Siap
Langit dipenuhi taburan bintang dengan bulan bersinar terang, angin berembus menerpa wajah Roan. Dia ada di balkon kamar. Melihat sekitar yang hanya diterangi lampu. Di bawahnya ada kolam renang. Cahayanya memantul menyilaukan. 

Sekarang sudah pukul sembilan malam, biasanya dia akan membaca buku sebelum tidur. Hangat di ranjang dengan selimut dan AC yang menyala. 

Namun, sekarang di dalam sana ada Rin. Melihatnya memakai baju tidur akan membuat mereka canggung. Padahal sebelumnya mereka sering dinas keluar negeri bersama. 

Tapi hubungan profesional tidak ada kecanggungan sama sekali, mereka bekerja seperti atasan dan karyawan seperti biasa. Tidak ada romansa kantor sedikitpun.

"Pak," panggil Rin. 

Pada akhirnya Roan menguatkan jantungnya untuk masuk ke dalam. Mereka harus melupakan kecanggungan supaya bisa kembali normal. 

"Iya," jawabnya sembari membuka pintu kaca. 

Rin sudah memakai baju tidur, di tangannya ada jas dan perlengkapan kantor.

"Pak, besok ke kantor mau pakai jas ini atau itu?" 

"Besok masih libur." 

"Loh, aku nggak ngambil cuti tuh Pak." 

"Kenapa nggak cuti? Bukannya udah aku bilang tadi?" 

Rin menyipitkan mata, terlihat kesal. Roan memberitahu Rin tadi pagi bahwa hari ini libur, tapi tidak memberitahu bahwa besok juga harus libur.

"Kenapa Bapak baru bilang? Aku cuma ngajuin cuti cuma dua hari. Hari H pernikahan dan kemarin. Besok aku udah masuk kantor, Pak." 

"Libur sehari lagi, aku lelah dan besok akan membereskan penthouse. Aku bisa tenang setelah pindahan." 

"Terus aku gimana, Pak?" 

"Kamu juga liburlah, kamu kan harus beresin penthouse." 

"Lah, tadi pagi bilang percaya sama Mirna soal beresin Penthouse? Kok sekarang nyuruh aku lagi?" 

Mirna tidak pernah membuat Roan puas. Hasil kerjanya sering berantakan.

"Kamu lupa Mirna kayak apa? Udah jangan membatah. Besok kamu beresin penthouse." 

"Kalau besok aku nggak berangkat ke kantor, gajiku bisa dipotong, Pak!" 

"Halah cuma dipotong sehari aja," jawab Roan santai. 

Rin terlihat sangat kesal, Roan bisa melihat ada api di punggung Rin, seperti ingin menerkamnya. 

Kalau bicara soal uang dan potong gaji, Rin akan berapi-api. Wanita penyuka uang itu paling benci jika kehilangan pundi-pundi rupiah.

"Tapi Pak--" 

"Kamu mau membantahku?!"

"Nggak, Pak." 

Rin mengembuskan napas berat dengan kesal. Dia menyerah dan kembali ke ruang pakaian untuk mengembalikan pakaian kantor.

Roan tidak tahu apa yang ada di pikiran wanita itu, di saat seperti ini masih memikirkan uang dan pekerjaan. Padahal dia akan tidur satu kamar dengan pria. Tapi tidak ada gugupnya sama sekali. Roan menggelengkan kepala. 

Ia naik ke atas ranjang,  menyandarkan kepalanya sembari membaca buku. Sementara Rin baru keluar dari ruang pakaian dan bertatapan mata dengan Roan. 

Mereka saling membuang muka, Roan pura-pura tidak peduli dengan kehadiran Rin di ranjang. Padahal jantungnya berdebar kencang. 

"Pak," panggil Rin lirih. Membuat Roan semakin gugup. 

"Hemm." Roan memperlihatkan dirinya yang tenang dan cool. 

"Bukunya kebalik, Pak." Kata Rin lagi. 

Roan langsung batuk-batuk. Merasa sangat bodoh hingga malu setengah mati. 

"Ini untuk melatih otot mata, kecerdasan akan meningkat kalau membaca buku terbalik, jangan bilang kamu baru tahu?!" 

Hanya sikap arogan yang bisa Roan tunjukkan untuk menutupi kebodohannya. Ia ingin menghilang saja ke ujung dunia. 

"Oh, gitu." 

Rin tampak tidak percaya dan mengangkat sebelah alisnya, meremehkan. 

Roan geram tapi tidak bisa membalas, ia akan terlihat semakin bodoh. Karyawannya satu ini level kelicikannya di atas rata-rata. Roan pernah lihat Rin membuat klien menutup mulut. Berdebat dengan Rin hanya akan berakhir mengenaskan. Bersyukur dia adalah bos, jadi Rin masih sungkan padanya.

Sikap yang cuek dan tenang membuat Rin selalu berpikir rasional.  Kalau wanita lain pasti sakit hati dikatai macam-macam oleh ibu mertua, tapi Rin sangat enjoy seperti tidak terjadi apapun. 

Tok tok tok
Pintu diketuk, Rin turun dari ranjang dan membukanya. Terlihat Angel memakai baju tidur seksi berwarna merah melambaikan tangan pada Roan. 

"Ada apa, Angel?" tanya Rin. 

"Aku mau ngomong sama Roan bentar," jawabnya. 

Roan turun dari ranjang, menghampiri Rin dan Angel yang berada di pintu. 

"Ada apa?"

Ketika makan malam, Mama meminta Angel menginap. Roan lelah dijodohkan padahal sudah menikah. Mamanya masih saja bersikeras supaya dia menikah dengan Angel. 

Awalnya dia juga menyukai Angel dan berpikir untuk menikahinya. Wanita itu cantik, anggun dan berbakat. Roan pikir Angel bisa menjadi pendamping hidup yang cocok. 

Namun, mantan tunangan Roan adalah Yua. Gadis berhijab yang sangat terjaga kesuciannya. Ia risih ketika mampir ke Inggris dan bertemu Angel dalam keadaan mabuk-mabukan. 

Bahkan ia pernah memergoki wanita itu tidur dengan pria lain, Angel tidak merasa bersalah sama sekali. Bilang bahwa ia melakukan itu hanya untuk bersenang-senang. Ia akan berhenti jika sudah menikah dengan Roan. 

Pada saat itu juga Roan membatalkan rencana menerima perjodohan, selama ini dia menjaga diri, tidak merokok, minum alkohol apalagi sex bebas. Papanya adalah orang yang disiplin. Mengajarinya agama dan membuatnya menjadi pria sejati. 

"Temani aku minum kopi, yuk?" Ajak Angel.

Angel memang cantik dengan rambut pirang dan tubuhnya yang sexy. Meskipun demikian, Roan tidak mau barang bekas. Dia suka yang masih ori tersegel. Apalagi dia yang membuka segelnya seperti segel Rin. 

Roan merangkul pundak Rin. "Maaf ya, kamu tahu aku masih pengantin baru. Jadi nggak bisa ninggalin istriku." 

Roan menggunakan Rin sebagai tameng.

Angel salah tingkah. "Oh, iya. Maaf mengganggu waktu kalian." 

"Nggak papa," jawab Roan sembari tersenyum dan melambaikan tangan. Mengusir Angel dengan halus. 

"Tapi kalau kamu ada waktu, aku di kamar sebelah."

"Iya, selamat istirahat," kata Roan. 

Tiba-tiba Rin melingkarkan tangannya di tubuh Roan, ia memeluk Roan dengan manja. 

"Malam ini Roan sangat sibuk sayang-sayangan sama aku, kami kan pengantin baru jadi yahh kayak gitu. Masih panas-panasnya, hihi." 

Rin mengatakannya dengan ekspresi pura-pura malu. Dia wanita yang sama liciknya dengan Angel. 

"Ah, iya. Baiklah. Selamat menikmati waktu kalian." Akhirnya Angel pergi dengan kecewa.

Pintu ditutup, Roan mendesah berat sembari melepaskan rangkulannya. 

"Kamu bilang kayak gitu, apa kamu tahu kalau kamar ini nggak kedap suara?" tanya Roan. 

"Loh, masak nggak kedap suara? Kalau Angel di sebelah berarti dia denger dong?" 

Roan menyilangkan tangan di depan dada. Menyipitkan matanya. Sekarang Angel harus dengar adegan panas untuk meyakinkan ucapan Rin. 

Roan mendekatkan wajah, sedikit menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Rin. 

"Apa kamu siap?" 

"Eh, siap apa?" 

"Siap nggak siap kamu harus siap untuk meyakinkan Angel yang sedang menguping kita." 

Bola mata Rin membulat karena terkejut, pipinya memerah. Dia seperti membayangkan sesuatu.

.
.
..
Bersambung

Gaes. Bantu share cerita ini ya ಥ‿ಥ

Oh ya jangan lupa komen buat yang ikutan Giveaway. 

Hadiah Giveaway :

- Novel Bidadari Jingga untuk 3 orang pemenang
- Pulsa 200 ribu untuk 2 orang pemenang (masing-masing 100 ribu)
- novel cetak bebas pilih untuk satu orang.
- Token listrik 150 ribu untuk 3 orang (masing-masing 50 ribu)

Pantau Instagramku @ka_umay8 buat ikutan GA nya 🤗

Cerita ini akan dikunci setelah 15 part. Jadi pantau terus. Jangan tumpuk bab biar dpt gratisan ya gaes