Senyum Palsu Di Acara Resepsi

Senyum Palsu Di Acara Resepsi


Sesungguhnya keluarga Pak Herman salah sangka, jika mereka mengira Izzah adalah seorang wanita lemah yang bisa di kendalikan. Justru merekalah yang akan takluk pada kendali Izzah. 


Sementara itu, tak ada yang tahu betapa hancurnya hati Alif saat ini, dia sesungguhnya tak dapat menerima perjodohan ini, namun demi berbakti dengan orang tuanya, dia rela melakukannya. Alif sebenarnya telah memiliki seorang kekasih hati, Bella namanya, mereka sudah berpacaran lebih dari setahun. Meski Bella adalah gadis yang matre, namun Alif sangat mencintainya, bahkan dia rela banting tulang demi menuruti semua keinginan kekasihnya itu.


Namun, Alif juga sedikit kecewa dengan ucapan Bella, saat terakhir kali mereka bertemu empat hari kemarin, sebelum acara ijab qobul ini berlangsung. Kala itu, Alif mengajak ketemuan Bella di sebuah cafe langganan mereka.


"Yank, maaf ya aku tak bisa meneruskan hubungan ini, karena Ibu terus memaksaku menikah dengan anak temannya almarhum Bapakku..." ujar Alif lirih.


"Ya, sudah...putus saja. Nggak masalah kok buat aku, masih banyak kok diluar cowok yang lebih kaya dari kamu! Dan bisa menuruti apa yang aku mau!" Jawab Bella sewot.


"Jadi kamu ikhlas kan melepas aku? Maaf ya Yank..." ucap Alif lagi.


"Ya ampun...lebay banget sih! Yah ikhlas banget dong! Nih kuberitahu sebuah rahasia ya, sebenarnya selain pacaran dengan kamu, aku ini juga pacaran dengan Boby, anaknya bos sayuran itu! Dan kamu pasti pahamkan, kalau dia lebih bisa ngimbangin aku dari pada kamu? Jadi kamu ada atau nggak itu sama aja bagiku, kalau kamu ada sih lumayanlah buat ojek gratis!" sahut Bella asal.


Mendengar perkataan Bella itu, hati Alif makin mencelos, tak disangka gadis yang si cintainya dengan sepenuh hati itu, tega berkata sekejam itu. Tapi seperti apapun ucapan dan perlakuan Bella, tak pernah membuat cinta Alif padam. Bahkan meski kini di jodohkan dengan Izzah yang bisa dibilang lebih cantik dalam segala hal dibanding Bella pun, tak membuat hati Alif terketuk.


 Baginya, Izzah adalah istri pelebur bakti pada orang tua saja, dan dia pun tak tahu entah sampai kapan bisa melanjutkan pernikahan tanpa cinta ini. Dalam hati kecil, Alif masih tetap mengharapkan Bella mau kembali padanya.



"Selamat ya Lif, kini kamu sudah sah menjadi suami Izzah. Papa nitip ya, tolong jangan pernah sakiti hatinya dan jika suatu saat kamu sudah tak suka dengannya lagi, ceraikanlah dia," ucapan Pak Hasan, yang kini jadi mertuanya itu mengagetkan Alif.


Mendengar perkataan mertuanya itu, sesungguhnya Alif ingin sekarang juga,  
karena memang dia tak menyukai Izzah sama sekali, namun tentu hal ini akan membuat gempar, dan juga melukai hati Pak Hasan. Dan tentu saja akan membuat Ibu dan keluarganya kecewa. Jadi akhirnya Alif mengiyakan saja perkataan mertuanya itu.


Perkataan Pak Hasan tadi, sebenarnya juga menjadi beban tersendiri untuk Alif, bukankah itu tadi menjadi sebuah amanat yang harus di jalankan? Jadi dia bertekad untuk mencoba menjalani perrnikahan ini.


Sementara itu, Izzah yang sejak ijab qobul tadi hanya berdiam, tiba-tiba mendatangi  Pak Hasan dan memeluknya, air mata tak bisa lagi dibendung Izzah. Pak Hasan sebenarnya tahu apa yang kini dirasakan oleh putri semata wayangnya itu.


"Maafkan papa ya, Nak. Meski di awal semua terasa berat, tapi insyaallah ini adalah jalan terbaik untukmu. Kamu harus selalu sabar menghadapi semua ujian yang akan berdatangan nanti. Ingat pesan papa, jangan pernah menjadi orang yang lemah, jadilah orang yang cerdik yang akhirnya bisa membuat semua lawanmu menjadi temanmu. Sebisa mungkin jadikan pernikahan ini yang pertama dan terakhir dalam hidupmu, karena Allah sangat membenci perceraian," ucap Pak Hasan sambil menepuk punggung Izzah.



"Insyaallah Pa, Izzah akan selalu ingat semua wejangan dari Papa. Meski sulit, Izzah akan selalu berusaha, takdir Allah pasti lebih baik kan Pa, meski jalannya mungkin akan terasa menyakitkan. Tapi Izzah tetap selalu butuh dukungan dari Papa, Papa adalah sumber kekuatanku," ucap Izzah sambil terisak.



"Kamu harus bisa berdiri sendiri, Nak, jangan pernah bergantung dengan orang lain, karena tak selamanya orang itu bisa menemanimu, termasuk Papa. Maka jadilah orang yang punya pendirian, tegar dan cerdik, namun tetap rendah hati. Papa yakin kamu tidak akan mengecewakan Papa dan Pak Herman. Selalu ingat, jangan pernah menjadi lilin yang menyakiti dirinya sendiri demi menerangi kehidupan orang lain. Tetapi jadilah air, yang terlihat tenang dan tak berharga, namun selalu dibutuhkan oleh semua orang."



"Insyaallah Pa, Izzah akan selalu terapkan hal itu dalam kehidupan ini."


"Nah, sekarang jangan menangis lagi, ini hari bahagia, tutupi apa yang sedang berkecamuk di hatimu saat ini, biarlah semua orang hanya melihat rona kebahagiaan di wajahmu. Ayo Nak, ini hari spesial dan hanya sekali dalam hidupmu, jangan buat hari ini menjadi kelabu. Ingat senyum itu termasuk sedekah juga,  Nak," ucap Pak Hasan memberi semangat lagi pada putrinya.


Tanpa menjawab, Izzah segera menghapus airmata dan menampakkan senyum termanis di wajah jelitanya itu, dia kembalu duduk di pelaminan bersama Alif, karena acara resepsi akan segera dilanjutkan hari ini juga.


Pasangan pengantin yang sesungguhnya amat serasi itu, selalu menampakkan senyum terbaiknya sepanjang acara resepsi, meski itu hanya sebuah kamuflase belaka.


Berbeda dengan keluarga Alif yang tersenyum bahagia, merasa seperti telah memenangkan sebuah sayembara.


"Lihatlah tawa si Izzah itu merekah sekali, pasti dia sangat bahagia mendapatkan si Alif yang ganteng itu," ujar Bu Citra dengan pongahnya.