04
Bismillah. 
Dukung ceritaku ya, tap love dan komen. Terima kasih. Follow juga IG: @mayleenaisy FB : Mayleen Aisy

🌼 Kain Pembalut Jatuh!!! 🌼

Hujan turun begitu lebat. Mendadak rumah yang tadi siang cukup panas, kini udaranya terasa sangat dingin. 

Lita seperti sedang dimanjakan, ia terbuai dalam alam mimpi yang begitu panjang, hingga tak sadar sudah hampir waktu Isya dia belum juga terbangun dari tidur siangnya. 

Suasana rumah masih dalam kondisi gelap. Tak ada satupun lampu yang sudah menyala.

"Brugh! Brugh! Brugh!" Laksmi mulai gaduh. Pintu kamar terlihat goyang-goyang. "Aaaaaa!!! Brugh! Brugh! Braaakk!!!" Pintu itu akhirnya tumbang juga. 

Bagaimana tidak, pintu yang dipakai hanya triplek tipis. Sementara kuncinya hanya tali yang dililit. Bagaimana pun tenaga Laksmi jauh lebih kuat untuk melepas itu, apalagi jika amarahnya tidak bisa dikontrol.

Sedari tadi dia menjerit, meraung, bahkan menangis. Namun, tak ada tanda-tanda Lita datang menghampiri Laksmi. Gadis itu masih tertidur pulas.

Dalam kegelapan, mata Laksmi memicing mencoba meraih apa saja yang tersentuh tangan Laksmi. Berlanjut, ia mulai membanting-banting barang yang ada di ruang depan. 

Hembusan nafas kasar Laksmi sangat kentara. Amarahnya jelas sekali sedang mengubun.

Sementara, Lita menggeliat ketika telinganya mendengar suara-suara aneh yang begitu keras. Perlahan, kelopak matanya terbuka. 

"Duh! Gelap. Aku ketiduran lama," gumam Lita sendiri.

Gadis itu beranjak dari kasurnya. Pelan-pelan  tangannya mencari saklar untuk menghidupkan lampu kamarnya. Lita hendak ke kamar ibunya, namun suara barang-barang jatuh langsung membuatnya menghentikan langkah. Ia memilih ke ruang depan mencari ibunya.

"IBU HENTIKAN!!!" Lampu sudah Lita nyalakan. Kini ia bisa melihat bahwa ibunya keluar dari kamar. Ia menarik nafas panjang. 

Laksmi menoleh ke arah puterinya. Nafasnya naik turun, sepertinya ia sangat marah. Tangannya masih saja mencari-cari barang untuk meluapkan amarahnya.

"IBU MAU DIAM ATAU LITA TINGGALIN IBU SENDIRI!!!"

Kalimat Lita barusan seperti magnet bagi Laksmi. Begitu terlontar, otaknya langsung merespon. 

Tubuh Laksmi kini duduk sembarang setelah menghentikan amukannya. Ia sekilas menatap puterinya. Entah tatapan apa, namun cukup membuat hati Lita tercabik. Wanita itu seperti ketakutan, kini kedua tangannya memeluk lutut kemudian menenggelamkan kepalanya di sana.

Bukan Lita tak sayang pada ibunya. Namun, apa yang Laksmi lakukan bisa saja melukai dirinya sendiri. Lita cukup paham, ibunya akan takut ketika Lita mengancam akan pergi. 

Lita mendekati Laksmi. Ia peluk ibunya dengan hati-hati. 

"Lita ambilin Ibu makan ya." Gadis belia itu paham, pasti ibunya sangat lapar. "Maaf Lita ketiduran," sesal Lita pada ibunya. 

Posisi Laksmi masih menenggelamkan kepala di lututnya. Tanpa menunggu persetujuan, Lita berlalu ke arah dapur. Mengambil nasi yang tersisa tadi siang.

***

Dalam keresahan yang luar biasa, Lita tak lagi mempunyai pilihan. Pembalut yang diberikan Bu Prita sudah habis. Jika Lita membelinya, berarti uang yang diberikan bibinya akan terpakai. Sementara ada buku yang harus Lita beli untuk tugas kelompoknya. Lita bahkan tak sempat bercerita pada bibinya, jika ia kini sudah haid. 

Lita sama sekali tidak mau membebani bibinya. Selama ini hanya bibinya yang masih berbesar hati mengurusi Laksmi dan Lita. Meski sejujurnya kehidupan bibinya itu jauh dari kata cukup.

Bibinya hanya lulusan SD. Kerjaannya sekarang menjadi buruh tani. Setiap hari upah yang didapat bibinya itu hanya kisaran 40.000 saja. Itu pun harus berbagi dengan Laksmi, kakaknya. 

Terkadang Lita ingin sekali membantu meringankan beban bibinya. Namun, bibi Lita itu sangat menginginkan Lita menjadi seorang yang sukses. 

"Buktiin sama bapakmu, tanpa dia kita bisa sukses." Nasehat bibi Lita saat itu. 

Ratih merasa sakit hatinya, ketika mengingat kembali kakaknya gila disebabkan karena ditinggalkan suami. Bahkan jika Wawan tiba-tiba datang untuk menjenguk anaknya, ia akan larang. Ia pasti akan mengusirnya. Sakit hatinya takkan bisa diobati, bagi Ratih hanya laki-laki tak punya hati yang bisa meninggalkan anak dan istrinya, meski tahu orang yang ditinggalkannya begitu menderita.

"Duh gimana ya. Kalau pakai kain? Apa aman?" Gadis itu kembali berpikir ulang. 

"Tapi, dari pada gak pake apa-apa? Mending dicoba, apa salahnya." 

Setelah memikirkan berulang kali, Lita hari ini bersekolah dengan memakai pembalut dari kain. Ia merobek kain yang sudah tak terpakai, kemudian ia lipat rapih. Tak ada alasan lagu baginya untuk tidak berangkat, beruntung hari ke-4 haid darah yang keluar tidak terlalu banyak.

Kegiatan di sekolah hari ini masih sama dengan hari kemarin yaitu masih ada ujian. Lita sudah selesai dan menanti jam istirahat datang. Sembari menunggu, ia kembali memeriksa hasil jawabannya. Takutnya masih ada yang keliru.

Jam istirahat Lita gunakan untuk ke kamar mandi. Sedari pagi, Lita merasakan tidak nyaman pada sesuatu yang ada dibawah sana. 

"Lit! Bentar deh. Itu apa?" tanya Namira. Teman sebangku Lita. 

"Apa si, Mir?" Lita menjawab malas. Niatnua mau ke kamar mandi harus terulur karena Namira.

"Itu di bawah bangku kamu. Coba liat ke bawah! Jijik tau." Namira begidik tubuhnya. Sepertinya apa yang ia lihat barusan membuatnya mual.

Karena sangat penasaran, setelah kepergian Namira, Lita mencoba menengok ke arah bawa bangkunya. "Hah? Gimana ini?" Lita menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Sementara jantungnya seperti tengah dikejar-kejar maling. 

"Kainnya lepas, darahnya banyak. Aduh." 

Lita semakin gelisah, meski pun belum ada teman lain yang tahu kecuali Namira. Tetap saja dia tak bisa lagi menghindar. 

Niatnya untuk ke kamar mandi sementara ia urungkan. Lita mengambil kresek dari tas sekolahnya, kemudian memasukkan kain yang sudah dipenuhi darah itu dengan cepat. 

"Lit! Mana kainnya temen-temen mau liat!" Namira penasaran dan beberapa temannya menghampiri.

"Ada apaan sih!" tanya Fajar menghampiri kerumunan teman-temannya di meja Namiran dan Lita.

"Tadi ada kain berdarah! Tapu sekarang ...."

"Eh, diluar ada atraksi monyet lho. Keren banget. Bagi yang bisa ajakin monyet main dan bisa senyum dapet hadiah uang!" Fajar memotong ucapan Namira barusan. Sontak membuat semua teman yang barusan berkerumun, kini menghambur ke luar. Mencari atraksi monyet seperti yang dikatakan Fajar.

"Kamu mau pulang atau nunggu jam selesai? Kalau pulang aku ijinin sama Bu Prita." 

"Eeeuim." Lita terlihat bingung. Kejadian barusan masih membuatnya syock.

"Pulang. Tapi, gimana?" Lita memandang ke arah roknya. 

Fajar paham. Pasti Lita malu kalau dia keluar sampe ada yang tahu. Ia pun bingung, hari ini tidak membawa jacket. 

"Pakai tasku. Tasku besar, Lit!"

"Oke."

"Aku keluar duluan. Tar kalau aman, kamu ikuti aku ya." Instruksi Fajar barusan mendapat anggukan dari Lita.

Fajar mengintip dari balik pintu kelasnya. Aman. Temannya sedang mengerumuni atraksi topeng monyet 

"Lit! Aman!" Lita tergopoh keluar kelas. Sembari mengikuti Fajar. 

Mereka seperti maling yang takut ketahuan. Mengendap-endap mencari kesempatan. 

"Lit! Sudah aman sampai sini. Biaf kuambil bukunya. Tasnya bawa aja."

Fajar hendak pergi, namun tangan Lita menghalanginya.

"Sebentar." Tahan Lita. "Makasih." Ada pancaram ke ikhlasan dari sorot mata Lita. "Aku gak akan lupain kamu dah bantuin aku." 

"Sama-sama. Cepet pulang!"

Fajar berlalu begitu saja. Sementara ada kebahagian yang tercipta di hati Gulita. Hampir saja ia akan merasakan malu yang luar biasa kalau saja Fajar tidak datang di waktu yang tepat.

"Fajar, malaikatku ...," gumam Lita hampir tak terdengar.