Apartemen
"Kok keluargamu nggak dateng?" tanya salah satu kerabat Roan. 

Aku kembali mengalihkan pandangan ke semua kerabat Roan, mengabaikan Roan yang sedang minum kopi.

"Emb... itu," ucapku terbata-bata.

Memang tidak ada satupun keluargaku yang datang, orang tuaku bercerai, ibuku menikah lagi sejak aku masih kecil. Sementara Bapak kabur meninggalkan banyak hutang. Aku diasuh nenek dan kakekku di kampung dari SD sampai SMP. 

Aku meremas jemari, sulit menjawabnya.

Sebenarnya aku ingin mengundang ibu yang aku ketahui keberadaanya. Hanya saja aku ragu. Berpikir ini hanya pernikahan pura-pura, tidak perlu mengundang. 

Sementara bapakku, aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak. Saat aku lulus SMP tiba-tiba dia menjualku ke keluarga Yua untuk membayar hutang. 

"Ibuku ... itu, beliau..." Aku sungguh bingung.

"Kalau udah selesai makan cepat kalian pulang, mau aku pesenin taksi nggak?" tiba-tiba Roan memotong ucapanku. 

"Kami bawa mobil sendiri, nggak perlu." Kerabat Roan menjawab. 

Mereka mengobrol, menenggelamkan pertanyaan yang tidak bisa aku jawab tentang keluarga. 

Dari dulu aku berjuang sendirian, bagiku keluarga adalah sesuatu yang tidak ada. Aku tidak memilikinya. Yang menemaniku sejak masih gelandangan hingga jadi sekretaris CEO Nathanael Grup adalah cita-cita dan impian.

Aku akan jadi orang kaya dan  membeli apartemen impianku, Apartemen Jakarta Living Star Jakarta Timur. Harganya 399 juta. Selama 4 tahun bekerja banting tulang aku menabung mati-matian demi membeli apartemen satu kamar itu. Meskipun terlihat sempit tapi aku suka. 

Dulu aku hanyalah gadis kampung biasa, teman sebayaku kebanyakan sudah menikah dan sebagiannya lagi menjadi TKW. Ada juga yang kerja di pabrik sebagai buruh. 

Jika saja dulu bapak tidak menyuruhku bekerja sebagai pembantu di rumah Yua. Tidak mungkin aku punya kesempatan bersekolah di SMA elite dan kuliah di UI lalu bekerja di kantor Nathanael Grup. 

Aku bisa sampai sejauh ini dengan kerja keras. Aku tidak memiliki orang tua yang mendukung, harus menghidupi diri sendiri dan berjuang sendiri. 

Uang bayaran nikah kontrak adalah 500 juta. Hutang bapak 80 juta, renovasi rumah nenek di desa 100 juta, sisanya untuk tambahan beli apartemen. Akan aku kerahkan semua tabunganku demi apartemen itu. Aku lelah tinggal di kosan sempit bau got.

"Apa kau sudah mengemas barangmu?" tanya Roan meletakkan cangkir kopi.

Para saudara Roan sudah pamit pulang satu persatu. Mamanya Roan hanya datang sebentar kemarin. Tidak mau kumpul bersamaku. Bisa dibilang dia membenci pernikahan kami. Katanya tidak level. 

Tapi aku tidak peduli karena pernikahan ini hanyalah bagian dari pekerjaan. Mendapat restu atau tidak, itu bukan urusanku.

"Sudah, Pak." 

Aku melihat jam tangan, kami harus berpisah sekarang. Aku ingin segera pulang dan bertemu apartemen kesayanganku. Aku baru pindah dua hari lalu, belum selesai meletakkan barang-barang. 

Aku juga belum merenovasi apartemen, hanya kamar dicat warna kuning kesukaanku. Untuk ruang tamu dan dapur belum aku isi. Nunggu gajian. 

Aku benar-benar senang mendapat pekerjaan dadakan ini, tadinya kuperkirakan bisa membeli apartemen itu di usia 30 an. Tidak ku sangka bisa secepatnya ini. 

"Kalau begitu kirim alamat rumahmu, biar Pak Anto mengambil barang-barangmu." 

"Baik, Pak." Aku mengambil ponsel. "Eh, apa?" Kepalaku meneleng, baru sadar ucapannya barusan. "Buat apa Pak Anto ngambil barang-barangku?" 

"Kita akan tinggal serumah selama pernikahan berlangsung," jawabnya. 

"Ehhh...." 

Aku terkejut, mencoba mengingat isi perjanjian pernikahan. Tidak disebutkan bahwa kami harus tinggal bersama. Isi perjanjian yang paling aku ingat adalah privasi akan terjamin dan kami hanya akan menjadi suami istri di hadapan orang-orang. 

"Tapi, Pak. Kayaknya di perjanjian nggak disebut kita harus tinggal bareng." 

"Pasal 7 ayat 1 menyebut bahwa kita tidak boleh ketahuan. Itu berarti kita harus tinggal bersama." 

Tidak boleh! 
Bagaimana dengan apartemenku? Aku melakukan pernikahan kontrak ini demi mendapatkan apartemen itu. Bagaimana bisa tidak aku ditempati? Apalagi sekarang aku masih sayang-sayangnya.

"Kita kan bisa tinggal terpisah, Pak. Yang paling penting tidak ketahuan, iya 'kan?" 

"Apa kamu bisa menjamin tidak ketahuan? Apa kamu ingat kalau ketahuan berarti kamu harus mengembalikan uang yang sudah diterima?" 

Tidak mau! Uang itu sudah menjadi apartemen, tidak mungkin aku menjual apartemenku kembali. Setiap hari aku memimpikan memiliki apartemen itu. 

Saat pertemuan pertama dengan apartemen, jantungku berdebar kencang seperti jatuh cinta. Aku tidak rela berpisah dengannya.

"Baiklah, Pak." 

Aku ingin menangis, meninggalkan apartemen hampir seperti meninggalkan belahan jiwa. Sabarlah apartemenku sayang, hanya 6 bulan. Setelah itu aku akan pulang dan bersamamu selamanya. Hiks. 

"Apa kita akan tinggal di rumah keluarga Nathanael?" 

"Tidak, kita akan tinggal di penthouse." 

"Penthouse yang belum lama anda beli dari kakak anda?" 

"Iya," jawabnya. 

Beberapa waktu lalu Jexeon menjual penthouse, hunian mewah yang berada paling atas sebuah gedung apartemen. Kemarin aku yang mengurus proses pembeliannya. 

Sebenarnya Jexeon tidak mau dibayar, katanya kalau Roan suka Penthouse itu maka untuk hadiah pernikahan Roan saja. Tapi Roan menolak, dia membeli itu karena Jexeon ada masalah keuangan.

Katanya Jexeon menolak warisan dari ayah mereka dan hidup sederhana, tapi istrinya, Yua adalah putri konglomerat. Mungkin ada kesenjangan di antara mereka, aku tidak paham urusan orang kaya. 

"Saya akan melihat lokasi dan mempersiapkan perabotannya terlebih dulu," kataku. 

"Pilih kualitas terbaik, buang saja perabot lama di penthouse itu." 

"Baik, Pak. Dalam waktu tiga hari semua akan siap." 

"Sehari harus jadi." 

"Eh, sulit untuk mendapatkan semua perabot dan memasangnya hanya dalam waktu sehari, saya juga harus melihat lokasi untuk memesan ukuran perabot." 

Padahal untuk apartemenku sendiri saja belum diapa-apakan, sekarang aku harus sibuk mengurus apartemen orang. 

"Terus, selama kamu mempersiapkan penthouse. Kita tinggal di mana?" tanya Roan. Meninggikan alis. 

Kenapa dia menanyakan hal yang sudah pasti? Tentu saja di rumah masing-masing. 

"Saya tinggal di apartemen saya, lalu anda tinggal di rumah anda dengan nyaman. Setelah semua siap, kita bisa pindah."

"Kau sudah tidak waras! Pengantin baru tinggal terpisah bisa membuat orang curiga." 

"Kalau tetap di hotel saja gimana?" 

"Lebih baik kita tinggal sementara di rumah keluarga Nathanael," katanya. 

Sepertinya dia yang sudah gila, aku tidak bisa tinggal di rumahnya. Apa dia lupa hari ketika kami meminta restu ke Mamanya? Aku disiram segelas air sembari diumpat dengan kalimat kasar. 

Bahkan teriakan Nyonya Rosa masih terngiang sampai sekarang.

"Berani-beraninya kamu menggoda anak saya!" Teriak Nyonya Rosa kala itu. 

"Ma! Rin nggak pernah menggodaku!" 

Aku mengelap wajahku yang basah dengan tangan, sudah pasti eyeliner dan make up murahku luntur. 

"Pasti kamu diguna-guna wanita miskin ini, 'kan? Sadar Roan! Dia cuma ngincer uang kamu." 

Benar, aku hanya mengincar uang Roan supaya bisa membeli apartemen impian. Aku mau menikah karena uang. Nyonya Rosa seperti peramal. 

"Rin mencintaiku dengan tulus, kami saling mencintai. Kalau Mama nggak mau merestui pernikahan kami, lebih baik aku melajang seumur hidup!" 

Drama konglomerat, aku hanya diam di antara mereka yang berdebat. Nyonya Rosa memegang keningnya, dia tampak kacau dengan wajah memerah karena marah. 

Ini saatnya aku melakukan pekerjaanku supaya bisa beli apartemen. Aku berdiri dan berlutut di depannya. Membuat dua orang yang sedang bertengkar itu berhenti.

"Saya tulus mencintai Pak Roan! Kalau kami nggak menikah bagaimana nasib...." Aku mengelus perutku yang rata sembari menunduk. Pura-pura terisak. Mataku memelas seperti kucing malang.

Nyonya Rosa mengalihkan pandangannya ke Roan dengan tatapan shock, dia memegang kepalanya hingga tubuhnya oleng hampir jatuh. 
.
.
.
.
Bersambung