Foto

Telah dua tahun aku tinggal di rumah perpaduan etnik-modern ini. Rumah yang mas Bima bangun dari hasil jerih payahnya menabung sejak masih muda. Almarhum sangat telaten dalam hal apapun, tak terkecuali mengelola keuangan. 

Namun sayangnya rumah impian yang kami desain bersama, sekarang harus kutinggali seorang diri. 

Saat melihat pohon rambutan yang sedang berbuah di bagian belakang rumah aku malah sedih. Mas Bima sudah lama menunggu pohon itu berbuah untuk pertama kalinya. 

Aku sedang mempertimbangkan untuk mengajak adik lelakiku Sigra, agar mau tinggal dan kuliah disini. Dia sedang ingin melanjutkan S2 di fakultas sosial, walau belum memutuskan di universitas mana.

Aku membuka contact HP demi melakukan panggilan ke nomor ibu. Selain ingin membicakan tentang hal ini,  aku juga memang rutin menelpon orang tua satu atau dua kali sehari. Hal ini agar membuat kami tetap terhubung meski terpisah jarak hingga dua ratus kilometer. 

"Assalamualaikum Nak?"

Suara ibu terdengar seperti sedikit parau di balik sana.

"Waalaikumsalam Bu. Ibu kok suaranya lain? Ibu gak sedang sakit kan?" tanyaku cemas.

"Gak, ibu cuma kebanyakan makan gorengan kayaknya. Kamu sehat?" 

"Sehat, Alhamdulillah."

Ibu dan ayah pernah tinggal sebulan di sini untuk menemani masa berkabung, tapi yang namanya orang tua tak akan betah kalau bukan di kampung halaman sendiri. 

"Kapan pulang Nak?"

Aku bingung kalau harus menjawab ini. Kemampuan membawa mobilku termasuk payah, apalagi kalau harus menempuh perjalanan panjang. Dulu selalu Mas Bima atau supirnya yang mengemudi.

"Insyaallah Bu, kalau Sigra memang mau kuliah dan tinggal disini pasti kami akan bisa pulang lebih sering. Tami akan membiayai kuliahnya ... hmm, bagaimana menurut pendapat ibu?”

Aku tahu ini bukan hal yang mudah untuk disepakati, mengingat Sigra satu-satunya anak lelaki. Selain itu Ayu, adikku juga lebih dulu tak lagi tinggal bersama orang tua, walau hanya beda lorong saja.

"Ibu dan ayahmu juga sebenarnya memang juga pernah memikirkan ini. Kasihan kamu sendirian disana ... Sigra pun setuju sepertinya."

Aku tak menyangka akan semudah ini jalannya. Ikatan hati antara ibu dan anak kadang memang menakjubkan. Ibu bahkan lebih dulu dulu memikirkan apa yang kira-kira dibutuhkan oleh anaknya sendiri. 

"Tapi ibu dan ayah gimana? Gak kesepian?"

"Insyaallah enggak, ada anak-anaknya Ayu. Kamu pasti lebih kesepian disana ..."

Saat mengatakan itu suara ibu malah mulai bergetar. Meski tak melihatnya, aku tahu ibu sedang menangis. Mungkin memikirkan nasib sulungnya yang telah menjadi janda.

Aku terdiam untuk beberapa saat, ibupun sama. Karena tau, kalau memaksa berbicara dengan suasana lara seperti ini yang terdengar cuma sesenggukan.

"Bu, aku sayang ibu ..." hanya itu yang sanggup kukatakan sebelum mengakhiri panggilan.

"Ibu juga." jawab perempuan yang paling tulus mencintaiku di dunia ini sampai kapanpun.

***

Sudah hampir dua minggu aku kembali bekerja di rumah sakit, sementara untuk klinik hanya dibuka empat hari saja dalam sepekan. 

Syukurlah tidak ada penambahan pasien di tempat rehabilitasi ini. Semoga selalu saja demikian, semua orang sehat jiwa dan raganya di luar sana.

"Bu, Farah ngamuk!" panggil seorang perawat.

Ini bukan hal baru, perempuan itu sudah hampir pasti kambuh seminggu sekali. Biasanya ia akan berteriak seperti orang kesetanan, paling parah bahkan pernah naik ke atas plafon.

Segera aku berjalan dengan langkah cepat. Jika keadaan memburuk dan tak lagi terkendalikan, obat penenang adalah jalan terakhir.

"Bu Dokter, Mitha pegang benda tajam!"

Mendapati dua keadaan darurat, aku mulai panik. 

"Panggil dokter Septian di Musalla untuk melihat Farah! Saya lihat Mitha dulu!" perintahku.

Aku akhirnya berlari menuju tempat dimana mbak Mitha berada, dan mendapati perempuan itu tengah memegang benda seperti pisau lipat. Entah dari mana ia mendapatkannya, padahal tempat ini steril dari benda tajam. Para petugas dapur meletakkan pisau di tempat yang benar-benar aman.

"Mbak Mitha ..." ucapku tercekat, takut salah langkah. Perempuan itu duduk di bawah pohon kersen sambil mendongakkan kepalanya sebentar saja.

"Dokter, apakah mati itu sakit?"

Ia melihat benda tajam itu seperti sedang memikirkan sesuatu yang tak baik.

"Jelas! Rasanya sangat sakit!"

"Kalau sakitnya cuma sebentar? Setelah itu mungkin, kehidupan setelahnya malah gak ada lagi namanya masalah ..."

Mbak Mitha mulai mendekatkan pisau itu ke tangannya. "Mbak, jangan mbak! Kasihan anak mbak, suami mbak, mereka akan sangat merasa sedih bila orang yang mereka cintai kenapa-napa."

Mbak Mitha menoleh padaku, seakan sedang ingin mencari kebenaran dibalik kalimat tadi. Kalimat yang bahkan kuucapin dengan keraguan.

"Suami saya tak peduli Dokter. Sudah lama ia tak kesini."

"Suami mbak Mitha kan dinas di luar daerah, mana mungkin sering-sering menjenguk. Nanti ia bisa terkena sanksi indisiplinner. Bagaimanapun ia bekerja susah payah mencari rezeki untuk biaya istrinya disini, untuk anak, untuk pengobatan Bu Salma juga ... "

Mungkin situasi ini terlihat aneh, membuat seorang perempuan agar mempercayai suaminya. Yang mana lelaki itu adalah mantan pacarku. Tapi aku sudah lama move on, harus profesional.

"Ia pasti sangat mencintai mbak. Karena ingin istrinya sembuh, makanya mbak dtitipkan disini pada kami. Kalau suami mbak tak peduli, pasti ia tak lagi mau berusaha mengobati. Buktinya ia tak melakukannya."

Kalimat tadi sepertinya berhasil membuat perempuan itu berpikir lebih baik.

"Iya juga ya Dokter. Saya seharusnya bersyukur dapat suami sebaik Mas Rama. Ini malah kerjanya bikin susah saja." ucapnya menjauhkan pisau dari nadinya, akhirnya aku bisa sedikit lega.

"Sayangnya saya malah mengkhianati Mas Rama." ucap Mbak Mitha sambil memainkan pisau itu pada pavling block.

Aku berusaha mengambil alih benda berbahaya itu sebelum hal buruk terjadi. 

"Kita potong buah apel di ruangan saya yuk."   ajakku sambil meraih pisau lipat itu dari tangannya. Syukurlah tidak ada perlawanan berarti.

Perempuan itu akhirnya kuamankan di ruangan. Tadi ada keluarga pasien yang mengantarkan sekotak brownis, mungkin aku bisa mengajak Mbak Mitha ngobrol sambil makan. Bagaimanapun dua hal itu pasti sangat disukai perempuan, semoga saja bisa mengubah suasana hatinya menjadi lebih baik.

Aku penasaran bagaimana kabar anak dari perempuan ini. Tidak ada salahnya bertanya lebih jauh, demi menakar perkembangan pola pikirnya.

"Nama anak mbak Mitha siapa?" 

Butuh beberapa saat hingga akhirnya perempuan itu merespon pertanyaanku. "Angga."

"Berapa tahun? Sudah sekolah?"

"Tiga ... empat,  eh berapa ya?"

Perempuan itu terlihat tak yakin dengan jawabannya sendiri.

"Kalau suami, apa pernah melakukan hal-hal yang membuat mbak sedih?"

Walau aku tahu perempuan ini bersalah, bukan berarti suaminya tak melakukan kesalahan juga bukan?

Awalnya ia menggelengkan kepala, namun beberapa saat kemudian mbak Mitha seperti ingat sesuatu.

"Kadang saya merasa lebih baik dimaki atau dipukul saja. Tapi Mas Rama tak pernah ..." 

Perempuan itu memilin ujung bajunya, lalu menunduk.

"Dia tetap menafkahi saya, menggaji orang untuk menjaga Angga meskipun tau itu buka anaknya ... itu buat saya makin bersalah, apalagi saat suami lebih banyak diam."

Mbak Mitha sebenarnya punya kemampuan bertutur paling baik dibandingkan semua pasien di tempat ini. Itulah yang membuatku yakin suatu saat ia akan sembuh. Walau saat Lina bertugas ia pernah dua kali mengamuk, nyatanya belakangan ini ia tak memiliki indikasi parah.

Ya setidaknya tak seperti Bu Salda atau Bu Rona yang sudah puluhan tahun disini. Keduanya pasien tertua disini, bahkan keluarga mereka sudah menyerah. 

"Sejak awal pernikahan ini sudah salah  ... kami terpaksa menikah, karena permintaan orang tua. Padahal saya juga punya pacar."

Penjelasan Mbak Mitha mengingatkanku akan masa lalu. 

"Saya ingat, pernah menemukan foto perempuan di dompetnya, bahkan itu sudah usia satu tahun pernikahan ... dia lalu menariknya cepat."

Bagaimana kalau foto itu milikku? Dulu aku pernah ke studio foto lalu mencetak foto close up. Awal tahun 2000an itu adalah trend. Aku hanya mencuci foto itu sebanyak dua lembar saja. Satu untuk kusimpan sediri, satu lagi untuk diberikan pada lelaki yang pernah mengisi hati ini.

Lelaki yang sekarang berstatus sebagai suami dari pasienku.

"Saya tahu butuh waktu lama untuk dia melupakan perempuan itu. Dia sanggup tak menyentuh saya hampir satu tahun lamanya ..."

Aku terhenyak, benarkah yang ia katakan?

"Tapi kan pada akhirnya suami mbak masih bertahan hingga kini, tak ingin berpisah ..." ucapku menghiburnya. Setidaknya tidak ada kata perceraian yang pernah terdengar.

"Iya, tapi saya bingung, apa yang bisa membuat pernikahan ini harus dipertahankan kalau suami tak menemukan lagi kebahagiaan bersama saya. Tapi disisi lain saya juga tak mau berpisah ...." ucapnya lirih. "Dia lelaki yang baik, saya salah."

Walau seorang psikiater adakalanya aku tak perlu memberi saran apapun, kadang yang diperukan seoran perempuan, hanyalah didengarkan.

Mbak Mitha mengedarkan pandangan melihat ruanganku yang baru di cat berwarna biru muda. Hingga perlahan fokus matanya berhenti di atas meja kerjaku.

"Ini semua foto dokter?"

Lima kolase foto yang menampakakan metamorfosaku sejak kecil hingga usai wisuda spesialis setahun lalu.

Ia menarik foto tersebut ke tangannya, menatap  satu persatu gambarku.

"Sepertinya saya pernah melihat foto ini!”

Jangan-jangan benar, foto itu pernah dilihat ditangan suaminya. Lalu sekarang aku harus menjawab apa kalau dia bertanya sesuatu?

( Bersambung )