Karena Janji Adalah Hutang (Pov PakHasan)


Karena Janji Adalah Hutang (Pov PakHasan)

"Ayo...katanya mau ngajak papa jalan-jalan di kompleks lagi? Yuks, mumpung papa semangat banget nih," ucapku pada Izzah yang masih duduk di sofa.

Aku sebenarnya saat ini juga mempunyai pikiran yang sama dengan Izzah, yaitu berpikiran buruk tentang kedatangan keluarga Bu Citra ini. Namun, sebisa mungkin kututupi segalanya dari Izzah.

Semua ini memang sesungguhnya, hana kulakukan karena balas budi, dan juga karena janji. Bagiku, janji adalah hutang, jadi harus tetap dilaksanankan bagaimana pun keadaannya nanti. 

Herman, memang satu-satunya sahabatku saat SMA, aku yang saat itu hanya seorang yatim.piatu, selalu dibantunya, dalam segala hal, karena saat itu, orang tuanya adalah seorang bos pabrik tahu.

Dia tak pernah pamrih padaku, dia juga selalu memberikan materi padaku, saat aku tak bisa membayar uang sekolah, maka orang tuanya lah  yang akan menyeleaikan semuanya. Dan aku pun sudah dianngap sebagai anaknya sendiri.

Meski termasuk anak orang kaya, saat itu, Herman tak pernah sombong, dia membantuku sebisa mungkin. Hingga hari kelulusan SMA itu, kami pun berjanji, kelak akan menikahkan, kedua anaknya.

Setelah lulus SMA itu, aku pun kemudian meramtau ke kota Jakarta, aku awalnya bekerja pada sebuah warung nasi padang. Dan di warung padang inilah, aku ketemu dengan ibu angkatku, Bu Mia.

Bu Mia, adalah seorang nenek yang setiap hari selalu membeli makanan di warungku, hingga kemudian kami pun menjadi dekat. Karena kadang akulah yang mengantarnya pulang ke rumah, karena kondisinya yang sudah tua.

Empat bulan kemudian, Bu Mia mengajakku kerumahnya. Dia kemudian menceritakan semuanya, bagaimana awalnya hingga dia bisa hidup sebatang kara ini. Nah di sinilah, Bu Mia mengatakan ingin mengkuliahkanku.

Tentu saja aku yang memang ingin merasakan kuliah ini amat bahagia. Dan aku pun mulai bekerja sambil kuliah. Dua bulan setelah itu, Bu Mia meninggal dan menyerahkan semua.kekayaannya padaku.

Sebuah rumah yang amat besar, serta ada puluhan hektar tanah. Saat itu, aku yang masih muda tentu amat bahagia dan tak menyangka jika perjalanan takdir mengubahku tiga ratus enam puluh derajat.

Setelah tamat kuliah, aku pun mendapat panggilan kerja di sebua perusahaan besar yang berada di kotaku, dan hal ini membuat aku harus menjual rumah peninggalan Bu Mia, dan uangnya pun kutabungkan.

Sekitar enam bulan kemudian, aku resign dari tempat kerjaku dan mulai belajar berwiraswaata. Setelelah melewati banyaj rintangan, Akhirnya aku bisa sukses seperti sekarang ini.

Hingga kemudian aku menikahi Mita, dan setahun kemudian lahirlah si cantik Izzah si cantik ini. Ketika putriku berusia sepuluh tahun, Mita meninggal dunia, karena kecelakaan, saat itu aku sungguh terpuruk, namun karena melihat Izzah akhirnya aku kembali semangat hidup.

Waktu terasa berjaan begitu cepat, aku pun mulai menua, dan sementara Izzah telah lulus kuliah di luat negeri. Dia seorang gadis yang sungguh jelita,dan memiliku jiwa pekerja keras sepertiku.

Tepat enam bulan yang lalu, saat bangun pagi, tiba-tiba seluruh badaku tak bisa dugerakan,  dan ternyata aku mengalami stroke, dan akhirnya Izzah pun mengantarku ke rumah sakit.

Mungkin inlah yang disebut dengan takdir. Di iCU itu, aku dipertemukan kembali dengan Herman, yang saat itu baru daja dibtabrak motor saat bekerja.

Meski aku saat itu tak bisa bicara, tapi aku mengerti saat ada yang mengajakku ngobrol. Di ruangan itulah, akhirnya Herman meminta janji yang dulu ditepati, yaitu menikahkan anak-anak kami, dan aku pun menyetunuinya dengan isyarat kedipan mata.

Tiga bulan menjaalani terapi dan pengobatan, alhamdulillah seluruh tubuhku sudah bisa  kugerakkan hanya saja untuk berjalan aku belum kuat.

Sejak sakit, perusahaan semua kuserakan pada Izzah, dan alhamdulillah ternyata dia punya jiwa pengusaha sepertiku. Di tangannya, semua usahaku semakin maju saja.

Ketika kondisiku yang berangsur membaik, ternyata Herman malah meninggal secara tiba-tiba, dan hal itu membuatku amat kaget.

Aku pun kemudian mulai membicarakan masalah perjodohan itu dengan Izzah, awalnya dia memang tak setuju, tapi kemudian kuceritakan betapa aku berhutang budi pada Herman, dan akhirnya dia pun mau.

Ada sedikit rasa bersalah saat ini, namun janji tetap harus dilaksanakan, semoga saja ini merupakan jalan yang terbaik, meski mungkin sulit di awalnya.

Sebelum pernikahan itu, aku sudah mengirim bebeerapa orang untuk mencari informasi tentang keluarga Herman itu. Ternyata amak dan istrinya itu semua gila harta, namun Alif ini berbeda, dia lebih memiliki sifat baik seprti Herman.

Saat ini, memang kubiarkan semua berjalan apa adanya, dan semoga saja Allah memberikanku umur panjang agar bisa mendampingi Izzah, menghadapi Alif dan keluarganya. Tak semua kejahatan itu harus dibalas dengan kejahatan kan? Suatu saat mereka pasti bisa berubah.