Malu
Kata orang, aku cerdas dan bisa melakukan apapun. Bahkan di usia ku yang ke 24 tahun ini, aku sudah menjadi sekretaris CEO Nathanael Grup, salah satu perusahaan teknologi terbesar di Indonesia dengan aplikasi andalan kami yakni Nathashope. 

Tahun ini kami berencana masuk ke industri yang lebih besar, yakni mengeluarkan kartu prabayar setelah tahun kemarin sukses membuat dompet aplikasi. 

Semua orang mengakui kelihainku dalam mendampingi CEO, termasuk Pak CEO sendiri, Roan Nathanael. Hubungan kami sangat profesional, seperti pelengkap dalam patner. 

Aku menyukai pekerjaanku dan bangga bisa mengimbangi cara kerja Roan yang gila, pria berusia 29 tahun itu merupakan pewaris Nathanael Grup di masa mendatang. Sangat kaku dan terkadang menyebalkan.

"Rin, aku sudah selesai memakai kamar mandi."

Roan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, handuk melilit pinggangnya. 

"I-iya, Pak." Aku menjawab setelah mengalihkan pandangan.

Aku berjalan ke kamar mandi. Kepalaku rasanya sakit. Aku juga lapar.

Aku memakai shower untuk membasahi seluruh tubuh. Keramas dan gosok gigi. 

Semalam kami benar-benar gila.

Aku menggaruk tembok, mengingat kenapa bisa sampai seperti ini padahal hanya pernikahan kontrak. Aku hanya disewa menjadi istri pura-pura di depan orang tuanya supaya dia tidak dijodohkan lagi. 

Kemarin kami menggelar acara pernikahan sungguhan. Resepsi pagi hingga sore hari dan malam pesta anak muda. Teman-teman Roan datang. Mereka sangat bersemangat karena Roan adalah anggota terakhir yang menikah.

Mereka semua gila karena membuatku mabuk, itu adalah pertama kalinya aku minum alkohol. Kalau Roan tidak menghentikan teman-temannya yang terus mencekokiku alkohol, mungkin aku sudah mati.

Aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi. Hanya saja aku sadar sepenuhnya ketika merasakan perih di bawah sana. Sakit tapi aku tidak ingin menghentikannya. 

Di saat aku sedang mencerna keadaan, aku malah terbawa suasana dan mengikuti permainan. 

Akhhh... sekarang perawanku hilang! Aku ingin menangis tapi tidak bisa karena tadi malam aku juga menikmati. Itu bukan pemerkosaan. Aku tidak bisa protes ataupun minta ganti rugi.

"Evrina Arzety, kamu memang sudah gila." 

Aku melihat wajahku dicermin. Bagaimana jika aku hamil? Tadi malam tidak pakai pengaman, kalau minum pil KB sekarang, apakah masih bisa masih bisa mencegah kehamilan?

Aku menggeleng, masih banyak kerabat Roan termasuk orang tuanya yang menginap di hotel ini. Aneh kalau tiba-tiba aku menghilang untuk membeli kontrasepsi. Lagi pula katanya banyak yang gagal di percobaan pertama, aku akan berpikir positif bahwa tidak mungkin hamil hanya karena kesalahan satu malam.

Aku segera menyabuni tubuhku hingga bersih dan keramas, juga berusaha menenangkan diri bahwa tidak akan ada yang terjadi. Semua baik-baik saja. Semalam hanyalah sebuah kesalahan yang tidak akan berdampak apapun.

Namun, kenapa sekarang aku merasa sangat canggung? Ketika membuka pintu kamar mandi mataku bertatapan dengan Roan. Dia sudah mengenakan kemeja putih dan membaca berita. Berbeda dari cerita komik yang aku baca, biasanya CEO kejam akan meninggalkan gadisnya setelah selesai melakukan itu. 

Roan mengalihkan pandangan dan berdehem, dia menscroll ipadnya. Berusaha tidak memedulikanku yang berjalan mengambil pakaian. Hubungan kami sekarang sungguh canggung, tidak ada obrolan seputar jadwal kerja seperti biasanya.

"Saya sudah selesai, Pak."

Aku memakai dress selutut, sepatu hak tinggi dan make up tipis dengan rambut diurai. Jadwal pagi ini adalah sarapan bersama keluarga besar Roan sebelum melepas mereka pulang. 

"Apa... tubuhmu sakit?" Roan tampak canggung.

Ah, dia memerhatikan cara jalanku. Memang sekujur tubuhku masih terasa sakit terutama pinggang. Tapi aku wanita kuat yang tahan banting.

"Nggak terlalu sakit kok, Pak."

Roan melipat kerah tangannya, lalu memasukkan ponsel ke saku. Sekilas menatapku sebelum berjalan ke depan.

"Kalau sakitnya tidak reda, kau bisa berobat menggunakan asuransi dari perusahaan."

Gila, bagaimana bisa aku berobat hanya karena gituan? Kalau dia merasa bersalah harusnya ganti rugi kek. Dari hubungan semalam, sebagai wanita aku yang paling dirugikan. 

"Baik, Pak."

Pada akhirnya aku hanya bisa menjawab seperti itu. Sialnya di surat kontrak tidak tertulis mengenai hal tabu seperti malam pengantin atau bagaimana jika kami memiliki anak. 

Kami berjalan beriringan menuju lantai bawah, kupikir hubungan kami tidak akan berubah sekalipun berstatus suami istri. Ijab kabul kemarin sangat lancar, akting sebagai pasangan yang saling jatuh cinta begitu natural.

Sekarang kami bergandengan tangan di depan keluarganya, terasa canggung. Padahal saat menghadiri acara resmi kantor, aku sering menjadi pasangan Roan. Menggandengnya adalah hal biasa.

"Ehem, pengantin baru udah dateng." Yua mengejek, dia adalah kakak ipar Roan sekaligus sahabatku. 

Dua bocah balita-anak Yua berlari ke arah Roan sehingga Roan melapaskan gandengan tangan kami. 

"Om, bental lagi kita punya ade." Bocah laki-laki bernama Ikram memberitahu Roan. 

Wajah semua orang tampak gembira mendengar berita kehamilan Yua. Aku juga ikut mengucapkan selamat.

"Wah, selamat ya." 

Walaupun Roan mengucapkan selamat, aku tahu hati Roan berdesir sakit. Pasalnya Yua adalah mantan tunangan yang malah menikah dengan kakaknya. Kisah cinta mereka begitu rumit, aku tidak ingin membahasnya. (Novel Aku, Kamu dan Buku Nikah)

Tiba-tiba kakak Roan, Jexeoan menepuk bahunya. Mengisyaratkan untuk kami segera duduk bersama keluarga. Aku merasa sangat kecil jika duduk bersama mereka semua. 

"Wah, Rin. Sepertinya sebentar lagi kita bakal lahiran bareng," ucap Yua.

"Eh, apa maksudnya?"

Bahu Yua menyenggolku, bibir wanita berhijab itu tersenyum menggoda. 

"Tuh," jawabnya. Membuat semua orang yang tadi tidak terlalu mengamati penampilanku kini menoleh.

"Ehem, sepertinya sebentar lagi aku akan nambah cucu," kata ketua pimpinan yang merupakan ayah Roan.

"Mereka nggak mikir capek resepsi dan langsung tancap gas hahaha," ledek sepupu Roan yang lain.

Aku hanya bisa menunduk malu.  

Roan hanya diam diledek, aku melihat Roan yang sedang minum kopi, ekspresinya aneh, ia seperti orang yang... bangga? Keningku berkerut heran. 

.
.
.
Bersambung

Makasih banyak udah mampir. Jangan lupa pencet love dan komen. Baca juga bab selanjutnya ya 🤧🙏