05
🌼6 Bulan Kemudian ....🌼

"Kamu harus sekolah, Lit. Bibi akan biayain kamu. Jangan pernah khawatir sama kesehatan bibi. Uhuk ... Uhuk ...," ucap Ratih sembari menahan batuknya.

Sudah hampir tiga hari Ratih hanya bisa berbaring di tempat tidur. Bibirnya terlihat pias, sementara nafasnya sangat berat. Lita mau tidak mau harus bisa mengurus dua orang tua yang sangat ia sayangi. Ibunya dan bibinya.

Dahulu, Ratih sebenarnya mempunyai keluarga lengkap, meski anaknya hanya anak tiri. Namun, lima tahun yang lalu suaminya meninggal karena stroke. Sedangkan, anak tirinya sudah tak pernah datang lagi ke rumah Ratih. Jadi, setelah lima tahun ke belakang, Ratih hanya hidup seorang diri.

Beberapa hari ini Ratih sering datang bahkan menginap di rumah Gulita. Katanya, Ratih lelah harus bolak balik terus. Sedangkan jarak rumahnya dengan Laksmi cukup jauh. 

Lita menangkap ada hal lain. Bukan itu alasan bibinya. 

Ratih memang tidak setiap hari akan datang menjenguk. Ketika ia tidak datang, berarti ia sudah menitipkan sesuatu pada tetangga Lita untuk menyediakan lauk dan nasi bagi anak ibu itu.

Lita paham. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Bibi Ratih. 

"Bi, bibi apa gak periksa saja ke dokter. Biar Lita yang gantiin bibi ke sawah. Buat bayar berobatnya," ujar Lita memohon agar bibinya mengijinkan Lita bekerja.

Ratih menggeleng. Raut wajahnya terlihat tak suka dengan ide anak kakaknya itu. 

"Jangan!" tolak Ratih keras. "Tugasmu sekolah. Biar jadi orang besar. Jangan pernah punya keinginin hanya sebatas jadi buruh. Kamu harus punya kedudukan, biar bapakmu datang mencium kaki ibumu, Nduk!" 

Ratih tak bisa lagi menahan amarahnya. Semua kegundahan hatinya ia ucapkan. Semua yang mengganjal di pikirannya ia tumpahkan. Terlihat jelas rasa kecewa Ratih pada Wawan, ayah Lita. Ia masih tidak terima melihat Laksmi gila. Melihat kakaknya kini sebagai bahan olokan orang-orang.

"Iya, jangan kaya Laksmi. Ditinggalin suami malah gila."

"Itu kan Laksmi. Wanita gila karena ditalak suaminya."

"Laksmi itu lagian ga ngaca. Udah tau Wawan ganteng, ga cocok sama dia. Malah Laksmi mau aja diajakin nikah. Ditinggalin kan akhirnya. Hahaha. Gila karena cinta."

Kata cacian di atas masih begitu terngiang dipikiran Ratih. Mungkin Lita tidak tahu, tapi Ratih mendengarnya. Bisik-bisik dari tetangga rumah kiri kanan Laksmi kadang sampai juga ke telinga Ratih.

Dulu, Laksmi memang sangat beruntung sebagai kaum hawa. Disaat cinta para wanita ditolak Wawan, ia malah mendapatkannya. Malah, Laksmi bisa menikah dengan pria yang sangat ia cintai itu.

Suami Laksmi adalah anak dari Pak Kades. Sebelum menikah, hubungannya sempat ditentang calon mertua. Pak Kades tak setuju anak semata wayangnya hanya mendapatkan istri dari golongan biasa.

Pak Kades bahkan hanya menghadiri acara akad. Setelahnya ia pulang dengan istrinya tanpa ikut menghadiri pesta pernikahan anak satu-satunya itu.

Keberuntungan Laksmi hanya cuma sampai depalan tahun pernikahan. Setelahnya, ia mendapatkan hadiah cintanya. Ditinggalkan Wawan dan menjadi ibu muda yang kini gila.

"Bibi ga mau tau. Kamu harus jadi orang sukses, Lit. Bibi mohon sama kamu. Jangan seperti ibu dan bibimu. Jadi orang kecil yang selalu direndahkan."

Lita bergeming. Masih mencermati apa yang terlontar dari mulut bibinya.

Bagi Lita, Wawan itu bapak yang luar biasa. Bahkan ketika malam hari bapaknya hendak pergi, ia masih sempat menghibur Lita dan ibunya. Satu martabak kacang kesukaan ibu dan martabak telor kesukaan Lita, Wawan bawakan. 

Belum lagi saat itu Lita tahu. Bapaknya berusaha memberikan uang banyak pada ibunya, namun Laksmi menolaknya. Ibunya tidak mau menerima uang pemberian bapak.

Keesokan paginya, ketika di sekolah, Wawan memberikan kartu pada Lita. Tentunya Laksmi dan Ratih tidak tahu. 

"Nduk, Lita--anak bapak yang baik dan cantik. Bapak pergi bukan karena ga sayang sama Lita sama Ibu. Bapak sangat sayang, makanya bapak pergi. Jaga dirimu baik-baik ya. Jaga ibumu. Jangan biarin ibu sakit ya, nduk. Jagain ibumu untuk bapak ..." Wawan mengusap matanya. "Bapak titip kartu ini. Ini buat Lita sama Ibu. Kalau butuh kamu bisa pakai, Nduk. Kamu ke Bank biar tanya di sana caranya ya. Bapak sayang Lita."

Wawan memeluk erat putrinya. Kemudian mencium keningnya berkali-kali. "Nduk, jaga ibumu. Bapak pamit, bapak sayang kamu." 

"Paaak. Lita mohon jangan pergi!" Lita memohon pada bapaknya yang perlahan melepas pelukannya. Langkah Wawan semakin menjauh, menaiki mobil mewah bersama kakek neneknya.

"Suatu saat, Lita akan cari Bapak. Lita tau, Bapak orang baik."

Sementara dari kejauhan temannya Fajar menyaksikan adegan menyedihkan anak dan bapak itu. 

Ia berlari mengejar Lita yang nampak akan menangis.

"Lit! Main yuk! Ga usah sedih. Besok bapakmu pulang kok!" ajak Fajar setelah Wawan benar-benar sudah menghilang.

***

"Hay ... kenalin. Aku Calvin, kamu siapa namanya?" Cowok berambut klimis mengajak Lita berkenalan. Namun, Lita masih enggan menjabat tangannya. 

"Oke." Calvin menarik kembali tangannya. Ia mencebik tak suka. "Sombong." Kemudian berlalu dari hadapan Lita.

"Ayok, Lit! Kita satu kelas." Namira menggandeng tangan Lita. "Eh barusan siapa, Lit? Ganteng," tanya Namira penasaran.

"Ga tau. Ayok masuk!"

Sekolah. Kata itu hampir saja tidak masuk dalam daftar hidup Lita. Namun, lagi-lagi Ratih memaksa. Entah bagaimana caranya, bibinya itu sudah mendaftarkan Lita SMP. Padahal, Lita ingin sekali membantu bibinya yang mulai sakit-sakitan.

Lagi-lagi, bibinya melarang keras.

"Lit! Apa kabar?" tepukan Fajar dari belakanh membuat Gulita menoleh. "Oy malah ngelamun." Karena masih kaget, Lita memandamg Fajar cukup lama. 

"Eh. Malaikat--" Lita menepuk mulutnya sendiri. "Eh Fajar. Kamu sekolah di sini?" tanya Lita salah tingkah.

"Iya. Kemarin pas daftar aku ketemu Bibi Ratih, lho. Pasti dia yang daftarin kamu kan?" 

"Iya. Sebenarnya aku nolak sekolah. Cuma bibi memaksa," ungkap Lita mencoba mengeluarkan isi hatinya.

"Eh malah melow." Namira yang melihat Lita sedih langsung bicara. " Udah ah. Lagian kita sekolah biar pinter, Lit. Mending kita nikmatin aja, buat bibimu bangga." 

Lita tersenyum. Bersyukur ia masih mempunyai teman yang baik. Ia bahkan tidak menyangka bisa sekelas lagi dengan Fajar dan Namira.