Ranjang
Aku menyipitkan mata dengan bibir yang otomatis naik satu, ekspresi nyinyir yang jarang ditunjukkan di depan orang lain apalagi Roan. 

Roan kembali menoleh, gugup melihatku yang seperti orang marah. 

"Kenapa? Benar 'kan dari pada bohong mending hamil beneran." 

"Nggak usah ngadi-ngadi deh, Pak." 

Aku sudah mulai mengikhlaskan perawanku untuknya, tidak mungkin mau menyerahkan rahimku juga. Apalagi hidupku. Iuhhh.

Selama hidup aku belum pernah bahagia, sekarang usahaku tinggal dikit lagi. Sampai aku bisa lepas dari pernikahan palsu ini, punya apartemen dan tabungan. Aku bercita-cita liburan ke Bali dan makan banyak lobster di pinggir pantai.

Aku tidak mau rencanaku kacau karena Pak Roan menitipkan embrio di dalam tubuhku, darahku akan ikut terseret juga dan pasti impianku hancur. Aku akan terjebak hubungan rumit dengan keluarga Nathanael selamanya. Oh no banget.

Aku ingin menikah di usia 27 tahun, tapi sebelum itu aku ingin mencoba banyak hal menyenangkan seperti terjun payung, mendaki gunung dan berkemah. Dari dulu aku ingin melakukan semua itu tapi terbatas biaya.

Kalau soal menikah, aku ingin menikah dengan pria yang bersyukur memilikiku bukan aku yang bersyukur memilikinya. Cintanya padaku harus lebih besar dari cintaku padanya. Juga keluarganya menerima segala kekuranganku. 

Rumah tangga seperti itu pasti akan harmonis, aku bisa hidup nyaman di dan melahirkan anak-anak yang lucu. 

Dari kriteriaku, Roan tidak masuk sama sekali. Dia orang narsis yang menggangap dirinya istimewa dan spesial. Ada kalimatnya yang selalu teringat. 

'Harusnya mereka bersyukur ada aku' atau 'sudah untung aku mau datang' atau 'nggak ada pria yang lebih sempurna dari aku' sungguh narsis sekali. Ditambah kesenjangan sosial di antara kami. Sudah pasti Roan tidak akan pernah bersyukur memiliki istri sepertiku. 

"Aku cuma asal ngomong, jangan dianggap serius." Roan mengambil minum. Lalu mengelap bibirnya dengan tissue. 

"Kalau diaminin malaikat lewat gimana?" 

"Nggak usah khawatir, percobaan pertama jarang berhasil. Kecuali kedua atau ketiga." 

Ah, aku masih belum siap membahas percobaan semalam. Lebih baik tutup pembicaraan ini sebelum semakin jauh. 

"Lobster ini enak, Pak. Ayo nambah lagi." Aku mengambil lobster dan langsung memakannya dengan lahap. 

"Kamu suka sekali sama lobster?" tanya Roan. 

Seharusnya dia sudah hafal, setiap dinas aku selalu memesan lobster. 

"Iya, Pak. Aku suka banget." 

"Kenapa lobster dan bukan udang seperti orang kebanyakan?" 

"Karena lobster mahal. Aku suka sesuatu yang mahal." 

Karena barang mahal itu istimewa, aku harus bersusah payah dulu untuk mendapatkannya.

Aku menikmati lobster tanpa risih atau sungkan, tidak peduli juga dianggap menantu tidak tahu diri. Yang penting makan enak dan punya uang. Kakiku terus bergerak, menikmati betapa enaknya lobster mahal yang dimasak keluarga ini. 

Inikah rasanya jadi menantu orang kaya? Makanan enak setiap hari, pakaian mahal dan branded. Roan membelikan pakaian branded untuk seserahan. Lumayan kalau kepepet bisa aku jual. 

Aku tidak perlu cuci piring setelah makan, tidak perlu masak dan bersih-bersih. Enaknya jadi menantu orang kaya, selama aku tidak mengambil hati ucapan Nyonya Rosa, semua akan baik-baik saja. Aku harus menikmati semua ini sebelum bercerai.

"Aku mau ke kamar," ucap Roan. 

"Ini belum habis, Pak!" 

"Nggak perlu dihabisin." 

"Sayang mubazir, boleh dibungkus nggak?" 

"Kamu pikir ini warteg?" 

"Oh iya ya, kalau gitu nanti bisa diangetin lagi." 

"Makan malam akan dimasakkan yang baru, cepat sudahi dan ayo ke kamar. Kau harus membereskan pakaian." 

Aku cemberut, meletakkan kaki lobster. Minum dengan cepat dan berdiri mengikuti Roan. Aku harus terbiasa mengikuti gaya hidup orang kaya yang membuang-buang makanan. 

Dulu saat aku masih menempuh S1 dan kerja di restoran. Aku selalu ngiler melihat makanan enak, Chef pernah memergokiku menyembunyikan makanan sisa pelanggan. Aku pun dimarahi. 

Tapi aku mengelak dengan dalih tidak mengambil makanan sisa dapur, tapi sisa pelanggan. Makanan sisa pelanggan akan dibuang sementara sisa dapur akan ditaruh di kulkas, kecuali sayur yang sudah tidak segar akan dibuang. 

"Aku emang nggak bisa debat ngelawan kamu, ambilah sesukamu tapi jangan ambil sisa dapur." 

"Kalau sayuran yang udah nggak segar masak nggak boleh diambil?" 

"Cih, sayuran itu akan dijual ke pasar lagi." 

"Bohong, kalau dijual lagi pasti ngambisin biaya transport. Apalagi cuma sekilo dua kilo. Manager nggak mungkin mau. Aku juga nggak pernah liat sayuran itu dibuang walaupun katanya dibuang. Hmm hilang kemana ya sayuran itu?" 

"Kamu ngomong apa sih?!" 

"Aku liat kok Chef ngambilin sayuran." 

"Kalau kamu bicara tanpa bukti aku bisa lapor ke manager supaya kamu dipecat." 

Aku menunjukkan foto yang diambil beberapa hari lalu. Chef tengah memasukkan bahan makanan tidak ssgar ke tasnya. Bahan makanan tidak segar sebenarnya tidak boleh diambil karyawan, karena akan menjadi rebutan. Jadi supaya adil restoran akan membuangnya.

"Rin, jangan bicarakan ini pada siapapun. Nanti kamu boleh ambil sayuran yang sudah nggak segar juga. Kita berbagi oke?" 

"Oke." Aku memainkan alisku. Setuju membagi sayuran sisa. 

Sejak saat itu makanku terjamin, tidak kelaparan lagi karena bisa membawa pulang makanan sisa pelanggan dan sayur sisa restoran. Tinggal membeli beras saja, enak sekali. Aku juga jadi bisa membawa bekal ke kampus. Tidak lagi melongo ketika teman-teman makan. 

Aku harus hemat untuk keperluan kampus, walaupun mendapat beasiswa, tapi biaya kosan, ongkos naik angkot, beli laptop, biaya printer, fotocopy dan beli buku dari hasil kerjaku sendiri. Ah, masa-masa itu sungguh berat. 

"Rin, campur saja pakaian kita." Roan memecah lamunanku tentang masa lalu. 

"Nggak bisa, Pak. Nanti nggak rapi." 

"Buat apa rapi, toh kita cuma dua hari di sini." 

Roan menjatuhkan diri ke ranjang, sementara aku masih berada di ruang pakaian. Seperti orang kaya pada umumnya, ruang pakaian ini penuh dengan barang branded berharga ratusan juta. 

Aku beli baju di pasar, diskon pula. Kecuali baju untuk acara penting. Biasanya beli yang second atau KW. Tapi pakaianku yang sedang ditata di lemari ini adalah barang mahal. Roan yang membelikan, katanya supaya dia tidak malu. 

Selesai membereskan barang-barang, aku menemui Roan yang sedang bersantai di ranjang. Dia membaca buku keuangan. 

"Pak, nanti malam aku tidurnya di mana?" 

Roan menepuk ranjang tanpa melihatku. Ranjang king size yang bisa buat koprol saking lebarnya.

"Jangan bercanda, Pak."

"Aku serius." 

Apa dia ingin insiden tadi malam terulang? Katanya privasiku terjamin, tapi kenapa seperti ini? Dia mau melanggar perjanjian. 

"Di kontrak tertulis Bapak akan menjamin privasiku, jadi kita nggak bisa tidur seranjang kayak gini dong, Pak." 

"Iya, benar. Tapi posisinya sekarang kita berada di rumah keluarga. Kamu nggak ada pilihan lain selain tidur di kursi sambil duduk atau di ranjang bersamaku." 

Dia adalah orang kejam, pasti sudah menduga hal ini. 

"Di kontrak tertulis pelanggar harus membayar denda 5 juta. Bapak udah nglanggar isi kontrak dan buat aku nggak punya privasi."

"Kamu ribet banget jadi orang." Roan mengambil ponsel.

Tak lama kemudian ada notifikasi di ponselku. Transferan uang 5 juta. 

"Tuh, puas?" tanyanya.

"Sering-sering ngelanggar kontrak ya, Pak. Hehe." Aku tersenyum senang. Uang uang uang. Tabunganku buat liburan ke Bali makin banyak. 
.
.
.
.
Bersambung

Makasih banyak udah mampir, jangan lupa like, komen dan share cerita ini ya manteman 😘