06
" Ketika Allah mengujimu, berarti Allah masih menyayangimu."

🌼 Ibu Tidak Gila!!! 🌼

"Hari ini keknya cuma perkenalan ya, Lit. Mending kita jajan aja yuk!" ajak Namira teman sebangkunya. Wajahnya terlihat kegerahan. Keringat sebesar biji jagung terlihat jelas di bagian jidatnya. Sementara tangannta tak henti mengibaskan buku agar panas di tubuhnya hilang.

"Aku puasa, Mir. Kamu aja sana, biar aku di sini aja," jawab Lita. Hari ini Lita kebetulan lupa sarapan karena buru-buru. Dari pada nanggung ke sekolah belum makan, ia niatkan untuk puasa sunnah kamis.

"Oke. Aku beli es dulu ya. Sekalian aja minun di sana. Ga enak kamu puasa. Hehehe." Namira berlalu dari hadapan Lita. 

Ketika melihat Namira pergi. Fajar beranjak dari kursinya. Mendekat ke bangku Lita. 

"Lit, ko gak ikut Namira. Ga jajan?" tanya Fajar kemudian duduk persis di samping Lita. Ada satu bangku sebagai jarak keduanya. Lita menoleh sebentar ke arah Fajar.

"Puasa," jawab Lita kembali menatap bukunya di meja. Ia memilih membaca buku untuk menghilangkan bosan.

"Oh--" Fajar ber-O ria. "Lit, ibumu sehat?" tanya Fajar lagi. 

Lita tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Fajar menangkap sesuatu yang aneh dari senyuman Lita barusan. Mimik muka dan sorot mata Lita juga langsung berubah. Apa salah dia menanyakan tentang ibunya?

Bukan tanpa alasan, Fajar menanyakan ibunya Lita. Ia sering sekali melihat Ratih--bibinya Lita yang lebih banyak mengurus urusan sekolah Lita dari pada bapak dan ibunya. 

Meskipun Fajar bukan tetangga rumahnya. Dulu, pas awal-awal masuk SD Fajar ingat sekali, Lita digendong bapaknya ketika pendaftaran. Lita kecil saat itu menangis karena tidak mau ditinggal ibu dan bapaknya. Karena itu, kedua orang tuanya sengaja menunggu Lita sekolah hingga pulang. Itu seingat Fajar. 

"Maaf. Aku keluar dulu," ujar Fajar kemudian ia berdiri dari duduknya, hendak meninggalkan Lita. Ia merasa bersalah sudah bertanya macam-macam.

"Ga papa ko. Kamu mau tau ibuku kan? Aku ceritain. Aku tau kamu baik Fajar. Tak mungkin ada maksud jelek padaku." 

Gadis itu mencoba menarik nafas. Mencoba mengalirkan energi positif. Ini kali pertamanya ada yang menanyakan tentang ibunya saat jam sekolah.

"Ibuku--" Lita kembali menarik nafas panjang. "Ibuku sedang tidak sehat, dia sedang menunggu bapak pulang. Katanya orang-orang ibuku "Gila Cinta" aku biasa mendengarnya begitu, itu kata orang." 

Suasana hening. Deru nafas Lita sangat terdengar. 

"Tapi ... bagiku, ibuku hanya sedang sakit karena ditinggalkan bapak. Dia tidak gila. Ibuku tak pernah menyakitiku. Ibuku sangat menyayangiku, buktinya dia selalu mendengar kata-kataku. Jika sedang marah dan hampir melukai dirinya, ibuku mau menghentikannya ketika aku suruh. Jadi, jangan pernah berpikiran kalau ibuku gila. Jangan! Kamu--" 

Ucapan Lita terpotong.

"Cukup, Lit. Ibumu pasti sembuh." Fajar memotong ucapan Lita. Ia semakin bersalah menanyakan tentang Laksmi. "Aku punya novel bagus. Kamu mau baca?" Fajar mengalihkan topik pembicaraan. Berusaha menetralkan suasana yang tiba-tiba seperti mendung. 

"Aku gak papa Fajar. Kamu gak usah gak enak. Lagian kamu udah tau kekuranganku dari dulu." Lita memahapi pikiran Fajar. Pasti temannya itu merasa tak enak bertanya tentang Ibu Laksmi.

Fajar menatap teman sekelasnya itu. Kesedihan jelas kentara di wajah Lita. Bahkan matanya sudah menggenang buliran bening yang siap tumpah. 

Ada sebersit niat bagi Fajar menghapus air mata Lita, tapi ia takut. Ia teringat apa yang diajarkan ayahnya untuk selalu menghargai teman perempuannya.

"Jangan pernah berpsentuhan sama temen perempuanmu. Itu tidak sopan dan dilarang Allah!" pesan Ayahnya Fajar kembali terngiang diingatan cowok jangkung yang sudah beranjak remaja itu.

Fajar kini kembali memandang Lita yang masih terlihat sedih. "Eh, jangan sedih dong, Lit! Senyum donh!" titah Fajar semringah. 

Lita hari ini menggunakan kerudung putih instan. Bedanya kerudung yang sekarang nampak baru dan bersih, tidak seperti yang dilihat Fajar saat pertama kalinya Lita memakai jilbab. 

Cowok putih jangkung itu kembali mengamati wajah Lita diam-diam. Sementara Lita hanya menatap bukunya. 

Seingatnya, ketika SD dulu, Lita itu sangat tomboy. Sebelum memakai kerudung, Lita terbiasa memotong rambutnya hampir mirip cowok. Namun, bagi Fajar tetap menarik. 

Fajar tersenyum mengingat itu semua. Lita, bagi Fajar sangat unik. Ya, sangat unik. Hingga ada tanda tersendiri di pikiran Fajar jika megingat tentang Gulita.

"Euuim. Lit--"

"Euuum, Faj--"

"Kamu duluan aja. Mau ngomong apa?" tanya Lita kikuk. 

"Pulangnya bareng aja. Kamu gak dijemput kan? Kita naik angkot," ajak Fajar malu-malu. Ia ingin menebus rasa bersalahnya karena sudah bertanya macam-macam. Ia ingin menghibur temannya.

"Siapa yang mau jemput, kamu itu aneh!" jawab Lita melihat ucapan Fajar tak masuk akal. "Ibuku saja menurut orang gila, bapakku pun kamu kan tau gak ada. Mau dijemput siapa? Pak Satpam? Hahaha." 

Candaan Lita membuat Fajar bingung. Mau ikut tertawa atau diam. Remaja maskulin itu hanya mengusap tengkuknya yang tidak gatal.

"Eh iya. Maaf. Heeee." Fajar memperlihatkan giginya yang seputih pepsodent. "Aku memang suka aneh. Kamu bisa memanggilku SJA alias Si Jangkung Aneh." Fajar mencoba menghibur Lita, meski sangat garing. 

Mereka berdua akhirnya tertawa bersama. 

"Lit! Kok di kantin sepi ya? Sebel deh, aku dah capek-capek jalan sendirian gak ada temen, nyampe sana ga ada yang jualan," cerocos Namira dengan mulutnya yang maju lima centi. Nafasnya masih ngos-ngosan. 

"Lagian kamu si, baru berangkat hari pertama mikirnya jajan mulu," ucap Namira sembari menahan tawa. 

"Fajar! Kok kalian cuma duaan di kelas. Tar ad setan lho!" Kini Namira beralih menceramahi Fajar. 

"Siapa yang duaan. Liat tuh segitu di pojok ada temen kita lagi ngerumpi." Mata Fajar beralih memandang ke pojok kelas. "Noh! Lihat gak?" tangannya sekarang menunjuk pojok.

"Eh, iya. Bete euy. Kita ngapain gitu? Masa sekolah cuma gini doang."

"Ya emang cuma kenalan doang. Habis istirahat kan kita bebas kata guru tadi, Mir. Kamu gak dengerin guru si." Lita panjang lebar jelasin.

"Hehhee. Tadi ngantuk." 

"Yok, Lit kita pulang aja. Aku tunggu depan jalan aja ya. Sembari nunggu angkot mangkal." Fajar mengakhiri obrolan. Disertai anggukan Lita. 

"Eh, enak aja. Aku ikutan! Kalian duaan mulu, tar digangguin setan lho!"

Fajar dan Lita saling memandang.

"Kamu yanh ketiga setannya. Hahhhaa." Fajar berlari sebelum tonjokan tangan Namira mengenai badannya.

"Rese kalian!!!"