Bangkit

Aku tak pernah tau pasti apa yang sebenarnya terjadi pada ibu. Yang kuingat, dulu saat pertama duduk di bangku SMA, tiba-tiba kami sering melihat ibu termenung di halaman belakang. 

Ayah tak pernah selingkuh, tidak juga memukul. Tidak ada drama seperti yang lazimnya merusak pernikahan.

Hanya saja hidup ayah terlalu monoton. Kami tak pernah menikmati hidup yang benar-benar menyenangkan.

Datar.

Tidak ada liburan keluarga, tidak ada makan-makan di luar, tidak ada kalimat romantis, atau ekspresi sayang. 

Namun di sisi lain ayah sangat pandai melakukan pekerjaan rumah tangga, sementara ibu sebaliknya. Melihat pekerjaan ibu yang sering tak rapi, ayah memilih membersihkan sendiri rumah. Melihat ibu tak enak memasak, ayah juga yang akhirnya sering terjun sendiri ke dapur. Bahkan aku dan adik-adikku lebih suka masakan ayah daripada ibu.

Barangkali ketelatenan ini terbentuk karena didikan orang tua masing-masing yang punya banyak perbedaan. Ibu dibesarkan dari keluarga berkecukupan, sementara ayah sebaliknya. Ayah terbiasa hidup dalam susah, hingga menjadi cekatan. Sementara ibu terbiasa dengan kemudahan, jadi tak terbiasa melakukan hal sulit.

Sebagai ayah, beliau menjalankan tugasnya dengan baik. Ia seorang karyawan swasta yang pekerja keras. Ayah juga membekali kami ilmu agama.

Lalu, orang-orang mulai mengatakan hal tak baik untuk ibu.

Bahwa ibuku tak becus jadi istri.

Padahal ibu telah melakukan semampunya, walaupun itu tak pernah sebaik ayah.

"Kasihan suaminya, udah capek kerja, pulang masak lagi."

"Suaminya baik sekali, ganteng pula. Nah istrinya malah gitu."

Orang hanya menilai ibu dari ketidakpiawaiannya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Padahal bagiku, ibu sangat baik, sangat penyayang. Tak pernah sekalipun kami mendengar ia membicarakan keburukan orang lain.

Ibu bahkan pernah bersusah payah menjadi tenaga kontrak di awal pernikahan, demi membantu finansial ayah. Lalu saat ayah sudah mapan, ibu diminta ayah berhenti agar fokus mengurus rumah tangga.

Namun sayangnya, ibu merasa stuck di rumah, seperti sudah nyaman bekerja kantor. Hingga saat di rumah ibu bingung harus melakukan apa dan bagaimana.

Menyetrika saja ibu tak bisa, masakan ibu juga payah.

Hampir semua yang ibu lakukan: salah.

Setidaknya demikian kata ayah, walaupun tak pernah sekalipun diucapkan dengan nada tinggi.

Saat memasuki usia kepala empat, ayah dipromosi sebagai kepala cabang. Secara rupa, ayah makin tampan. Sementara ibu yang seumuran dengannya ayah, malah terlibat lebih tua.

Ibu makin merasa tertekan, tak bisa menyeimbangi ayah. Ayah yang sempurna, ayah yang bisa segalanya. Ibu suka cemas kalau ayah akan meninggalkannya. Lalu mulai menuduh ayah selingkuh, punya istri lain dsb.

Lalu perlahan ibu mulai seperti kehilangan akal sehatnya. 

***

“Aku mencintaimu Tami.”

Namaku Cahaya Tsabita. Tapi orang terdekat dan lelaki dihadapanku kini lebih suka memanggil dengan nama kecil dulu.

“Maukah kamu menikah denganku?”

Lelaki yang mencintaiku itu bernama Rama, sosok yang kukenal di sebuah organisasi kepemudaan. Ia baru baru lulus menjadi abdi negara tahun ini. Walau baru berusia 24 tahun ini, tapi lelaki itu ingin menikah muda.

"Kalau memang orang tuamu setuju ...” ucapku tersipu lalu mengangguk.

Padahal saat itu baru satu tahun tamat SMA dan tidak kuliah, karena ayah mengalami memiliki banyak pengeluaran untuk mengobati ibu. 

Namun aku tak ingin menunda menikah, saat merasa sudah bertemu dengan lelaki yang tepat. 

Namun segala mimpi Indah yang baru tersemai itu segera hancur, saat tiba-tiba ibunya mengajak bertemu.

"Saya tahu kalau ibumu sakit."

Lalu mengalirlah kalimat panjang yang terdengar menyakitkan itu. Secara tersirat Bu Salma sedang mengatakan bahwa tak mau berbesan dengan orang gila.

"Kami hanya khawatir kalau nanti kamu seperti ibumu juga. Gila."

Aku menahan emosi dalam kepalan tangan, tega sekali dia berkata seperti itu.

"Jangan dekati anak saya lagi. Dia sudah saya jodohkan dengan anak seorang pejabat di kota ini. Anak kuliahan." ucapnya seolah aku yang tamatan SMA tak layak bersanding dengan anak lelaki satu-satunya.

Patah hati telah membuatku menangis seharian saat itu. Seminggu aku tak kemana-kemana, di rumah saja. Kadang aku menduga kalau akan gila juga seperti ibu.

Namun ternyata itu menjadi lecutan bagi diriku. Tau rasanya dipresi, aku jadi memahami apa yang ibu rasakan.

Aku mengunjungi ibu di tempat rehabilitasi, sudah satu tahun ibu disana setelah ayah kehabisan cara. Ibu suka lepas kontrol dan melempari tetangga.

"Tami berjanji, akan jadi Psikolog, Dokter Jiwa, atau apapun, untuk memulihkan ibu." 

Kupeluk surgaku itu sambil menangis, ibu tampak lebih sehat selama disana. Ia tak lagi menyerang orang, hanya saja masih sedikit linglung.

****

Aku kini sadar bahwa adakalanya kepahitan hidup sengaja Tuhan berikan agar kita kuat, melecut kita agar memperbaiki keadaan.

Ayah rela menjual mobil, demi membiayai kuliahku yang lulus di fakultas kedokteran. Aku juga mengajar private tiap malam demi menambah uang.

Syukurlah untuk pendidikan spesialis,  ada beasiswa Pemda.

Baru satu tahun usai mendapat gelar dokter  spesialis kesehatan jiwa, klinikku selalu ramai oleh pasien. 

Bukan berarti aku senang banyak pasien, bukan. Tapi aku bahagia bisa membantu orang-orang yang sakit jiwanya agar bisa pulih. 

Selama ini orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sering mendapatkan stigma negatif. Bahwa sakit jiwa adalah sebuah aib.

Padahal sebagaimana kita pahami bahwa diri manusia terdiri dari dua elemen penting: jiwa dan raga.

Jika ada anggota keluarga ada yang sakit jantung, patah tulang atau sakit gigi, dan kita menganggap itu adalah hal manusiawi yang mungkin saja terjadi pada raga seseorang.
Lalu kenapa saat jiwa yang sakit, kita malah memperlakukan berbeda?

Salah satu hal yang kusesalkan, bahwa dulu saat bulan-bulan pertama ibu sakit, kami sempat 'mengurung' ibu di rumah. Kami tak ingin tetangga tahu, kalau ibu sudah tak sehat jiwanya. 

Kami hanya tak ingin ibu linglung di tengah jalan, meracau, atau tak tahu jalan pulang. Kami malu ...

Padahal aku tahu ibu sangat ingin keluar, ibu bosan di rumah. Bisa jadi sakitnya ibu adalah akumulasi kejenuhannya berada di rumah saja.

Andai saja saat itu kami paham. 

Seharusnya aku memaksa ayah membeli tiket liburan. Atau, biar saja ibu keluar (dengan pemantauan), bertemu siapapun jika memang itu membuatnya senang. Barangkali itu membuatnya lebih baik. Tapi kami malah mengurungnya karena takut orang tau. 

Namun syukurlah, semua masa sulit itu kini berlalu.

Ibu telah lama pulih.

Ayah juga sudah berubah, setelah belajar dari pengalaman pahit ini. Kami selalu punya quality time setahun dua kali, untuk liburan keluarga; ibu, ayah, bersama anak, cucu dan menantunya. Tak terkecuali suamiku, Mas Bima. Lelaki yang berprofesi sebagai dosen dan sangat menyayangiku. 

Aku menjadi dokter demi ibu, dan ingin menolong orang-orang yang mengalami sakit serupa ibu. Setiap kamis dan jumat aku mengadakan konsultasi gratis tanpa dipungut biaya.

Seperti hari ini, sebenarnya aku sudah cukup lelah, tapi aku sudah mewakafkan diri untuk ini. Tersisa satu pasien lagi atas nama Paramitha. Ia masuk didampingi salah satu keluarganya.

Paramitha duduk dihadapanku seperti kebingungan, persis seperti ibu dulu.

"Sudah sebulan ini dia bertingkah aneh. Beberapa tahun lalu dia memang pernah baby blues, hingga hampir mencelakai anaknya, cucu saya."

Aku mulai menanyakan gejala-gejala lainnya, hingga akhirnya paham bahwa perempuan itu benar-benar sakit jiwanya. Ia sering linglung,  melukai orang lain, bahka pernah tak tidur selama dua hari. 

"Suaminya, anak saya, masih dinas ke luar daerah ... saya terpaksa ngantar." curhat sang ibu yang akhirnya mengaku sebagai mertua.

Aku segera menuliskan beberapa resep, juga tindakan lanjutan yang harus diikuti esok hari di rumah sakit.

"Selain ikhtiar medis, juga usahakan ikhtiar non medis ya Bu ..." saranku acapkali sebelum akhiri konsultasi 

"Maksudnya?"

"Doa, sedekah, istighfar, minta ampun sama Tuhan, atau minta maaf sama hamba kalau ada salah, atau apapun yang mungkin menyebabkan doa kita selama ini masih tertahan.”

Perempuan paruh baya itu  menoleh sesaat pada menantunya. Tak yakin dengan kesalahan apa saja yang pernah mereka lakukan terhadap orang lain.

"Ada yang ingin ditanyakan lagi?”

Sang ibu menggelengkan kepalanya.

“Ya sudah. Semoga lekas sembuh. Bila tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya pamit shalat dulu ya Bu.”

Aku segera melepas masker ingin wudu sebelum mempersilahkan pasien terakhirku pulang.

"Kamu?"

Perempuan itu tampak kaget saat menyadari siapa yang berbicara dengannya dari tadi.

“Iya Bu Salma, saya Tami ... yang dulu ibu tolak karena takut punya menantu dengan gangguan jiwa.” jawabku saat telah berusaha melupakan rasa sakitnya.

( Bersambung )