Mertua dan Ipar Jahat
Aku terbangun subuh dini hari karena suara tangis anakku. Bayi Rafli rupanya masih saja kelaparan setelah aku suapi air tajin semalam. 

Aku bangkit menggendong bayiku dan kubawa ke dapur. Kulihat air rebusan beras untuk membuat air tajin masih ada. Jadi yang kulakukan adalah menghangatkan air itu untuk kusuapkan pada putraku lagi. 

"Sabar ya, Nak. Ibu akan pinjam uang ke nenek atau budhemu besok pagi untuk membeli susu," bisikku pada bayi berusia enam setengah bulan dalam buaianku. 

Sambil menyuapi bayi Rafli dengan air tajin, aku kembali mencari telepon jadul milikku untuk mencari kabar suamiku. Kutemukan benda itu di antara tumpukan bantal. Kucoba memeriksa pesan aplikasi hijau milik suamiku dan hasilnya nihil. Bang Herman tak membalas pesanku, tak juga terlihat online. 

"Ya Allah, ke mana suamiku ini pergi? Di mana ia sekarang berada dan bagaimana keadaannya? Mengapa tak kunjung pulang juga tak memberi kabar?" batinku dirundung cemas. 

Setelah menyuapi bayi Rafli dengan air tajin. Aku lalu mengambil wudhu dan melaksanakan salat subuh. Selesai salat kulihat bayi Rafli masih lelap, jadi aku tinggalkan saja bayiku di dalam kamar lalu aku menuju rumah mertuaku yang berada di seberang kontrakan. 

Tok! Tok! Tok! 

"Assalamualaikum, Bu."

Aku mengetuk pintu rumah ibu mertuaku beberapa kali. 

"Waalaikumsalam! Sebentar!" sahut ibu mertuaku. 

Tak berapa lama pintu depan rumah ibu mertuaku dibuka dan kulihat wajahnya langsung berubah bengis ketika melihatku. 

"Bu, maaf ini Mila mau--"

"Kamu itu jadi ibu bebal betul! Anak semalaman menangis dibiarkan saja! Berisik tau! Ganggu tetangga tidur aja!" hardik ibu mertuaku memotong kalimat yang hendak aku ucapkan. 

"Maaf, Bu. Semalam Rafli rewel karena susunya habis. Bang Herman--"

"Kamu ini benar-benar enggak becus jadi ibu ya, Mila! Masa susu anak sampai habis kamu enggak beli. Memangnya enggak ada stok? Lagian asi-mu itu buat apa? Kenapa enggak kamu kasih ke Rafli?" cecar ibu mertuaku kembali memotong kalimat yang belum selesai aku ucapkan. 

"Bu, Mila kan sudah lama asinya enggak lancar. Sudah dicoba berkali-kali juga tidak bisa keluar air susunya," jelasku kali ini agak ngotot. Takut kalimatku dipotong lagi oleh ibu mertuaku. 

"Kamu ini menantu ngebantah aja! Kalau orang tua nasehatin itu di dengerin! Sekarang mau apa kamu pagi-pagi ngetok-ngetok rumah saya?" omel ibu mertuaku. 

"Anu, Bu. Mila mau pinjam uang dulu untuk beli susunya Rafli. Bang Herman dari semalam enggak ada kabar soalnya. Kasihan Rafli dari semalam cuma minum air tajin," jawabku lirih dengan wajah ketakutan. 

Aku takut ibu mertuaku menghina dan mengomeliku macam-macam. Hatiku ini rapuh, diomel dan dicaci mertuaku separti tadi saja sudah membuat hatiku terluka. 

"Aduh gusti! Punya menantu begini amat ya. Sudah bebal, enggak becus, kere pula! Kamu itu kan punya ibu yang kaya raya! Punya toko beras gede di pasar induk di kota. Mintalah sama ibumu itu aja!" 

Nah kan, baru awal saja lututku rasanya gemetar. 

"Masa kamu mau hutang sama aku yang janda dan hanya ngandelin uang bulanan dari anak-anakku aja? Lagian Herman itu kalau ngasih jatah bulanan kamu pinter-pinterlah mengatur! Jangan boros dan suka hambur-hambur uang aja!"

Blam! Pintu depan rumah mertuaku di tutup dengan kasar. 

Aku pulang dengan tangan hampa, bukan uang pinjaman yang aku terima tetapi malah hinaan dan makian dari ibu Bang Herman tersebut. 

Aku lalu mencoba untuk meminjam uang pada kakak iparku yang rumahnya berada di sebelah rumah ibu mertuaku. 

"Assalamualaikum, Kak Nilam," ujarku sembari mengetuk pintu rumah kakak iparku itu. 

Lama kujeda dan tak ada jawaban. 

"Assalamualaikum, Kak Nilam!" ujarku lagi. Namun tetap tak ada jawaban. 

Aku mencoba bergerak hendak mengetuk pintu samping rumah Kak Nilam. Siapa tahu dia sedang di dapur jadi tidak mendengar ucapan salamku di depan pintu rumah ya. 

"Nilam! Rumah kamu diketuk sama Kamila. Jangan bukain pintu! Mau pinjam duit dia itu!" 

Aku mendengar suara ibu mertuaku tengah berbicara pada Kak Nilam. Rumah mareka memang bersebelahan dan ada pintu penghubung yang berjejeran sehingga ibu mertuaku bisa saling mengobrol dengan Kak Nilam. 

"Eh, emang iya, Bu? Aduh untung aku enggak dengar karena lagi masak di belakang," sahut Kak Nilam pada ibunya. 

"Iya, tadi dia ke rumah ibu. Mau pinjam buat beli susu Rafli katanya. Tapi enggak ibu kasih," jelas ibu mertuaku percis kejadian yang baru aku alami. 

"Aduh, Bu. Kok minjam kita sih, Herman ke mana?" tanya Kak Nilam masih asyik mengobrol dengan ibu mertuaku tanpa tahu aku menguping pembicaraan mereka dari sisi rumah yang satu lagi. 

"Herman belum pulang katanya. Entah ngelayap ke mana lagi itu anak. Pusing ibu mikirin adik laki-lakimu itu. Dulu bilangnya nikahin anaknya juragan beras kaya raya di kota. Eh bukannya bikin makmur hidup kita, malah jadi beban!" cibir ibu mertuaku. 

"Yang kaya kan orang tuanya, Bu. Kalau anak perempuannya haduh ngurus anak aja enggak mampu, mana bisa nyari duit?" ledek Kak Nilam. 

"Iya, kamu dengar juga ya semalaman anaknya nangis. Berisik!" kesal ibu mertuaku. 

"Aduh si Keke sama si Aldi sampai kebangun  gara-gara suara tangisan Rafli. Kenapa sih, Bu? Masa nenangin anaknya nangis aja enggak bisa dia?" tanya Kak Nilam. 

"Aduh, Nilam. Jangan tanya ibu deh. Emang bebal itu si Kamila. Gemes ibu jadinya. Punya anak enggak bisa ngurusin. Pantesan Herman ngilang-ngilang melulu. Bininya enggak becus begitu!" hina ibu mertua di belakangku. 

"Anak bayi nangis paling lapar atau sakit, Bu. Kalau lapar kan bisa disusuin sih. Masa susu formula abis dia enggak bisa ngasih asi?" tanya Kak Nilam lagi. 

"Nilam, makanya ibu bilang adik iparmu itu enggak becus ngurus anak. Asinya dia itu enggak keluar katanya. Udah ah ngapain juga kamu ngurusin adik iparmu itu. Biar saja dia pusing cari utangan. Enak aja anak orang kaya tapi hidup numpang sama kita!" cemooh ibu mertuaku lagi. 

"Wah aku harus ngumpet nih, biar enggak dijadiin sasaran utang," kelakar Kak Nilam. Ia berpikir seolah lucu ya orang yang terdesak himpitan ekonomi lalu berhutang. 

Aku tak kuat mendengarkan lagi keduanya menghina dan mencemoohku. Kutinggalkan samping rumah Kak Nilam dan aku melangkah gontai menuju rumah kontrakanku. 

Air mataku luruh berderai diperlakukan seperti itu oleh kakak ipar dan ibu mertuaku. Betapa jahatnya mereka seolah aku ini tidak pernah berjasa dalam hidup mereka. 

Padahal dulu waktu masih tinggal di rumah orang tuaku, kami kerap kali membantu mereka. Dulu ketika mereka bertandang, tak kurang-kurang aku menjamu hingga menyiapkan buah tangan. Kuberi juga jatah ibu mertua setiap bulan. Ketika Kak Nilam butuh uang, aku juga dengan ringan tangan membantu. 

Kuberikan apa yang mereka pinta saat itu. Tapi mengapa kini saat aku yang butuh bantuan mereka malah mencemoohku layaknya sampah? Bukankah alasan aku dan anakku kini hidup terlunta-lunta adalah karena kesalahan Bang Herman? 


Komentar

Login untuk melihat komentar!