01
⚠️⚠️⚠️ BACA PENGUMUMAN DI BAWAH, SETELAH BAB ⚠️⚠️⚠️


🌼 Haid Pertama 🌼

"Bapakmu, jahat! Ja--haat! Ja--hat! Hahaha," teriak seseorang disertai tawa cekikikan dari dalam kamar. 

Lita hanya mendengarkan dari kamarnya. Suara barusan ia anggap sebagai nyanyian cinta, meski di lubuk hati, sejujurnya menangis. 

Dua tahun yang lalu, cinta pertama bagi Lita, orang yang sangat hangat dalam berbicara dengan tega meninggalkan Laksmi--ibunya Lita. 

Katanya, demi cinta sejati.

Saat itu Lita belum terlalu dewasa memaknai apa itu cinta sejati? Ia hanya tahu, bahwa cintanya hanya untuk bapak dan ibunya. Itu saja.

Tak ada yang aneh dengan gerak-gerik Wawan--bapak kandung Lita sekaligus suami Laksmi. Ia tetap menjadi bapak yang baik saat masih bersama. 

Setiap pagi, Lita selalu diantar ke sekolah. Pun tiap malamnya, bapaknya itu sering menemani Lita tidur. Mendongeng hingga matanya benar-benar terlelap.  

Itu dulu. 

Semuanya lenyap begitu saja, ketika usia Lita menginjak umur 10 tahun. Lita kecil dipaksa mengerti dan menerima, ketika sebuah kenyataan hidup menghampiri dan melemparnya pada fase kehilangan. 

Kehilangan sosok bapak juga kehilangan sosok ibunya, meski raganya ada, namun dunianya tak lagi untuk Gulita.

Jam berganti, bulan beralih, Laksmi tak ubahnya seperti pisau pematah semangat. Kerjaannya hanya melamun, terkadang bergumam selayaknya mengajak bicara, meski hanya angin dan ranting pohon di samping kamar yang mendengarnya. Berlanjut, akan berakhir tertawa keras disertai seringai tajam. 

Sakit! Bahkan Lita hanya bisa mengurut dada. Dipaksa dewasa di usianya yang masih terbilang belia. Saat itu, ia masih butuh bimbingan bapak dan ibunya.

Bagaimana ketika sebagai anak perempuan pertama kali mengalami histerisnya menghadapi darah yang ada di celana dalam*nya? 

Bagaimana ia bisa tetap kuat, menghadapi ejekan, cacian, juga bullyan karena dicap sebagai anak dari orang gila. 

Bagaimana ia tetap bisa hidup ketika kesunyian lagi-lagi menjadi penguat hidupnya. Ia tak bisa berbagi dengan siapa-siapa. Bahkan ketika hidupnya kembali dicoba dengan diasuh orang tua baru, lingkungan baru, dan tentunya cobaan baru di tempat yang asing. Di tempat di mana ia jauh dari Laksmi--ibunya. 



***

"Bu! Darah, Bu! Celana dala* Lita ada darahnya!" teriak Lita dari dalam kamar mandi. 

Ia bahkan lupa, bahwa ibunya berada di dunianya yang berbeda.

"Hahahaha." Hanya suara tertawa yang menjawab tanya Gulita.

"Ibuuuu ...," isak Lita tertahan. Menggantung tangisnya yang pecah. "Bu ... Lita harus ngapain?"

Suaranya mendadak tercekat, ketika ingatannya sudah kembali. Ibunya tak mungkin menjawab semua pertanyaannya. Tak mungkin mengerti apa yang kini ia alami. 

Kembali Lita hanya bisa menangis dalam dinginnya kamar mandi. Sementara rembesan cairan merah terus turun dari bawah sana. Ia semakin takut, namun lagi-lagi Lita hanya bisa menangis. Tak tahu harus kemana ia harus mengadu.

Hingga tangisan itu reda dengan sendirinya, mengering diantara wajahnya yang sendu dan hatinya yang terluka. 

Ia melangkah gontai keluar kamar mandi, menutupi bagian bawahnya dengan bajunya yang kotor. Kemudian mulai berpikir. 

"Pembalut!" soraknya kencang. Lita tersenyum samar, seperti baru saja mendapatkan hadiah. "Tapi ... aku malu belinya. Dan uangnya dari mana? Sedang uang dari bibi hanya sisa dua ribu." 

Mendadak hatinya lesu kembali. Ia singkap hordeng kamar sebagai pengganti pintu. Lalu kakinya tertatih melangkah masuk.  Ia letakkan kain ke ubin samping kasur untuk menahan cairan kemudian mendaratkan boko*gnya di sana. Pikirannya mengembara entah kemana, sementara mata bulatnya sesekali memandangi kamarnya yang kecil. Hanya ada kasur busa dan lemari kayu usang.

"Lita! Ayok berangkat!" Suara cempreng di luar begitu memekakakan telinga. Lita hendak berdiri, namun ia urung lakukan.

Lita diam sembari menahan takut, takut temannya nekat masuk rumah dan kamarnya. Ia merasa malu untuk sekedar bertemu temannya. Hatinya masih begitu sensitif. Dalam hati, biarkan saja temannya berangkat,  ia tetap harus menemukan cara terlebih dahulu untuk bisa menghilangkan darah yang masih merembes di dalam sana.

"Aku tinggal ya!" Kembali teman Lita berteriak. 

Suara cempreng itu menghilang. Mungkin takut jika sekolahnya terlambat. Meski jam dinding masih berada di angka 06.15 Wib.

"Bu!" Lita kembali memanggil ibunya. Menghampiri dengan posisi berdiri di samping jendela kamar ibunya tanpa kaca. Hanya ada kayu sebagai penghalang. 

"Lita haid, Bu. Lita bingung harus pakai pembalut bagaimana? Sedang pembalut pun belum ada." Ia menyeka rambutnya yang tiba-tiba mengenai mata. Rembesan bening dari kelopak mata akhirnya ikut tumpah.

"Bu. Banyak banget darahnya." Lagi lita bercerita. Meski ia tahu, tak akan ada sahutan dari ibunya.
 
Anak belia itu terus menghadap jendela kamar ibunya. Di dalam sana, hanya ada kasur lepek dan bantal yang baunya sudah sangat pesing. Bukan tidak dibersihkan. Tapi memang keadaan Laksmi yang tidak waras membuat kotoran bercecer sembarangan.  

Jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh pagi. Lita masih enggan untuk pergi ke sekolah. Ia masih belum menemukan cara, harus dengan apa selain pembalut? Jika menggunakan kain, Lita pikir akan tetap tembus dan juga akan tidak nyaman.

Tubuh gadis belia itu merosot persis di depan kamar sang ibu. "Andai bapak di sini, Lita bisa tanya bapak, Bu." 

Bukan salah Lita masih mengingat tentang sosok bapaknya. Memang sebelum bapaknya itu pergi dengan wanita lain, Wawan sangat sayang sama Lita. Terkadang dalam sholatnya Lita ingin sekali mengharap belas kasihan Tuhan. Ingin memaksa Tuhan agar mengabulkan doanya. Mengembalikan bapaknya menemani hari-hari Gulita.


***

Lita kembali ke kamar mandi. Menaruh semua pakaian yang terkena cairan merah di ember. Ia mengambil sabun colek, kemudian mulai menggosok dengan kedua tangannya. Lanjut menjemurnya. Kali ini ia keluar tanpa menutupi noda di roknya. Karena memang susah. Tangannya hanya bisa memegang baju yang hendak ia jemur.

Di tengah sengat matahari yang mulai meninggi, gadis belia itu berdiri melamun di bawah pohon talok samping jemuran. Ia memperhatikan gerak daun yang terkena angin.

Angin membuat daun itu kesana-kemari. Daun-daun talok itu tetap ikhlas tak memberontak. Mungkin, jika daun tak terima bisa saja ia tak mau bergerak. Namun, daun pasrah menerima garis takdir. Apakah harus Lita seperti halnya daun? Harus ikhlas. Meski lagi-lagi hati Lita nantinya ketakutan. Takut akan hal besar terjadi setelah ini.

"Lita! Kenapa gak berangkat sekolah? Hari ini ada ujian." Lita tergagap. Ia terlalu kaget mendengar suara barusan.

Itu suara Ibu Prita. Wali kelas yang sangat perhatian. Mungkin karena Lita berbeda dari temannya. Mempunya ibu tapi ... ibunya istimewa. Mempunyai ayah, tapi tak ada.

"Lita hanya ...." Degup jantung Lita bertalu kencang. Masih bingung harus bagaimana memberi tahu Ibu Prita.

Sekilas muka Lita terlihat memerah, memaksakan senyum. Berkali mulutnya ingin mengucapkan, berkali itu juga seoalah tercekat tak mampu berkata-kata.

"Gulita, cerita sama Ibu. Siapa tau ibu bisa bantu." Suara Ibu Prita terdengar menentramkan hati. 

Ia mulai mendekati Lita yang berusaha mundur. Menutupi rok bagian belakang dengan kedua tangannya.

"Aduh!"

Lita terjatuh. Kakinya tersandung batu. Seketika itu rok Gulita tersingkap dan posisinya terlihat oleh Bu Prita. 

"Darah!" Jerit Bu Prita kaget.



BACA JUGA NOVELKU YANG LAIN :

🌼 DIKEJAR CINTA ADIK KELAS (MASIH GRATIS, KUY BACA SEBELUM DIUNLONCK)

🌼BIARKAN AKU PERGI (CUMA BUTUH 9 UNLOCK KOIN EMAS😍 MURAH MERIAH AJA😱😱😱)

🌼 JODOHKU OM DUDA NYEBELIN (New Update) 🎉🎉🎉🎉