Ritual Malam Pertama yang Gagal

Sejak Amel mendatanginya dengan rencana yang tidak masuk akal itu, Adam sama sekali tidak bisa fokus ke pekerjaannya, lebih-lebih ke rencananya untuk pulang melamar Umma, sang pujaan hati. Dia terus menimbang baik buruknya, untung ruginya.

Adam sengaja meluangkan waktu untuk memikirkan hal itu masak-masak. Dan tiga hari sebelum pulang melangsungkan lamaran, dia memutuskan untuk mengikuti permainan Amel. Sebentar lagi dia akan menikahi Umma, tapi apa jadinya kalau di saat yang bersamaan dia juga harus kehilangan pekerjaan?

Adam dan Amel pun kembali bertemu untuk membicarakan rencana mereka lebih detail. Akhirnya Adam kalah juga. Dia terlalu takut membayangkan nasib selanjutnya kalau harus keluar dari Cempaka Grup. Bukan main waktu dan tenaga yang dia curahkan untuk tiba di posisinya sekarang.

(。•́︿•̀。)


Jika pada umumnya calon mempelai laki-laki sibuk latihan mengucapkan ijab kabul, berbeda halnya dengan Adam. Menjelang hari pernikahannya, dia justru sibuk memikirkan kalimat yang paling tepat untuk mengutarakan rencana pernikahan keduanya kepada sang istri nantinya.

Adam mengenal Umma sebagai perempuan cerdas dan berpikiran terbuka. Namun, perempuan mana pun di dunia ini pasti akan hancur hatinya begitu tahu suaminya akan menikah lagi. Terlebih jika hal itu malah disampaikan di malam pertama, malam yang seharusnya dihabiskan penuh kehangatan cinta kasih sepasang hati yang baru dipersatukan.

Terbukti, kini Umma tampak sangat hancur. Adam merasa menjelma jadi lelaki paling jahat yang tega mematahkan hati istrinya sendiri di malam pertama mereka. Namun, dia akan merasa lebih jahat jika dengan santai mereguk keindahan tubuh gadis ini tanpa membeberkan terlebih dahulu rencana besarnya.

"Kenapa Mas mau begitu saja?" Nada tidak terima Umma terdengar retak. Air matanya kembali bergulir.

Adam menelan ludah, diam-diam mengatur pola napas agar apa-apa yang akan diucapkannya bisa terdengar meyakinkan. Kemudian, pelan-pelan dia mulai menjelaskan apa saja konsekuensinya jika dia menolak rencana gila itu.

"Jadi, Mas siap melakukan hal gila itu hanya karena tahta?"

Adam tidak kaget dengan respons Umma. Siapa pun pasti akan berkesimpulan sama. "Aku sudah menduga kamu akan mengatakan hal ini. Tapi ... sungguh, ini jauh lebih kompleks dengan apa pun yang sedang kamu pikirkan saat ini."

"Aku benar-benar nggak nyangka. Laki-laki yang aku banggakan selama ini akan sesilau ini terhadap gemerlap duniawi."

Adam menurunkan kadar egonya, berusaha tidak memasukkan kalimat itu ke hatinya. Umma pantas mengucapkannya. "Apa jadinya kalau aku malah nganggur setelah menikahimu?"

"Mas pikir, aku menerima Mas karena posisi Mas di perusahaan besar itu?" Tatapan basah Umma jelas menampakkan luka yang kiat tersayat.

Adam menggeser sedikit posisi duduknya, agar lebih dekat dan bisa leluasa merangkul sang istri. Harus dia akui, Umma memiliki kontrol emosi yang sangat bagus. Kalau perempuan lain, mungkin sudah teriak-teriak, tidak peduli sebagian sanak keluarga yang masih bermalam di rumah ini akan mendengar mereka.

"Kalau sama kamu, aku nggak pernah ragu sama sekali. Tapi bagaimana dengan orangtua kamu, keluarga besar kamu?"

Umma mengusap air matanya dengan ujung jemari yang bergetar. "Kalau memang itu yang Mas khawatirkan, Mas, kan, bisa memulai dari awal lagi. Masih banyak pekerjaan lain di luar sana. Bahkan kalau Mas mau, di sini pun Mas pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang layak."

"Nggak akan semudah itu, Sayang ...." Adam mengeratkan rangkulannya. Akhirnya, untuk pertama kalinya dia bisa sedekat ini dengan perempuan yang dia cintai selama ini. Bahkan, dia bisa mencium aroma tubuhnya yang sangat menenangkan. Sepasang bibirnya yang ranum, meski sedang bergetar menahan tangis, tetap saja menggairahkan. Jujur, naluri lelakinya mulai bergetar. Namun, apakah masih pantas dia memperoleh apa yang lumrah seorang suami nikmati di malam pertama setelah situasinya telanjur kacau begini?

Umma terenyuh. Ini pertama kalinya Adam memanggilnya "sayang", tapi justru setelah malam pertama yang didambakan setiap pasangan ini dia rusak tanpa aba-aba.

"Mas, aku mau tidur." Umma meleraikan tangan Adam dari pundaknya.

Adam hanya bisa menghela napas pasrah, sambil menyabarkan diri sendiri dalam hati.

Tanpa menoleh lagi, Umma beringsut di sisi kiri tempat tidur dengan posisi membelakang, lalu menarik selimut.

Hati Adam mencelus melihat punggung sang istri masih saja terguncang pelan. Dia memang tidak berharap Umma begitu saja akan mengerti dan menerima semuanya dengan lapang dada, tapi dia juga tidak menyangka perempuannya akan sehancur ini.

Adam ikut berbaring. Pikirannya berkecamuk. Entah skenario seperti apa yang akan menyambutnya esok hari. Dia harus siap kalau ternyata Umma akan mendiamkannya. Dia juga harus siap kalau Umma tidak tahan untuk membeberkan masalah ini ke keluarganya. Bahkan untuk kemungkinan yang paling buruk, dia harus siap kalau Umma tidak bisa lagi melanjutkan pernikahan mereka.

Pikiran-pikiran itu membuat kepala Adam berdentang. Sepertinya dia tidak akan tidur malam ini.

(。•́︿•̀。)


Sayup-sayup Umma mendengar lantunan ayat-ayat suci Alquran yang mengalun dari pengeras suara masjid kompleks. Saat dia membuka mata perlahan-lahan, dia merasakan sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya. Saat ingin menoleh, dia baru sadar, Adam sedang memeluknya dari belakang. Pantas saja tubuhnya terasa hangat. Hangat yang tentu saja berbeda ketika dia mengenakan selimut.

"Kamu sudah bangun?" tanya Adam tiba-tiba ketika Umma bergeser untuk melepaskan diri dari pelukannya.

Umma agak tersentak. Tadinya dia pikir suaminya itu sedang tidur. Dia memutar badan. Kini mereka berhadap-hadapan.

Bahkan di bawah keremangan cahaya lampu tidur, Adam masih bisa melihat jejak air mata yang mengering di pipi sang istri.

"Mas nggak pernah tidur?"

Adam menggeleng. "Bagaimana aku bisa tidur kalau aku baru saja melukai hati istriku sendiri?"

Perkataan itu terdengar manis, tapi belum mampu membuat hati Umma siap untuk menghadapi duri yang akan menghiasi perjalanan rumah tangganya. Semalaman dia terus berpikir tentang langkah apa yang harus dia ambil. Dia merapalkan istigfar dalam hati berkali-kali, hingga kelelahan dan tertidur.

Adam membelai pipi sang istri. "Aku minta maaf ...."

"Sebaiknya kita shalat subuh dulu, Mas." Umma bangkit dari tidurnya, lalu mendekati lemari di pojok ruangan untuk mengambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya.

Adam yang juga sudah bangun dan duduk di tepi tempat tidur, mengernyit melihat tindakan sang istri. "Kamu mau mandi?" tanyanya setelah gagal menyembunyikan rasa herannya.

"Bukan cuma kita di rumah ini. Aku nggak mau orang-orang malah berpikiran aneh-aneh kalau sampai tahu kita tidak melakukannya tadi malam." Umma menjawab dengan nada malas-malasan. "Mas juga harus mandi," lanjutnya dengan nada lebih rendah.

Adam hanya mengangguk. Cara Umma mengatakan kalimat itu dengan nada malu-malu terdengar menggelikan, tapi ini sama sekali bukan waktu yang tepat untuk tertawa. Untuk kesesekian kalinya dia kagum terhadap perempuan yang Tuhan titipkan untuknya ini. Di tengah patah hatinya, Umma masih sempat kepikiran untuk melindungi pernikahannya dari pandangan orang-orang. Adam semakin yakin, dia tidak salah pilih. Andai saja rencana gila itu tidak pernah tercetus di benak Amel, pasti saat ini dia adalah lelaki paling bahagia di dunia ini.

Umma kaget. Ketika hendak melangkah keluar kamar, Adam tiba-tiba bangkit dan lagi-lagi memeluknya dari belakang.

"Aku nggak mau kehilangan kamu. Tolong pikir-pikir lagi semua yang aku katakan tadi malam."

Umma bisa mendeteksi getaran halus di suara Adam. Itu artinya dia tulus.

"Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini, Mas." Umma meleraikan dekapan Adam, lalu berjalan keluar tanpa menoleh sedikit pun.

( ・ω・)☞


[Bersambung]