PART 7

Setelah kembali berbincang sebentar, Mas Kenzi mengajakku untuk ikut ke kantornya. 
Sayang sekali, padahal aku baru saja mulai nyaman bergabung dengan keluarganya.

Tak ada jarak diantara kami, karena semuanya sangat baik. Termasuk Pak Irfan, suami Mbak Kanaya. Kalau suami Mbak Fira dan Mbak Nala, mereka belum bisa ikut menjenguk karena masih bekerja.

"Mami masih disini beberapa hari ini ya, Ken," kata Bu Arini saat Mas Kenzi pamit pulang.

"Jangan lama-lama ya, Mi!" rengeknya manja.

Ya ampun, sejak hari pertama bekerja, aku baru lihat dia bisa manja begitu.

"Sudah besar Ken, kamu yang seharusnya mengurus Mami. Nggak malu sama Disty?"

Aku tersenyum. Lucu juga. Mas Kenzi itu seperti sedang mencari perhatian dari ibu dan ketiga kakaknya.

"Jangan lupa ingatkan dia ya Dis, Mami khawatir dia lupa makan."

Duh, jangan sampai Mas Kenzi cerita masalah kemarin. Bisa malu aku sama Bu Arini. Mataku mengerjap, bersiap menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari Mas Kenzi.

"Tenang Mi, jangan selalu menganggap Kenzi seperti anak kecil begitu."

"Kamu tetap anak kecil di mata kami, Kenzi," tepis Bu Arini.

Fiuh, syukurlah ... ternyata Mas Kenzi tidak mengadu sama Bu Arini. Mendengar Ibu dari delapan orang anak itu bicara, aku bisa menarik kesimpulan, sebenarnya, Mas Kenzi manja karena perlakuan mereka sendiri.

Sebelum pulang, Mbak Kanaya sempat memberikan aku beberapa dress miliknya. Katanya masih baru, tapi kekecilan.
Mengingat baju yang diberikannya merek terkenal, tentu aku senang bukan main. Kapan lagi bisa punya baju sebagus ini? Masalah kapan dipakainya, itu urusan nanti. Kali aja suatu hari Adi ngajak ngedate, ya kan?!

πŸ’πŸ’πŸ’

Di tengah perjalanan menuju kantor, Mas Kenzi menerima telepon dari Mbak Alsha.

"Kamu dirumah, Sha? Baiklah ...."

Apa maksud Mas Kenzi? Di rumah siapa?

Setelah menutup sambungan telepon, Mas Kenzi meminta Pak Darmo untuk  kembali ke rumah, bukan ke kantor.
Katanya, Mbak Alsha ada disana.

Huft ... kenapa tiba-tiba saja dadaku terasa sesak mendengarnya?

πŸ’πŸ’πŸ’

"Ini pasti karena tahu Bu Arini bermalam lama di rumah Mbak Kanaya. Makanya Mbak Alsha berani kesini!" dengus Mbak Titin, ART yang tugasnya bersih-bersih.

"Lha iyo mana langsung nyelonong minta ke kamar Mas Kenzi!" sambung Bude.

"Mas Kenzi nya juga kebelet itu pasti!" tuduh Mbak Sari.

Kami berempat sejak tadi berkumpul menyaksikan kedatangan Mbak Alsha yang dirasa kurang pantas. Bagaimana tidak? begitu datang, dia minta ke kamar Mas Kenzi. Katanya sih, nggak nyaman karena ada kami.

Aku sendiri sempat berpapasan dengan Mbak Alsha. Dia cantik, tinggi seperti Mas Kenzi. Tapi sikapnya berbeda seratus delapan puluh derajat dibanding saat video call waktu itu.
Dengan tatapan sinis, dia diam saja saat aku menyapanya.

"Sana Dis, kamu pura-pura ngapain gitu ke kamarnya. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya!" perintah Bude.

"Aduh, Disty takut Bude. Nanti kalau Mas Kenzi marah bagaimana? Biarin aja, namanya juga orang lagi kasmaran!"

"Ayolah Dis! Kasihan Bu Arini nanti. Bisa apes dia kalau rumahnya dibuat zina!" tambah Mbak Titin.

Aku juga sebenarnya nggak rela melihat Mas Kenzi berduaan dengan pacarnya di kamar. Tapi mau bagaimana lagi? Aku takut mereka marah. Apalagi saat mengingat wajah tak ramah Mbak Alsha tadi.

Dengan berpura-pura mengantar minuman, aku langsung masuk ke kamar Mas Kenzi sesuai arahan Bude dan kawan-kawannya.

"Astaghfirullah!!!" pekikku spontan, saat melihat Mas Kenzi yang posisinya berhadapan dengan Alsha, seperti hendak menci*mnya. Mendengar suaraku, sontak dia langsung berbalik.

"Kamu ngapain kesini, Disty!" bentak Mas Kenzi keras.

"Ehm, anuβ€”"

"Anu apa?" Dia berdiri dan berkacak pinggang.

"Saya mau nganter minuman buat Mbak Alsha , Mas ...," alasanku.

"Ya sudah taruh disana!" perintahnya. "Di kamar ini sudah ada minuman, Disty! kamu nggak tahu atau berlagak nggak tahu?!" tanya Mas Kenzi kesal.

Duh, arahan Bude ngaco ini! Di kamar Mas Kenzi, kan udah lengkap, mau apa aja juga ada. Kenapa Bude malah nyuruh aku bawa minuman? Garing banget kan?!

"Kamu nggak keluar?"

Benar juga, kenapa aku malah diam mematung disini?

"Sayaβ€”"

"Saya perlu privasi sama Alsha, Disty!"

"Iya Mas, maaf ...."

Dengan langkah gontai, aku keluar dari kamar Mas Kenzi. Pikiranku tiba-tiba kacau karena Mas Kenzi bersuara keras seperti tadi.

"Disty!" tiba-tiba Mas Kenzi kembali memanggilku. Ada apa? 
Aku kembali berbalik dan menemui Mas Kenzi.

"Ya, Mas Kenzi?"

"Mata Alsha kelilipan tadi. Saya hanya bantu meniupnya," jelas Mas Kenzi tanpa kuminta.

Jadi tadi dia meniup mata Mbak Alsha? Aku pikir ... Eh, tapi apa urusnnya sama aku? Apa dia pikir aku peduli?


πŸ’πŸ’πŸ’

Kaget habis dimarahi Mas Kenzi, aku keluar untuk mencari udara segar. Namun saat tiba di depan, ternyata Adi sudah berada ditempat dia berjaga.

"Habis dimarahi sama Mas Kenzi, ya?" tebak Adi.

"Kok tahu?"

"Saya tadi kebetulan lagi patroli keliling di bawah kamarnya. Kedengaran dari sana," jelas Adi.

Aku mendengus, kemudian duduk di bangku yang ada. Adi, dia malah mengambil tempat disampingku.

"Kamu cemburu?"

"Ish, siapa yang cemburu? Memang aku siapa? Aku itu tadi disuruh Bude dan yang lainnya kesana. Takut Mas Kenzi khilaf."

"Terus kenapa mukanya kesel begitu?"

"Kagetlah. Aku baru kali ini denger Mas Kenzi suaranya keras."

Kulirik Adi yang tersenyum sambil terus menatapku. 

"Kamu cantik hari ini, Dis...," pujinya.

"Duh, Adi jangan buat aku nggak nyaman. Aku lagi nggak enak hati ini!"

Aku mencoba menutupi perasaan gugup karrna pujian Adi.

"Kamu ada hari libur?"

"Nggak tahu, Bu Arini belum pernah bahas itu. Aku juga bingung, mau tanya nggak enak. Memang kenapa?"

"Saya boleh ajak kamu jalan?"

"Aku nggak suka jalan. Naik mobil aja capek, apalagi jalan."

"Nggak jalan, tapi naik motor. Tenang aja, motornya nggak butut kok!"

"Kamu pikir aku matre?"

"Bukan begitu. Saya hanya menghargai kamu. Sebagai lelaki, setidaknya saya bisa memastikan kamu senang dan nyaman jalan sama saya, Mbak Disty ...," jelas Adi.

Aku lalu memberanikan diri menatap Adi. Kenapa ada desiran di dalam hati yang sulit untuk dimengerti?