02
Jangan lupa subs dan rate sebelum baca ya Kak. Tap love dan tinggalkan jejak. Thank you. ❤🙏



🌼Memakai Pembalut🌼


Melihat apa yang terjadi pada Lita, Prita berlari mendekat. Ia memeluk Lita yang masih berusaha menghindar. 

“Jangan takut, sekarang ibu paham apa yang terjadi. Kamu sudah dewasa, Nak.” Ada keharuan yang tumpah di tengah-tengah mereka berdua. Pun dalam hati guru itu. Prita tak kuasa menahan lagi rasa haru bercampur sedih. Ia peluk erat tubuh Lita. Tangannya pun terulur mengusap kepala anak itu. 

“Boleh ibu masuk ke dalam?” tanya  Prita meminta persetujuan muridnya. Namun, Lita masih belum menjawab apa-apa. “Ibu takkan masuk ke kamar ibumu, Nak.” 

Lita masih merasa tidak enak, pertama kali gurunya ke rumah, saat itu sedang ada bibi yang sedang membersihkan tubuh Laksmi. Entah apa yang ada di pikiran wanita istimewa itu, tubuh Prita langsung diserang. Ada banyak luka di wajah juga baju yang nampak robek. Lita takut kejadian dulu kembali terulang. 

“Ibu gak takut? Ibuku bisa nyerang kapan saja jika ada orang asing, Bu.” 

“Ibu akan hati-hati, lagian kamarnya dikunci kan dari luar?”

"Iya, Bu. Tapi kadang tenaga ibuku sangat kuat. Bisa saja mendobrak-dobrak kalau merasa terganggu.

"Insyallah, tidak, Nak. Boleh ibu masuk?" Sekali lagi Prita bertanya. 

Akhirnya meski terlihat terpaksa, gadis belia itu mengangguk, mempersilahkan gurunya masuk. 

“Maaf rumahnya belum sempet diberesin, Bu.”

“Ga papa, Nak.”

Rumah laksmi memang hanya ada dua kamar tidur, ruang depan dan dapur kecil dengan kamar mandi di sampingnya. Luas keseluruhan sekitar 40 meter saja. Sangat kecil dan agak pengap. 

Prita duduk lesehan di tikar ruang depan, sementara Lita melangkah ke dapur. Tak lama satu gelas air putih sudah tersaji di depan guru wanita yang masih nampak anggun meski usianya sudah hampir 40 tahun.

Nampak Lita masih berdiri mematung, ia bingung, apa harus duduk dan berdekatan dengan gurunya. Sementara bau cairan yang masih terus mengalir itu sangat anyir. 

“Duduklah, ibu mau kasih sesuatu.” Prita menepuk karpet persis di sampingnya.

"Bau, Bu," jawab Lita cepat.

Prita berdiri, dengan tangannya membimbing Lita untuk duduk di sampingnya. Setelah duduk, ia membuka tas cangklong.

“Ini.” Bungkusan kotak panjang berwarna pink diangkat Priska. “kamu tau ini?” Lita mengangguk. 

Sebenarnya bukan hal yang asing pembalut bagi Gulita. Ketika Laksmi masih sehat, seringkali wanita itu menyuruh anaknya membeli ke warung. Namun, entah mengapa ketika Lita sendiri yang mengalaminya. Ia merasa malu. Seperti takut orang-orang mengatainya. Belum lagi, beberapa temen Lita banyak yang belum haid.

“Ada celana yang masih bersih?” tanya Prita. 

“Ada, Bu. Lita ambil dulu.”

Dengan tergesah Lita berlari ke kamar. Setelah sampai, matanya mengarah ke tumpukan baju yang belum sempat dilipat. Mengambil celananya yang sudah terlihat pudar. Menyingkap hordeng pintu ia kembali ke depan. 

“Eeeuumm, anuu Bu. Malu.” Wajahnya terlihat memerah, sementara celana dala* masih ia genggam erat.

“Eh kata siapa belajar harus malu. Ini termasuk pengetahuan lho, Ta,” cerocos Prita. Ia paham, banyak dari remaja yang sensitive ketika pertama haid.

Mungkin mereka berpikir saat haid  tubuhnya akan dianggap kotor, belum lagi nanti para teman pasti mengucilkan. Mengolok karena tidak boleh sholat di musolah. Mengatai karena tak lagi bisa ikutan mengaji di Pak Ustadz.

"Mau ibu ceritain enggak pas ibu dulu haid?" tanya Prita, Lita pun menggangguk. "Dulu, pas ibu haid pas itu lagi bulan puasa. Temen-temen ibu pada nanya, kok kenapa gak sholat tarawih? Ibu jawab aja salatnya di masjid. Ibu juga malu kaya kamu, Lita. Tapi, lama-lama temen ibu curiga. Masa iya ada mushola deket malah memilih masjid yang jauh. Akhirnya ibu ketahuan, karena temen membuntuti ibu. Ternyata ibu gak ke mesjid."

"Trus Ibu bilang apa?" Lita nampak penasaran. 

"Ibu bilang terus terang. Dan beruntungnya temen-temen ibu paham. Mereka juga kan sama nanti kaya Lita. Bakalan masuk masa haid. Masa dimana kita sudah aqil baligh. Artinya kita sudah punya tanggung jawab dengan Tuhan. Makanya, Lita jangan malu ya. Besok ibu tunggu di sekolah."

Lita mengangguk paham.

Dulu bapaknya juga pernah bilang. Jika sudah haid kita berarti sudah wajib buat sholat. Gak boleh ditinggal meski kita lagi sakit sekalipun. Tapi ... benak Lita bertanya kalau kita saja tidak bisa meninggalkan sholat, kenapa bapak meninggalkan Lita dan ibunya? Mendadak sorot mata Lita memburam. Ada kesedihan yang terpancar di matanya.

"Ibu pasangin ya, pembalutnya. Lita lihat!" Lamunan Lita seketika menghilang.

Tangan Prita mengambil celana dala* dari tangan Lita. Kemudian menjembrengnya di tikar, setelah dirasa pas, ia lepas kertas yang ada di pembalut menempelkannya di atas celana. 

"Pake!" perintah Prita sambil tersenyum. Lita pun dengan semangat mengambil dan masuk ke kamar mandi.

"Sudah, Bu!" Wajah Lita nampak cerah.

"Nah, besok pas sekolah juga Lita pakai aja ya. Ga usah malu. Dan pesan ibu satu. Mulai jaga jarak dengan lawan jenis ya. Karena Lita sekarang sudah dewasa." Prita menepuk-nepuk pundak Lita yang nampak malu-malu.

"Lita paham kok, Bu. Makasih, Ibu." Dengan spontan Lita memeluk gurunya. "Kalau gak ada Ibu, Lita bingung mau tanya siapa. Bibi kebetulan belum ke sini dari pagi. 

"Bu Laksmi sudah makan?" 

"Sudah, tadi ada kiriman dari tetangga, Bu."

"Lita, apa ga mau dibawa ke RS saja ibunya? Kan ada kartu BPJS?" tanya Prita hati-hati. Namun, Lita langsung menggeleng.

"Kalau ibuku dirawat di RS. Lita sama siapa, Bu." Mata gadis belia itu menatap Prita. Ada permohonan di sana. Ada rasa takut dari pancaran beningnya. Lita kemudian menundukkan kepala. Membuat Prita tak bisa lagi menahan cairan bening.  "Biarin aja, Bu. Lagian sama Lita ibuku ga pernah berontak, ibu sayang sama Lita kok, Bu." 

"Sabar, ya Nak. Ibu juga sayang Lita. Kita bicarakan lagi besok."

Setelahnya Prita pamit. Terkadang Prita ingin sekali membawa Lita ke rumah, ingin menganggapnya sebagai anak. Namun, ada banyak halangan. Hingga ia terpaksa membiarkan Lita sementara bersama ibunya. Dalam hati Prita selalu mendoakan, semoga suatu saat Lita mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari orang tuanya.