Gila
Wajah Rin tampak lucu saat Roan mengatakan tinggal bersama, pipinya yang sedikit chubby itu memerah, matanya berkedip beberapa kali seolah tidak ingin memercayai ucapan Roan. 

"Kenapa? Apa kau keberatan mematuhi peraturan kontrak?"

"Nggak gitu, Pak. Tapi tinggal bersama walaupun kita udah itu agak...." 

Bicaranya yang berputar-putar terlihat lucu di mata Roan. 

Dulu di mata Roan, Rin hanyalah sekretaris yang kompeten. Meskipun dia menerima Rin magang di perusahaannya karena teman Yua, tapi ia tidak menduga Rin mampu mengimbanginya, padahal saat itu usia Rin baru 20 tahun dan lulusan S1 termuda di angkatannya. 

Rin adalah sosok yang pekerja keras, memiliki kebanggaan bergabung dengan Nathanael Grup, membuat Roan mengangkat Rin menjadi sekretaris tetap setelah selesai S2. 

Hampir semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik, cara Rin mengimbanginya juga cerdas, walaupun masih ada kekurangan karena Rin bukan lulusan luar negeri.  

"Kau, lanjutlah kuliah S2. Bahasa asingmu sangat buruk," komentar Roan suatu waktu. 

Pertemuan dengan investor hampir berantakan karena Rin tidak menguasai bahasa Inggris.

"Tapi, Pak. Kalau saya kuliah S2, nanti posisi saya sebagai sekretaris gimana? Saya nggak bisa kehilangan pekerjaan ini." 

"Kalau kualifikasimu masih seperti ini, cepat atau lambat kamu akan diganti dengan lulusan luar negeri yang lebih mahir." 

"Jangan, Pak. Saya akan lanjut S2, tapi jangan pecat saya." 

"Itu tergantung kamu bisa atau nggak bagi waktu antara kuliah dan kerja. Aku juga nggak mau gaji orang sia-sia." 

Perkataan Roan memang tajam, tapi itu untuk kebaikan Rin sendiri. Di dunia kerja seperti ini, kalau tidak mahir dan berpendidikan tinggi akan sulit bertahan. 

Beberapa waktu kemudian Rin mengatakan dia lolos beasiswa S2 di UI. Rin berjanji bisa membagi waktu. 

Terkadang Roan melihat betapa Rin bekerja keras, lembur sekaligus mengerjakan tugas kampus. Beberapa kali dia melihat Rin sampai mimisan dan mengotori berkas. 

Belum pernah dia melihat gadis yang sangat bekerja keras seperti itu. Perlahan dia penasaran untuk apa Rin sampai segitunya bekerja, padahal gadis itu bisa memilih pekerjaan lain setelah lulus S2. 

Rin juga tidak pernah mengambil cuti tahunan dan membawa bekal dari rumah. Gadis itu begitu hemat.

"Aku akan jadi orang kaya yang nggak perlu liat harga waktu beli sesuatu, Pak."

"Apa itu cita-citamu?" 

"Iya, aku suka uang." 

"Kalau gitu kenapa nggak buka usaha dan malah jadi sekretaris?" 

"Aku nggak ada keahlian, Pak. Lebih enak kerja dapat gaji bulanan, dapat tunjangan dan yang paling aku sukai tanda pengenal ini." 

Rin menunjukkan tanpa pengenal pegawai yang menggantung di lehernya. Memang sulit masuk perusahaan teknologi dengan gaji tinggi seperti di sini. 

Kalau saja Rin bukan teman Yua, mantan tunangannya, mungkin Roan tidak akan menerima anak magang yang baru lulus S1 dan bukan lulusan luar negeri. 

Rin pandai melakukan apapun dan terus berkembang pesat, mampu mengimbanginya yang gila kerja. Bahkan ketika dia menawari pekerjaan di luar kantor seperti menjadi istri kontraknya. Rin bersedia. 

Gadis itu mampu berakting dengan baik di hadapan semua orang. Membuatnya puas dengan cara kerjanya sebagai calon istri. 

Tapi, ada hal yang baru dia ketahui setelah 4 tahun mengenal Rin, yakni wanita itu tidak tahan alkohol. 

Saat mabuk pun tingkahnya mengerikan, memakinya dengan bahasa kasar dan umpatan. Rin juga melakukan pelecehan seksual terhadapnya. 

"Rin, sadarlah! Kamu harus tidur di kamar, jangan di sini." Roan membopong Rin ke kamar hotel. 

Rin mabuk adalah ulang teman-temannya, dia meninggalkan Rin sebentar dan kembali lagi dengan keadaan Rin sudah seperti ini.

"Hahaha si bos gila?" 

"Apa? Gila?" 

"Iya, si bos gila kerja. Ngasih tugas nggak kira-kira, seenaknya sendiri, kalau ngomong tajem, pedes kayak bon cabe level 10." 

Rin mengoceh sembari jalan sempoyongan, Roan berusaha memapah Rin yang terus meronta.

"Hey! Dengar Bos gila! Aku tuh capek kerja terus, aku butuh istirahat tapi kamu nggak pernah ngasih aku istirahat bentar aja. Aku pingin ngambil libur, tapi liburan juga butuh duit. Sebagai bos harusnya kamu ngertiin karyawan, nggak manggil tengah malem cuma buat jadi supirmu. Kamu bos gila yang sangat jahat." 

"Jadi itu isi kepalamu selama ini?" 

"Iya, dasar Bos Gila! Kamu tuh orang yang paling nyebelin sejagat raya."

Bruk!
Rin menambrakkan dirinya ke pintu kamar orang lain. Mulutnya masih mengoceh tidak jelas.

"Rin, awas! kamu bisa membuat pintunya lecet." Roan mengelap pintu yang ditabrak Rin dengan khawatir.

Sementara Rin memegang keningnya, menggelengkan kepala yang pening. Tubuhnya sempoyongan. 

Roan kembali menggandeng tangan Rin, tapi wanita itu memukul Roan menggunakan sepatu hak tinggi yang baru diambil sebelah. 

"Aww sakit!" Pekik Roan

"Nakal ya kamu nakal! Pegang-pegang seenaknya." 

Tatapan mata Rin di antara rambutnya yang acak-acakan membuat Roan frustasi, dia tidak pernah melihat Rin menjadi gila seperti ini. 

Lorong kamar hotel ramai, masih banyak petugas dan tamu berlalu lalang melihat mereka dengan tatapan aneh. 

Roan tidak ada pilihan lain, dia mengangkat tubuh Rin seperti karung beras. Punggungnya dipukul dengan sepatu. Rin terus meronta. 

"Aww sakit, berhenti pukul pake hak tinggi!" Roan sudah menemukan kamar mereka, ia kesulitan menempelkan kartu kunci karena Rin terus memukulnya. 

"Biar tahu rasa kamu ya, berani macem-macem sama aku. Rasain! Rasain! Rasain!" Rin terus memukul. 

Roan menahan sakit di punggungnya dan buru-buru masuk kamar, kakinya menutup pintu itu kembali sebelum melempar Rin ke ranjang. 

"Aaaa sakit, dasar Bos anj*ng!" Umpat Rin. 

Roan yang sedang meluruskan pinggangnya membuka mulutnya lebar, ia baru saja dikatai anj*ng oleh karyawannya sendiri. 

"Kamu ini benar-benar sudah gila!" kata Roan, dia mendekat, mengambil sepatu Rin yang tadi dipakai untuk memukul. Dia harus mengamankannya sebelum melukai orang lain. 

Tapi, tiba-tiba Rin berlutut dan menggigit kupingnya. 

"Akkh! Lepaskan!" Roan mendorong Rin. Telinganya sangat sakit. 

Rin malah tertawa dan senang, Roan bisa gila menghadapi tingkah gadis ini. 

"Enak, 'kan? Sakit? Sini aku sembuhin." Rin menarik tangan Roan dan jatuh di sampingnya. 

Segera Rin menahan Roan.

"Minggir!" Roan berusaha duduk. 

"Diam!" Rin memukul Roan. 

"Aww sakit!"

"Itu hukuman untuk bos yang nakal." 

"Yang nakal itu kamu!" 

"Apa? Nggak mungkin aku nakal. Kalau aku nakal pasti udah nilap duimu sejak dulu." 

"Kamu benar-benar gila!" 

Rin memukulinya. 

"Hentikan, kalau kamu lebih dari ini, aku tidak bisa menahannya lagi." 

"Kenapa harus ditahan?" tanya Rin. 

"Apa?" tanya Roan tidak percaya Rin mengucapkan hal seperti itu. 

"Kita kan udah nikah, Pak!" 

"Kita cuma nikah kontrak, ingat itu!" Teriak Roan. 

Tanpa rasa bersalah Rin malah tersenyum. Dia mengibaskan rambutnya yang sudah acak-acakan ke samping. 

"Kenapa, bapak takut?" Rin menantang.

"Aku nggak pernah takut apapun," balas Roan. 
.
.
.
.
.
Bersambung