Bab 1

Bab 1

"Mas kerumah Ibu, Yok!" pintaku ke suami. Karena hari pertama lebaran dan kami sekeluarga sudah datang ke rumah orang tua Mas Rizal.

Tapi, Mas Rizal seolah tak ada tanda-tanda ingin ke rumah orang tuaku. Sebenarnya, sudah tak kaget sih dia seperti itu. Karena memang dia paling malas jika di ajak ke rumah orang tuaku. Tapi, kalau ke rumah orang tua dia, dia paling cepat.

"Ini itu lebaran, Ran. Masak iya lebaran mau masuk hutan," jawab Mas Rizal seraya menikmati kue tusuk gigi di dalam toples, dia jawab seperti itu.

Allahu Akbar. Baru saja aku meminta maaf dengannya. Tapi lelaki berusia dua puluh lima tahun itu menyakiti hati ini lagi. Nampaknya, sehari saja tak membuat hatiku sakit, dia tak puas. Seperti itulah aku menilainya.

Mas Rizal memang begitu. Susah di ajak main ke rumah keluargaku. Tapi, kalau main ke rumah keluarga dia, harus. Nggak bisa nanti-nanti dan nggak bisa di tunda-tunda.

Namaku Maharani. Biasa di panggil Rani. Usiaku dua puluh tiga tahun. Mempunyai anak perempuan berumur delapan bulan. Namanya Tania Az Zahra.

"Yang kamu bilang masuk hutan itu rumah orang tuaku, Mas. Rumah mertuamu! Dulu keluargamu meminangku di rumah itu," balasku. Mas Rizal terus mengunyah kue tusuk gigi itu. Nampaknya dia memang tak memikirkan perasaanku.

"Nggak! Kesana aja sendiri! Lebaran kok, masuk hutan. Nyari monyet di sana?" balas Mas Rizal tanpa dosa, yang benar-benar menggores hatiku.

Airmata seketika menetes begitu saja. Tanpa bisa aku kendalikan.

"Mas, kalau bukan hari lebaran, terserahlah aku datang sendiri ke sana tak masalah. Ini itu lebaran, Mas. Kalau bapak dan Ibu tanya gimana? aku jawab apa?" tanyaku geram. Mas Rizal terus mengunyah kue itu. Rasanya ingin aku tarik toples itu dan melemparkannya. Diajak ngomong dia malah ngunyah terus.

"Ya, makanya nggak usah ke sana sekalian! Gitu aja di ambil pusing. Makanya kamu itu cepet tua, terlalu memikirkan hal-hal yang tak penting!" jawabnya dengan nada santai dan ngeselin.

Kesabaranku sudah naik ke ubun-ubun. Ingin sekali aku memakinya dengan sebutan nama binatang berkaki empat. Tapi, masih terus aku tahan. Ada rasa malu juga sama tetangga, masa' di hari lebaran, aku tengkar dengan suami?

Astagfirulloh, sabar Rani! Ingat kamu punya anak. Jangan sampai anakmu meniru kata-kata kasarmu! Aku terus menenangkan diri sendiri.

Aku menggendong Tania masuk ke dalam kamar. Mengambil tas kecil, persiapan untuk ke rumah Ibu. Mas Rizal masih tetap di ruang tamu. Mengunyah kue-kue lebaran itu.

Setelah selesai berkemas, tanpa pamit aku keluar dari rumah. Mas Rizal memandangku. Terserah dialah, aku udah engap dengan semuanya.

"Nekad lebaran mau masuk hutan?" tanya dia dengan nada terdengar ngeselin di telingaku. Seakan tak ada niat mencegah atau setidaknya basa basi untuk mengantar anak istrinya.

Ku raih kunci motor yang tergeletak di atas bufet TV. Sengaja diam, tak menggapai peryataannya itu. Pertanyaan yang sangat menggores hati. Suka sekali dia bilang kayak gitu. Tak sekali dua kali, tapi berkali-kali dan kali ini, aku benar-benar sudah muak.

"Heh, kalau mau ke rumah bapak jangan bawa motor! Motornya mau aku pakai buat lebaran. Mau keliling ke tetangga sini," ucapnya lagi. Emosiku benar-benar tersulut mendengarnya.

Mataku terpejam dengan nafas naik turun. Benar-benar manusia ini tak punya hati dan 0tak.

"Kau pikirkan lebaran datang ke rumah tetangga. Tapi, tak kau pikirkan datang ke rumah mertuamu!" sungutku seraya melempar kunci motor itu dengan kasar. Dia menyeringai. Entahlah, kayaknya manusia ini tak mengerti kalau istrinya lagi marah.

Mas Rizal tak menjawab. Asyik dengan mengunyah kue-kue lebaran dalam toples. Seakan memang sengaja, untuk menyulut emosiku. Mungkin ada kepuasan sendiri, jika dia berhasil membuat emosiku naik.

Segera aku keluar dan memakai sendal. Kuambil sepeda ontel yang di terletak di teras. Dengan deraian air mata dan menggendong Tania, aku menggayuh sepeda ontel itu menuju ke rumah bapak dan Ibu.

Mas Rizal memang benar-benar keterlaluan. Dia benar-benar tak mencegahku. Memang sama sekali tak ada niat, untuk datang ke rumah mertuanya. Sungguh ... aku tak habis pikir dengan jalan pikirnya.

Rumah orang tuaku sebenarnya tak di dalam hutan, seperti yang di bilang Mas Rizal tadi. Hanya saja di pelosok yang jauh dari kota.

Perjalanan rumah orang tuaku, kalau di tempuh motor sekitar satu jam setengah. Kalau di tempuh dengan sepeda ontel entahlah mau berapa lama. Yang penting lebaran ini aku sampai sana. Walau dengan perasaan yang telah dihancurkan suamiku sendiri.

Lebaran ini, aku pikir akan datang dengan kebahagiaan ke rumah orang tuaku, ternyata salah prediksiku.

Untung saja Tania tak rewel. Dia anak yang pintar. Karena kaki terasa pegal, aku memutuskan berhenti di bawah pohon yang ada kursinya.

Haus sebenarnya, tapi karena lebaran hari pertama, warung tak ada yang buka. Karena saking emosinya tadi, aku lupa tak membawa air minum.

Ludah sudah terasa kering. Benar-benar sangat haus.  Aku lepaskan gendongan Tania. Biar dia leluasa. Lagian pundak ini sudah terasa kesal dan panas.

Mata ini terasa sembab dan bengkak. Karena sepanjang ngayuh sepeda tak henti-hentinya menetes. Karena hati terasa sangat terluka. Aku tak perduli, bagaimana orang melihatku. Menggayuh sepeda dengan deraian air mata.

Hari lebaran yang harusnya menjadi hari membahagiakan semua orang, tapi tidak denganku.

Kuseka air mata ini seraya memandang Tania. Nak, kalau bukan memikirkan kamu, mungkin Mama sudah pergi dari dulu. Hati ini semakin terasa sakit, jika melihat wajah anakku.

Tin! Tin!

Terdengar suara klakson motor. Segera aku menoleh ke asal suara. Terlihat  seorang laki-laki dengan menggunakan helm berhenti yang tak jauh dari dudukku.

Mataku menyipit. Memastikan siapa lelaki yang memakai helm itu. Dengan perlahan helm itu di buka. Setelah terlepas dari kepalanya, terlihat dia memamerkan gigi putihnya yang berderet rapi.

"Maharani?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk pelan. Siapa dia? Karena mata ini merasa asing dengan lelaki itu. Tapi, kok dia tahu namaku?

Dia turun dari motornya dan mendekat. M Kemudian dia mengulurkan tangannya.

"Hai, apa kabar?" tanyanya ramah seakan memang kenal lama denganku.

Dengan ragu aku membalas uluran tangan itu seraya mengerutkan kening. Masih terus mengingat-ingat, kira-kira dia siapa?

"Baik, maaf siapa?" tanyaku lirih. Dia semakin melebarkan tawanya.

"Astaga ... kamu lupa denganku, Ran? Apa karena saking gantengnya aku? Atau malah sebaliknya ini?" tanyanya lagi, dengan suara tawa. Aku menyeringai malu kemudian mengangguk karena aku memang tak tahu siapa dia. Tangan kami masih saling berjabat.

"Ya Allah, aku Salman Alfarisy, teman SMP. Ingat?" jelasnya seraya bertanya lagi. Semakin mengeratkan genggaman tangannya.

Bibirku seketika menganga. Mataku membelalak menatapnya.

"Ya Allah, Salman!!" teriakku dengan bibir menganga nyaris memeluknya. Tapi aku urungkan, karena aku sadar diri. Aku perempuan yang telah mempunyai anak dan suami.

Lelaki jaman SMP yang pernah aku tolak cintanya. Karena waktu itu, memang aku ingin fokus dalam belajar.

Dia memandang sepeda ontel dan Tania. Saat dia menatap seperti itu, rasanya aku sangat amat malu. Miris dengan keadaanku sendiri. Entah bagaimana Salman menilainya.

Ya Allah, malunya aku dengan keadaan yang memprihatinkan ini. Entahlah, apa yang dia pikirkan. Karena aku melihat keningnya melipat.

"Suamimu mana?" tanyanya.

Jleb! Pasti semua orang akan bertanya seperti itu. Apalagi ini memang nuansa lebaran.

Mas Rizal ... kamu memang sangat tega denganku. Apa yang harus aku katakan kepada Salman?

******************************