nanti.

“Sekarang bapak pakai kostum chef ya,” aku memberikan dia celemek dan topi yang kupinjam dari dapur.

Ia menurut dengan wajah cemberut. Harusnya kuberi dia kostum drakula, sepertinya itu sangat cocok.

Akhirnya sesi foto selesai. Aku bernapas lega.

Sebelum membagi-bagikan makanan ke karyawan, aku menawarkannya lebih dulu pada Galang.

“Bapak mau makan yang mana?”

“Tidak mau. Makanan udah ngga fresh, kena debu di bawa ke mana-mana gitu, kamu kasih ke saya.”

“Baik Pak, kalo gitu saya bagikan ke karyawan.”

Setelah memastikan semuanya kebagian, aku lantas mencari meja kosong yang jauh dari tempat Galang duduk untuk menikmati makanan bagianku.

“Hmmm enak rasanya. Pak Wira ngga salah nih milih tukang masak,” batinku.

Baru aku hendak menikmati suapan kedua, Galang muncul di depanku.

“Makanan saya mana?”

Uhuk, aku hampir tersedak.

Aku mendongak ke arahnya “Lho tadi bapak ditawarin ngga mau.”

“Pesankan yang baru dong. Kamu ini gimana sih. Attitude pada atasan saja harus diajari!”

“Baik Pak,” dengan terpaksa aku berdiri meninggalkan mejaku menuju dapur.

Setelah memesan makanan aku kembali ke meja. Kulihat Galang menikmati makananku dengan lahap.

“Lho Pak makanan saya...” kataku terbata.

Galang menelan makanan di mulutnya.

“Apa? Makanan kamu?”

“Heh ini cafe saya, semua yang ada di sini milik saya.”

“Tapi katanya bapak tadi ngga mau makanan ini,” aku menunjuk mie sapi lada hitamku yang tinggal separo.

“Nungguin makanannya matang, saya bisa mati kelaparan. Kamu mau bunuh saya ya, gara-gara kesal saya marahi tadi?”

Oh my God, nyari duit kok gini amat yak!


---Bersambung---

Subscribe, love dan komen yaa biar author tambah semangat melanjutkan cerita 💪🏻💪🏻