Enam Tahun Kemudian

Musim semi selalu menjadi waktu yang paling baik menikmati keindahan Washington DC. Suhu yang sejuk dan ribuan pohon sakura yang bermekaran membuatku betah berlama-lama di tepi kolam besar yang bernama Tidal Basin ini.

Terhitung sejak kuliah kembali aku tak pernah absen menghadapi Festival Cherry Blossom tiap tahunnya. Sebuah perayaan musim semi tahunan yang diselenggarakan sangat meriah di Amerika Serikat, memperingati pemberian hadiah pohon bunga Sakura dari Jepang. Begitu banyak pertunjukan budaya mulai dari pameran, pawai, pertunjukan kesenian hingga festival makanan, menarik ribuan wisatawan dari dalam dan luar negeri. 

Tak terasa aku sudah menghabiskan beberapa tahun di negeri paman Sam ini, menikmati musim semi hingga musim dingin seorang diri.

Ada kalanya hidup umpama Roller coaster. Jatuh-bangun dalam begitu banyak kejadian, akhirnya mengantarkanku pada titik setinggi ini. Menyelesaikan Subspesialis dan S3 di negara adidaya, menjadi prestise yang harus kusyukuri. Meski barangkali aku akan menghabiskan hidup ini tanpa teman hidup, bergelar suami.

Ya, saat terbang ke benua ini aku sudah memutuskan untuk tak memikirkan apapun terkait asmara.

Mungkin betul seperti yang Lani katakan, bahwa kesendirian yang digariskan kepadaku barangkali adalah waktu yang diberikan sang pencipta agar aku bisa memaksimalkan waktu untuk belajar lebih tinggi.

Jika dulu sekali perpisahan dengan bang Rama memotivasi seorang Tami untuk menempuh pendidikan dokter, maka setelah perpisahan dengan mas Bima, aku malah menempuh pendidikan doktoral.

Lani pernah berkelakar, bahwa aku harus berterima kasih pada kedua lelaki itu. Kalau saja aku tak dibuat patah hati oleh mereka barangkali sekarang aku hanya seorang perempuan tamatan SMA.
Menatap indahnya sakura di puncak mekarnya, ingatan ku terlempar pada beberapa tahun silam. Saat itu mbak Mitha datang ke klinik, dengan sebuah penawarannya yang tak pernah kusangka. Bagaimana mungkin seorang istri menawarkan suaminya pada perempuan lain.

Aku tak tahu pasti apa yang terjadi sebenarnya antara mereka, setelah mbak Mitha tahu masa lalu kami. Aku juga tak ingin larut saat ia berkata tentang tatapan suaminya yang tak biasa kepadaku, saat di rumah sakit.

“Mas Rama bahkan tak pernah menatap saya seperti saat ia menatap kamu ...”

Aku tak tahu kalau ternyata bukan hanya pembicaraan kami yang mbak Mitha dengarkan, tapi perempuan itu bahkan menyaksikan segalanya, tak terkecuali raut wajah suaminya.

"Saya tahu ia bertahan dalam pernikahan ini hanya karena tak tega menceraikannya saya  ..." lirihnya dengan sorot mata yang redup.

Mbak Mitha bercerita kalau dulu bu Salma bahkan tak tahu kalau Oce bukan cucunya. Perempuan itu terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa kakek dari ibunya beretnis Tionghoa, agar mertuanya tak curiga. Dan sampai saat itu bang Rama bahkan tak tega menyampaikan kebenaran sesungguhnya pada sang ibu.

Hingga bu Salma meninggal empat tahun lalu, sepertinya kebenaran itu memang tak pernah terungkap.

Butuh helaan nafas panjang membayangkan semua penggalan hidupku yang berkaitan dengan bang Rama. Bertemu, berpisah, bertemu kembali, berpisah kembali.

Sekalipun mbak Mitha mengatakan bersedia mundur agar aku maju menggantikannya, namun aku tentu masih bisa menggunakan akal sehat untuk menimbang baik-buruknya.

Aku tak mau menjadi sebab runtuhnya pernikahan seseorang. Aku tak mau menciderai profesiku sendiri, dengan menyebabkan seorang yang seharusnya kupulihkan psikisnya malah membuatnya kembali sakit.

Aku masih ingat siang itu saat bang Rama mendatangiku ke rumah sakit, meminta maaf atas apa yang dilakukan istrinya.

"Abang gak tau sebelumnya kalau Mitha menemuimu," ucapnya kali itu seakan khawatir kalau istrinya berbuat hal buruk. "Abang minta maaf ..."

Aku ragu apakah lelaki itu sebenarnya tahu apa yang coba ditawarkan mbak Mitha padaku.

"Perasaan abang gak enak aja kalau sempat dia mengeluarkan kata-kata yang mungkin menyakitimu, karena sehari sebelumnya kami sempat ribut," lanjutnya.

Sepertinya komunikasi pasangan suami istri itu mungkin sedang mengalami masalah. Aku berusaha memberikan saran pada bang Rama sebagai psikiater, demi menjaga psikis pasienku.

"Yakinkan istri abang, kalau abang gak akan meninggalkannya ... yakinkan mbak Mitha, kalau abang setia, tak ada perempuan lain di hati abang selain dirinya," ucapku kala itu demi menyelamatkan pernikahannya.

"Sekalipun itu menipu diri sendiri?"

Aku berusaha tak larut dalam menafsirkan kalimat tadi.

"Yaa .... anggap saja kalimat itu doa demi menjaga kebutuhan rumah tangga abang."

"Kamu berharap demikian? Bahwa tak ada perempuan lain dihatiku selain Mitha?" tanyanya.

Lelaki itu terdiam sambil menatap dengan sorot tak biasa, seakan sedang mencari sendiri jawaban yang barangkali tersembunyi di balik manik mataku.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan, agar ia tak berhasil menelanjangi pikiran ini. Karena aku ingat, dulu ia hampir tak pernah gagal melakukannya.

"Jadi menurut abang aku harus berharap apa?" ucapku mulai tak sabar, sambil merapikan meja kerja yang sebenarnya tak berantakan.

"Bang, urusan kita sudah selesai, silahkan jalani kehidupan abang dengan Mbak Mitha, tanpa perlu melibatkkanku lagi dalam urusan apapun. Dokter Lani ada kalau abang merasa butuh konsultasi terkait keadaan mbak Mitha."

Lelaki itu masih saja memaku tubuhnya disana, seakan berharap aku mengatakan sebaliknya.

"Tami harap abang keluar, dan jangan pernah lagi berusaha menemukan sesuatu yang telah lama terkubur!" ucapku akhirnya.

Aku lihat wajah itu untuk terakhir kalinya, seolah sanggup melihatnya terluka. Nyatanya saat mata kami beradu di titik yang sama, ternyata aku malah tak kuasa menahan air mata sambil tetap memaksanya pergi.

"Dokter Tami?"

Kemunculan seorang perempuan di hadapanku, akhiri perjalanan ke masa lalu.
Perempuan berniqab yang menutupi tubuhnya dengan pakaian serba hitam. Aku segera  berusaha menetralisir suasana hati yang sempat sendu.

Selama di Amerika aku tak pernah kenal dengan perempuan dengan penampilan tertutup seperti ini. Lalu siapakah yang berdiri dihadapanku sekarang? Rasanya ... aku seperti ingat dengan mata coklat ini.

"Ini saya, Paramitha!" 

Aku nyaris tak percaya, masih menduga ada yang salah dengan indra pendengaranku. Namun nyatanya masih saja sama saat ia mengulang kedua kalinya. 

"Iya, ini mbak Mitha! Pasien di rumah sakit  dulu."

Dia malah tiba-tiba memelukku. "Masya Allah, gak nyangka ketemu dokter disini."

Aku yang semula canggung, akhirnya membalas pelukannya masih seperti orang kebingungan.

"Mbak Mitha apa kabar? Lagi liburan kesini?” tanyaku akhirnya bisa memulai percakapan, seolah tak terjadi apapun diantara kami dulu.

"Iya, Oce minta liburan ke Amerika selama musim semi." jawabnya bersemangat.

Oh, baiklah. Pasti ini liburan keluarga yang menyenangkan menikmati festival sakura di musim seindah dan sesejuk ini. Lalu apakah sebentar lagi aku akan terpaksa kuat melihat potret lengkap keluarga bahagia itu di sini?

Semoga pertemuan ini tak merusak suasana hatiku.

Tetapi mana Oce dan  bang Rama?

Sesaat aku melihat bagian perut mbak Mitha yang membesar dan menyadari sesuatu.

"Masya Allah, sudah berapa bulan mbak?" tanyaku dengan senyum selebar mungkin, walau dalam hati masih berusaha menyatukan kepingan hati yang berserakan. Aku selalu iri melihat perempuan hamil, meskipun sadar bahwa aku tak lagi punya suami.

"Baru enam, Alhamdulillah ... nah itu Oce dan abinya!" perempuan itu menunjuk ke arah belakangku.

Tak tahu harus mengumpulkan kekuatan dari mana lagi untuk berani melihat lelaki yang muncul dibalik sana. 

"Ini psikiaterku dulu lo Bi." ucapnya kepada lelaki yang kini sudah berada dihadapanku.

"O, I see, yang namanya Tami ya?

Mendengar suara yang sangat asing, seketika aku mendongak lalu sadar bahwa itu bukan bang Rama.

Lelaki berkulit putih dengan mata yang persis sama seperti milik Oce, yang sekarang sedang menggenggam tangan bocah yang dipanggilnya Nak.

"Ini Harvey, ayah kandungnya Oce. Imam mbak sekarang." ucapnya memperkenallan lelaki itu yang ternyata telah berstatus sebagai suaminya.


What?


( Bersambung )