Menikah Lagi?
“Mama.. kenapa Papa tidur di sana?” tanya Rania sambil menunjuk gundukan tanah dengan papan nisan bertuliskan Arya Wiratama Bin Sunaryo.

Aku menghela napas, kupandangi wajah Rania, iba. Belum genap tiga tahun usianya dan harus menjadi yatim.

“Karena Alloh sudah memanggil Papa Nak,” kataku sambil menabur sisa bunga yang masih kugenggam. Setelah suamiku meninggal, baru kali ini aku datang ke makamnya, saat masa iddahku selesai. Di daerahku, tak lazim wanita ikut datang ke prosesi pemakaman, sekalipun ke pemakaman suaminya sendiri. 

Rania masih memandangi makam Papanya, kupeluk ia erat “Ran, kangen Papa?”

Rania mengangguk.

“Kalau begitu kita doakan Papa yuk, supaya baik-baik di dalam sana. Dan kita bisa ketemu Papa lagi nanti di surga”

“Kita bisa ketemu Papa lagi?” tanyanya dengan mata berbinar.

“Bisa dong.. Yuk kita berdoa,” kubimbing ia menengadahkan kedua tangan mungilnya.

“Robbighfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbaya nii shoghiiro..”

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Aku menengadah, menengok langit. Mendung, gelap sekali. Padahal waktu berangkat dari rumah Mama tadi, masih cerah.

Sejurus kemudian hujan turun, langsung deras. Aku berusaha melindungi kepala Rania dengan tanganku. Sama sekali tak terpikir membawa payung tadi. 

“Ayo Ran kita pulang,” buru-buru aku menggendong Rania. Kepalanya kudekap di dadaku.

Tiba-tiba hujan berhenti. Hah secepat itu? Aku menengok lagi ke langit. Payung? Siapa yang...

“Pamaan!” teriak Rania begitu melihat Pamannya, Arman, datang dengan membawa dua buah payung. Satu payung terbuka di atas kepala kami, dan satunya masih terlipat rapi.

“Bukankah sudah kubilang, tunggu aku pulang,” katanya datar namun terdengar marah.

Tidak terlalu kaget sih. Sehari-hari adik suamiku ini pembawaannya dingin, cenderung tidak bicara jika tak perlu. Selama hampir empat tahun aku menjadi kakak iparnya, kami hanya berbicara satu dua kalimat saja, seperlunya. Sebenarnya aku tipikal orang yang mudah akrab dengan orang lain, tapi melihat pembawaan Arman yang seperti ini aku jadi sungkan  mau mengajaknya ngobrol panjang lebar.

“Bukannya sudah kubilang juga tak perlu repot menjemputku? Aku bisa pergi sendiri.” Jawabku ketus. Ya aku tahu maksudnya baik, tapi lancang sekali dia, marah padaku, kakak iparnya. Eh mantan.

“Bagaimana kalau Rania sakit karena kehujanan? Ceroboh!” Arman membuka payung yang masih terlipat rapi, lalu menyerahkannya padaku.

“Ayo Ran, ikut Paman,” katanya lagi sembari mengambil alih Rania dari gendonganku.

Sampai di depan mobil, Arman menurunkan Rania, membuka pintu mobil, dan mempersilakanku masuk

“Masuk!” hemm lebih terdengar seperti memerintah. Tapi aku menurut saja. Malas berdebat dengannya.

Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Untung ada Rania yang mencairkan suasana. Sambil tetap fokus menyetir, Arman ikut bernyanyi bersama Rania dan selalu menanggapi ocehannya yang lucu. Aneh memang. Sedingin-dinginnya adik iparku ini, ntah kenapa jika bersama Rania, sifatnya bisa berubah 180 derajat.

“Hei kita mau ke mana?” tanyaku ketika menyadari Arman salah mengambil jalan. Jalan ini berlawanan arah dengan jalan menuju rumahku.

“Ke rumah Mama.”

“Tapi.. baru sejam yang lalu kan aku berangkat dari rumah Mama ke makam. Aku juga sudah pamitan pada Mama. Kenapa..”

“Ada yang mau Mama sampaikan. Setelah itu kuantar pulang.” Jawabnya datar, seperti biasa.

Ada yang mau disampaikan? Kenapa tiba-tiba? Apakah serius? 

“Apa.. Mama masih bersikeras mengajakku dan Rania tinggal di rumah?" Belakangan ini Mama memang sering membahas tentang  ini. Mama selalu bilang, aku sudah dianggapnya sebagai anak, jadi meski Mas Arya telah tiada, Mama memintaku tetap tinggal. Apalagi ada Rania, cucu kandung yang sangat disayangi dan dimanjakannya.

“Atau..." tiba-tiba aku teringat sesuatu.

"Oh iya, apa mungkin untuk membicarakan acara lamaranmu yang tertunda dengan Sheila?"

Sheila adalah teman kantor sekaligus calon istri Arman. Acara lamaran mereka seharusnya sudah dilakukan beberapa bulan lalu, tapi karena insiden yang dialami mas Arya, acara itu ditunda dan sampai sekarang belum dijadwalkan ulang.

"Aku sampai lupa belum menjahitkan kain seragam dari Mama. Ah coba kuhubungi tukang jahit langgananku dulu ya," ocehku sambil mengeluarkan ponsel dari tas.

Arman merebut ponselku dan memasukkan ke kantong kemejanya, "Sok tahu!"

"Sudah. Jangan bahas soal itu lagi!"

Aku menoleh ke arahnya, kepo, kenapa dia semarah itu. "Eh? Kalian lagi ada masalah? Atau.. mmm kena syndrom pra nikah ya?"

Tanpa menunggu jawabannya aku melanjutkan bicara, "Oh itu sih biasa, dulu aku sama mas Arya pas mau nikah juga sempet gitu, tiba-tiba adaa aja yang bikin ragu. Kita pernah..."

Ccciiit...

"Hah ada apa? Kamu mau mampir ke minimarket?" tanyaku, cukup kaget saat mobil tiba-tiba berhenti.

"Udah ngomongnya?" Arman bertanya tanpa sedikitpun melihat ke arahku.

"Sudah kubilang, aku lagi tidak ingin membahas tentang pernikahan. Titik."

Ish! Aku mendengus kesal.

"Paman sama Mama kok berantem sih?" pertanyaan Rania yang polos dengan nada suaranya yang lucu bikin rasa kesalku mereda.

"Ngga berantem kok sayang."

"Pamanmu aja tuh kalo ngomong sukanya ngegas. Lembut dikit napa?" kataku lirih tapi aku yakin dia pasti dengar.

*********

Mobil menepi di depan rumah Mama. Mama tergopoh-gopoh keluar rumah. Meyambut aku dan Rania dengan raut muka bahagia, seperti biasa. 

“Rania... cucu oma..” Mama membentangkan tangannya begitu melihat Rania turun dari mobil.

Rania lari ke pelukan omanya "Oma....!" 

“Assalamualaikum Ma..” sapaku sambil mencium punggung tangan Mama.

Mama mencium pipi kanan kiriku, “Waalaikum salam, ayo masuk Nadia, Maaf ya, Mama suruh Arman bawa kamu ke sini lagi.”

Arman menaikkan Rania ke bahunya, “Ayo Ran, kita kasih makan ikan di belakang."

“Yeaayyyy” Rania bersorak gembira.

“Lihat Nadia, Arman begitu sayang pada Rania,” kata Mama, sambil membimbingku masuk ke dalam rumah. Aku hanya tersenyum. Dari dulu, Arman yang kaku, yang pelit senyum dan kata-kata itu memang sangat dekat dengan Rania. Tiap pulang dari luar kota pasti membawa oleh-oleh mainan atau makanan favorit Rania.

“Mama ingin bicara denganmu,” kata Mama ketika kami sama-sama sudah duduk di ruang tengah.

“Dan Arman..” lanjutnya.

Bi Inah lalu menggantikan Arman menemani Rania.

“Mama memanggilku?” tanya Arman.

“Ya... Nadia, Arman, Mama ingin bicara,” ucapan Mama kali ini terdengar tak biasa, serius dan sangat berhati-hati.

“Bagaimana, kalau kalian..” Mama menatapku dan Arman bergantian.

“...MENIKAH?”

-Bersambung-