07
BACA PENGUMUMAN DI BAWAH YA!!!

Bismillah. Jangan lupa tap lov dan komen ya Kak. Yang sudah mampir, terima kasih. 🙏❤


🌼 Seangkot Meski Tak Saling Sapa 🌼

Lita, Fajar dan Namira sudah menaiki angkot. Namun, karena belum banyak penumpang, harus menunggu lagi hingga full. 

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Matahari bersinar cukup terik, bulir-bulir keringat membasahi tubuh tiga remaja yang masih setia menunggu angkot berangkat.

"Masih kosong, Pak?" tanya seorang Bapak-bapak pada kernet angkot. 

"Masih, Pak. Silahkan depan masih kosong."

Penumpang bapak-bapak itu membuka pintu depan, dia memilih tempat duduk dekat supir.

"Lit, besok kita berangkat atau masih bebas si? Kalau cuma bentar doang kaya gini, mending di rumah nonton drakor." 

"Wah, ciri-ciri murid males ini. Baru sehari sekolah dah ga mau berangkat!" balas Fajar. Sementara Lita hanya menggelengkan kepala.

Mereka bertiga sudah mulai tak nyaman dengan panasnya di dalam angkot. Namira sudah gelisa mencari-cari supirnya. Sementara Fajar beralih tempat duduk dekat pintu masuk.

"Besok berangkat aja. Siapa tau sudah mulai belajar." Lita ikut berpendapat. Kedua sahabatnya itu hanya mengangguk kompak.

***

Penumpang yang duduk di depan sedari tadi mendengar nama Lita disebut-sebut. Apa itu Gulitanya? Apa suara yang barusan dia dengar adalah suara anaknya yang ditinggal beberapa tahun yang lalu? Ingin sekali dia menengok ke belakang untuk memastikan apa yang ada dipikirannya benar. Namun, hati kecilnya masih menahannya. Jika ia memaksa sekarang menemui gadis yang sedang asyik mengobrol itu, yang ia takutkan jika memang itu benar Lita, takutnya Lita malu dengan teman-temannya.

Akhirnya dengan berat hati. Wawan menahan rasa penasarannya hingga menunggu waktu yang tepat. 

Ia membuka gawai. Mencoba melihat foto-fota kebersamaannya dengan Laksmi dan Lita. Bagaimana pun hati dan pikirannya hanya pada kedua bidadarinya itu. Meski kondisi kehidupan rumah tangganya sudah berbeda.

Cinta Wawan dan Laksmi memang kini terpisahkan. Tapi bagi Wawan, cinta itu masih sama besarnya. Hanya kondisi yang kini sedang tidak berpihak.

"Ceraikan Laksmi! Atau kamu akan lihat anak istrimu menderita!!!" perintah Dodi, ayah Wawan. 

"Pah. Apa hanya dengan cerai bisa membuat Papa sama Mama bahagia? Meski sejujurnya yang kalian lakukan membuat hati Wawan sakit, Pah?" Suara Wawan bergetar. Kesedihan jelas kentara di sana.

"Ya! Hanya itu! Papa malu punya mantu miskin! Papa kasih waktu kamu dua bulan, Wan. Papa harap kamu bisa melakukan itu secepatnya sebelum papa menjodohkanmu dengan anak DPR itu." 

Perintah Dodi berhasil memporak-porandakan hati Wawan. Rasanya, ia tak berguna sama sekali di hadapan keluarganya. Ia seperti kacung yang hanya bisa dikendalikan papa dan mamanya. Kabut kesedihan berhasil meluluhknan pertahanan Wawan.

"Baik. Aku minta syarat!" pinta Wawan tegas dan menghujam. Meski saat itu hatinya seperti teremas-remas benda tajam. Sakit sekali.

"Apa? Katakan!" jawab Dodi dengan senyum terkembang. Akhirnya setelah 8 tahun menikahi Laksmi, Wawan menyerah juga.

"Berikan semua warisanku sekarang! Baru aku setuju!" 

"Sangat mudah. Papa cairkan langsung!" 

Dan hari itu menjadi hari paling menyedihkan bagi keluarga kecil Wawan. Ia membuat Laksmi terus-menerus menangis. Malam itu juga Laksmi benar-benar mengabaikan Wawan. Sekaligus membenci Wawan yang ingin berpisah dengannya. 

Bahkan uang yang Wawan bawa malam itu, langsung ditolak keras oleh Laksmi. Ia tidak butuh uang. Ia tidak butuh harta sebagai penukar orang yang sangat dia cintai.

"Martabaknya enak, Pak. Besok beli lagi ya!" ucap Lita girang. Dia sangat menikmati martabak yang dibawakan Wawan malam itu.

Dia belum tahu, jika martabak itu adalah martabak terakhir pemberian bapaknya. Martabak perpisahan yang sangat menyedihkan bagi Laksmi. 

Langit malam itu seperti ikut menangis sama seperti halnya Laksmi. Hingga bintang berkelip harus mundur, berganti hujan lebat. Hujan tangis kesedihan di rumah kecil pemberian keluarga Laksmi. 

Tangan Wawan berusaha kuat memeluk istrinya. Namun, lagi-lagi Laksmi menampik.

"Jangan pernah datang lagi. Jika keputusan itu tetap kamu lakukan. Jangan pernah memintaku kembali jika sewaktu-waktu kamu mulai menyesali tindakanmu dan satu lagi jangan temui Gulita, jangan anggap dia anakmu lagi, Wawan!" 

Wawan tersentak mendengar Laksmi tak lagi memangilnya "Mas". Kata-kata Laksmi saat itu juga membuat hati Wawan kembali teriris. Jika dia boleh meminta, ia tak ingin melakukan itu semua. Ia tak mau meninggalkan anak istrinya. Namun, Wawan lebih memilih dia sendiri yang menderita, asal jangan orang yang sangat ia cintai.

"Sayang, maafin mas. Ini pilihan sulit bagi, mas. Tapi demi hidup kalian, mas lakuin. Maafin mas ... kumohon."

Beribu kali Wawan meminta maaf, namun Laksmi tetap pada keputusannya. Ia tak akan bisa memaafkan suaminya sampai kapanpun. Jika Wawan tetap mengabulkan permintaan kedua orang tuanya itu.

Malam itu, ketika Laksmi dan Lita sudah tertidur. Wawan mulai berkemas. Ia tidak tega jika pergi sampai dilihat anak istrinya. Wawan bahkan sangat buru-buru, karena ketakutan terbesarnya adalah kembali melihat tangisan Laksmi. Tangisan yang sangat memilukan, hingga membuat hati Wawan tercabik-cabik.

"Bang, ongkosnya!" 

Bayangan Wawan tentang Laksmi dan Lita memudar, ketika kernet mulai menarik uang ongkos angkot.

"Mas, sebentar." Panggil Wawan kepada kernet. "Uangnya ga usah kembalian. Aku bayarin aja semua anak sekolah di belakang." Pesan Wawan mendapat acungan jempol dari kernet.

"Oke, bang!" Kernet itu kembali ke belakang. "Semua ongkos hari ini gratis. Ada yang bayarin. Uangnya abang balikin ya, buat jajan kalian aja di rumah." Kernet memberi tahu seluruh penumpang yang hampir semuanya anak sekolah.

"Alhamdulillah. Lit, gue traktir kamu bakso deh! Uangku jajanku utuh nih!" ajak Fajar pada Lita.

"Eh jangan curang. Masa Lita doang yang ditraktir. Aku juga dong!" protes Namira. 

"Iya iya, dasar bawel." Fajar mengomel tak suka pada temennya yang super duper cerewet itu.


Sementara Wawan dari kursi depan angkot mengukir senyum. Entah Lita siapa yang ada di belakang, baginya nama Lita itu anaknya. Anak yang masih belum berani ia temui. 


BERSAMBUNG.

BACA !!!

Ada cerbungku yang repost ulang. ON GOING. GRATIS!!! Ceritanya tentang anak SMA. Silahkan yang mau baca bisa langsung cari aja ya judul DIKEJAR CINTA ADIK KELAS. Seru enggak ceritanya?! Baca aja, yang jelas ada manis-manisnya gitu .... Eaaaa. ❤

Satu lagi cerbung othor, Gaes. Kisah drama rumah tangga yang gak kalah menarik. Tentang seseorang yang menikah tapi sejujurnya dia tidak mencintai calon suami. Kemudian cintanya yang lama masih belum bisa ia lupakan?Gimana kisah selanjutnya? Bakal berantakankah rumah tangganya? Kuy baca!!! BIARKAN AKU PERGI. 😍😍😍

Kunjungi author juga di :
IG : @mayleenaisy
Fb : Mayleen Aisy

Ok. Love you full. Semoga dilancarkan rezekinya buat yang sudah unlock. Aamiin.