Rumah
Kami saling diam sepanjang perjalanan ke rumah keluarga Nathanael, aku menguap beberapa kali. Tadi malam aku tidak ingat tidur jam berapa, terakhir kali mengobrol dengan teman-teman Roan jam 11 malam. Kemungkinan aku tidur jam satu atau jam dua. Aku lupa. 

Sekarang aku ingin sekali bisa tidur siang. Aku cukup bersyukur karena Pak Roan meminta istirahat, mungkin saja hari ini aku benar-benar bisa istirahat. 

Mobil memasuki halaman rumah, luas dengan taman yang terawat. Rumah orang kaya ini sering aku masuki sampai bosan. Hanya dua hari tinggal di sini, semoga saja aku bisa beradaptasi.

Sepertinya pikiranku terlalu positif, di rumah keluarga Nathanael. Aku disambut Nyonya Rosa dan Angel. Gadis bermata biru itu blasteran Indonesia-Inggris. Suka dengan Roan sejak dulu, katanya mereka teman masa kecil. 

"Putraku sudah kembali," ucap Nyonya Rosa cipika-cipiki dengan Roan seolah putranya itu pulang dari luar negeri. 

"Sudah lama kita nggak ketemu," kata Angel. Memeluk Roan. Dia melirikku sembari tersenyum memanas-manasi. 

Aku hanya menguap, tidak peduli. Impianku adalah apartemen. Tidak peduli dengan saingan cinta seperti Angel. 

Ah, ralat. Saingan cinta kalau aku mencintai Roan. Sayangnya aku katakan 'No' untuk hal mengerikan itu. Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan mahkluk narsis yang sering berlaku kejam padaku. Ditambah memiliki ibu mertua seperti Tante Rosa. Nanti aku bisa gila. 

"Gimana kabarmu?" tanya Roan setelah Angel melepas pelukannya. 

"Kabarku baik, seharusnya kemarin aku menghadiri pesta pernikahanmu, sayangnya penerbanganku dibatalkan dan baru sampai pagi ini." Angel memasang wajah menyesal. Rambut pirangnya diselipkan di telinga. Memperlihatkan betapa anggunnya dia.

"Angel datang jauh-jauh dari Inggris buat ketemu kamu, dia baik banget." Nyonya Rosa sangat antusias dengan Angel. 

Gadis itu sering digosipkan pacaran dengan Roan, ia adalah putri pemilik brand Kenel. Brand tas dan pakaian terkemuka asal Inggris dan terkenal di berbagai negara termasuk Indonesia. 

"Saya Rin, istrinya Roan. Salam kenal." 

Aku memperkenalkan diri padahal tidak dikenalkan, tidak tahu malu sekali, tapi Nyonya Rosa sudah memancingku seperti ini. Aku hanya ingin mengambil pancingannya. 

"Ah, iya. Aku Angel. Salam kenal juga." 

"Setelah pesta kemarin dan mengalami malam panjang dengan Roan, aku capek banget. Boleh nggak kita langsung masuk?" tanyaku. Menggandeng tangan Roan. Mesra.

Pria itu melihatku, kemudian berdehem. 

"Ayo masuk, kamu pasti lapar sayang." Roan tersenyum padaku. Akting seperti biasa. 

Aku mengangguk sok imut. 

"Cih, cepat masuk." Nyonya Rosa akhirnya mempersilakan kami masuk dan mempersingkat durasi pamer untuk memanasi. 

Kami langsung menuju meja makan, sudah banyak makanan di meja. Mataku berbinar melihat lobster, hewan laut mahal itu sudah lama tidak masuk mulutku. 

Terakhir kali makan lobster beberapa bulan lalu ketika dinas ke Korea bersama Pak Roan, makanan di sana enak tapi tidak terjamin halal. Sangat sulit mencari makanan halal di negara lain sementara Pak Roan tidak mau asal masuk ke restoran. 

Pak Roan itu sukanya yang halal, makanya aku harus menyiapkan banyak hal sebelum kami berangkat dinas. Katanya makanan tidak halal dapat membuat hidup seret. 

Ah, mungkin itu juga alasannya dia tidak pernah tergoda dengan para wanita. Padahal selama ini banyak wanita yang menawarkan tubuhnya untuk Roan. Katanya tidak apa bayarannya dikit asal bisa bersama Roan. 

Tapi dengan tegas Roan menolak, katanya mereka semua hanyalah orang rendahan yang ingin memiliki anak darinya. Untuk mengikatnya dan menjadi nyonya Nathanael. 

Memang benar hanya wanita bodoh yang mau dengan Roan, mereka tidak tahu sifat asli Roan yang menyebalkan juga Nyonya Rosa yang nyinyir. Kehidupan pernikahan bisa jadi neraka kalau masuk rumah ini. 

"Angel, mau berapa hari kamu tinggal di Indonesia?" tanya Nyonya Rosa setelah kami semua duduk. 

"Niatnya aku ingin menetap di sini Tante, aku ingin membuka butik dari desainku sendiri." 

"Wah, kamu memang berbakat sekali, dari keluarga terhormat dan punya keahlian. Kamu memang sangat cocok dengan Roan." Nyonya Rosa memuji habis-habisan. 

Bayangkan kalau aku menikah dengan Roan karena cinta, sudah pasti ada adegan menantu menangis dan minta pulang ke rumah orang tuanya. 

Mungkin saja Nyonya Rosa sengaja seperti itu karena berpikir akan membuatku merasa tersisih dan pergi.

Sayangnya aku tidak punya orang tua, bukan menikah karena cinta, dan keinginanku beli apartemen sudah tercapai, ditambah tadi dibelikan perabot rumah oleh Roan. Lalu sekarang aku sedang menikmati lobster yang enak. Jadi aku tidak ada alasan membuat adegan sinetron ikan terbang.

"Ma, jangan bicara begitu." Roan membelaku yang tidak peduli keadaan dan terus makan. 

"Memang benar 'kan Roan? Angel ini yang seharusnya menjadi menantu di rumah ini, bukan wanita miskin itu." 

"Ma...." 

"Kamu ini memang tidak bisa memilih wanita! Padahal Angel jelas-jelas lebih baik dari wanita miskin yang tidak jelas asal usulnya." 

Drama konglomerat, sudah biasa. Terasa banyak paku menghantam diriku. Cacian Nyonya Rosa tentang wanita miskin, tidak jelas asal usulnya, tidak pantas untuk Roan. 

Tapi aku tidak peduli, hahahaha. Yang penting punya apartemen. Yey! Perabotanku nanti datang jam berapa ya? Mirna harus memberi foto supaya aku bisa terharu. 

Pencapaian selama 4 tahun kerja keras banting tulang. Sekarang aku punya rumah sendiri dan uang tabungan dari mahar. Nikmat mana yang kau dustakan? 

Aku menyela di perdebatan mereka. "Ah, nggak papa. Silakan kalian mengobrol, aku cuma ingin makan. Jangan sungkan ya, Angel. Anggap rumah sendiri. Ayo makan yang banyak." 

"Nafsu makanmu banyak sekali, kamu seperti orang kelaparan." 

Angel menghinaku dengan tatapan merendahkan. Seolah aku tidak pernah makan enak. Dia benar, sangat benar. Demi beli apartemen tercinta, aku tidak pernah makan enak selain saat dinas. 

Aku memegang perutku. "Mau gimana lagi, di dalam sini butuh makanan bergizi." Aku mengelus perutku. Mataku berkedip beberapa kali sembari tersenyum tanpa rasa bersalah.

Maksudnya cacing ya, tapi Roan malah tersedak. Angel terlihat sangat kesal, dia kalah. Menganggap aku beneran hamil. 

Pernikahan ini disiapkan selama sebulan, dua minggu sebelum menikah kami meminta restu, Roan sengaja seperti itu supaya tidak bisa dibatalkan. Undangan sudah disebar dan kalau orang tuanya tidak mau menanggung malu, mereka harus merestui. 

"Hah, wanita seperti kamu mau melahirkan cucuku? Jangan mimpi!" 

Nyonya Rosa menggebrak meja dan meninggalkan meja makan. Kebiasaan kalau kalah ia akan seperti itu. Aku sudah hafal. 

Angel mengikutinya, memegang kedua bahu Nyonya Rosa dan berusaha menenangkan. Kini tinggal aku dan Roan di meja makan, dari tadi aku tidak melihat ayahnya Roan. Mungkin berada di perusahaan. 

"Apa yang akan kau lakukan dengan mengaku hamil?" tanya Roan. Menatapku. 

Aku mengangkat bahu, pura-pura hamil selalu ampuh dalam pertarungan antara menantu dan mertua. Aku akan menggunakannya selama 3 bulan.

"Nanti kalau udah 3 bulan aku akan bilang keguguran," jawabku santai.

Roan memutar bola mata jengah, dia kembali mengambil sendoknya sembari bergumam. "Sekalian aja hamil beneran." 

"Eh, apa?" 

.
.
..
Bersambung

Mohon bantuannya bagiin cerita ini ke temen, sodara, sepupu, suami, istri, pacar, mantan, selingkuhan, bude, pakde, tetangga, kakek, nenek, musuh dll ya manteman 🥺🙏