03
🌼Jilbab pertama ke sekolah🌼

Hari ini, hari kedua haid bagi Lita. Sesuai instruksi dari gurunya kemarin, Lita mantap pergi ke sekolah. Awalnya ragu, tapi akhirnya semua itu kalah dengan kesungguhannya untuk tidak lagi meninggalkan sekolah. 

Ada yang berbeda dari penampilan Gulita. Entah dorongan dari mana, Lita yang sekarang sudah kelas 6 SD pergi ke sekolah dengan menggunakan kerudung. Padahal, Bu Prita tak menyuruh Lita untuk mengenakan hijab.

"Wah, kamu cantik, Lit!" puji temen sekelasnya. 

Karena pujian barusan, wajah Lita memerah. Dua tangan Lita memilin kerudungnya, menahan malu. 

Padahal jika dilihat, Lita hanya mengenakan jilbab putih warisan ibunya yang sudah mulai kusam warnanya dan ada noda bekas karet. Namun, entah mengapa tetap manis ketika dipakai Gulita. 

"Makasi." Lita membalas dengan senyumnya yang tulus. 

"Kok kemarin gak berangkat, kenapa Lit?" Lagi murid laki-laki itu bertanya. Lita terlihat salah tingkah.

"Euumm, anu ... aku ga enak badan," jawab gadis belia itu sedikit berbohong. 

Memang Lita bukan sakit badannya, namun perutnya agak sakit karena haid pertama. Untung saja hanya di hari pertama saja. Mereka berdua kemudian masuk kelas dan duduk di bangku masing-masing. Lita di bangku depan, sementara temennya di paling belakang. 

Suasana sekolah masih sangat sepi. Hanya ada beberapa teman saja yang sudah datang. Dari tempatnya duduk, teman laki-laki yang barusan bertanya diam-diam memperhatikan Gulita. Ada yang aneh pikirnya. Lita yang ia kenal sangat tomboy, males ribet. Dan sekarang pakai jilbab? Apa gak berlebihan? Bahkan teman sekelasnya belum ada yang menggunakan jilbab pas sekolah.

Meski tidak begitu akrab, prestasi Gulita di sekolah mau tidak mau membuat nama Lita cukup dikenal. Apalagi selama kelas lima dan enam mereka berdua satu kelas. 

Sementara dari bangku tempatnya duduk, Lita menahan cemas. Ia takut selama belajar nanti, gurunya menyuruh Lita menulis di papan tulis. Belum lagi, pikiran akan tembus di roknya. Perasaan itu membuat Lita gelisah. Ingin sekali melewati harinya dengan cepat. 

"Huuff." Lita mencoba menarik nafas. Mengurangi pikirannya yang tidak-tidak.

Akhirnya setelah hampir lima jam di kelas. Sudah waktunya bagi Lita pulang. Lita berkali-kali mengucap syukur dalam hati, bahwa tidak ada kejadian yang memalukan baginya hari ini.

"Lita dan Fajar jangan pulang dulu ya." Bu Prita--wali kelasnya berpesan. Ia masih sibuk membereskan kertas ujian.

Lita bahkan lupa. Kalau memang hari ini ada ujian. Kalau begitu ngapain dia tadi gelisah, pikirnya. Membuang waktunya saja.

"Iya, bu. Ada apa ya, Bu?" tanya Fajar yang duduk di bangku belakang.

"Bantuin ibu cek absensi kelas dan nilai harian."

"Oke, Bu," jawab mereka berdua serempak.

Setelah selesai membantu gurunya. Kini waktunya bagi Lita dan Fajar pulang. Sudah hampir jam 12.00 wib. Adzan Dhuhur pun sudah berkumandang sejak beberapa menit yang lalu.

"Assalamu'alaikum?" pamit Lita sembari mencium tangan Prita. 

Fajar mengikuti dari belakang. Tapi, ada yang aneh dari penglihatan Fajar. Kenapa rok Lita yang putih tercetak warna merah di sana. Seperti darah. 

Fajar bergegas menyusul langkah kaki Lita yang agak cepat. Ia harus menanyakan apa yang terjadi pada teman sekelasnya.

"Lit, tunggu!" panggil Fajar dari belakang. Lita tak mendengar.

Dengan seribu langkah, Fajar mengejar Lita si anak tomboy. Jika bagi sebagian orang anak perempuan itu harus anggun, berbeda dengan Lita. Gerak geriknya mirip anak laki-laki.

"LIIIT!!!" panggil Fajar lebih kencang.

"Fajar! Jangan tarik kerudungku! Nanti lepas!" protes Lita marah. Ia sebel dengan tingkah Fajar barusan.

"Rokmu ada darah, Lit!" Dengan spontan Fajar berucap.

"Masa?" Mata Lita membesar sempurna. Ia terlalu kaget. 

Seketika itu juga tangan Lita langsung menutupi roknya. Tubuh Lita muter sana-sini agar Fajar tak melihatnya. 

"Hey! Kamu kok salah tingkah gitu? Tetep keliatan, Lit. Sini aku bantu!" 

Fajar melepas jaket ditubuhnya. Untung saja hari ini ia memakai jacket. Karena memang Fajar ke sekolah menggunakan sepeda dan jarak rumahnya lebih jauh dari pada rumah Gulita yang bisa ditempuh dengan jalan kaki.

"Aku ambil sepeda dulu. Jacketnya bawa aja, Lit!" Fajar pamit lalu meninggalkan Lita begitu saja.

'Untung saja Fajar gak nanya macem-macem,' batin Lita mengucap syukur. 


***

Sesampainya di rumah, Lita menaruh tas dan melepas kerudungnya di kamar. Kemudian menuju dapur. Ia mengangkat tudung saji, ada makanan yang sudah bibinya siapkan untuk Lita dan Laksmi. 

Sebelum menyuapi ibunya di kamar. Ia mengganti baju dan merendam roknya yang terkena darah di kamar mandi. Setelahnya membersihkan dan mengganti pembalut baru. 

Ia kembali teringat kejadian bersama temannya Fajar. "Duh, bisa-bisanya aku tembus!" Lita berbicara sendiri.

Kini Lita sudah berdua di kamar ibunya. Meski ruangannya sedikit kotor, Lita sama sekali tidak jijik. Baginya mengurus ibunya ada hal yang menyenangkan. Terkadang ia bisa bercerita banyak dengan Laksmi. Tentang sekolahnya juga tentang apa saja yang ia ingin bagi bersama ibu malang itu. 

"Aa, Bu." 

Mulut Laksmi langsung terbuka. Satu suapan berhasil masuk. Pandangan oLaksmi hanya ke arah pojok kamarnya, tanpa memandang anak kandungnya. Lita tak ambil pusing asalkan ibunya tak berontak. 

"Bu. Tadi Lita tembus pas di sekolah. Untung aja cuma ada satu temen yang liat. Kalau enggak Lita malu banget, Bu."

Lita bercerita dengan semangat. Tak pernah menganggap ibunya gila. Ia selalu punya keyakinan, kalau ibunya hanya sakit. Suatu saat ibunya sembuh. 

"Aa, Bu!" perintah Lita langsung diikuti dengan mulut Laksmi yang terbuka. 

"Oya, Bu. Hari ini Lita pakai kerudung ke sekolah. Lita masih inget kata bapak, kalau Lita sudah haid, Lita harus pake kerudung. Lita kangen bapak, Bu." 

Mendadak suasana kamar ibunya menjadi senyap. Bahkan satu suapan sudah tak lagi ditanggapi oleh ibunya. Hanya genangan air mata yang keluar di pelupuk mata Laksmi. Ibunya yang dianggap orang-orang gila itu seperti paham apa yang diceritakan puterinya.

Melihat orang yang dia cintai menangis, Lita dengan kuat meraih tubuh ibunya. Memeluknya, mendekapnya kuat-kuat. Ia sama sekali tak ingin membuat ibunya sedih. 

"Makan lagi ya, Bu. Maafin Lita. Lita hanya kangen bapak." 

Ibunya bergeming hanya memandangi mata anaknya tak suka. Kemudian berdiri, melangkah dan meringkuk dengan posisi punggung membelakangi Lita.

Seketika itu juga tangis gadis itu pecah. Tak seharusnya ia membuat ibunya sedih, tak seharusnya ia membuat ibunya mengingat sesuatu yang membuatnya sakit. Serapuh itu ibunya ketika Lita menyebut bapak. Serapuh itu hati dan perasaan ibunya kini. 

"Maafkan Lita, Bu. Lita janji akan bawa bapak buat Ibu."