RAHASIA

PART 6


POV ARGA

Bawa istrimu pergi, Ga. Itu lebih baik daripada meninggalkannya sendirian di sini karena kami tak sanggup melindunginya. Bukan hanya Yuli yang harus diwaspadai, tapi suaminya juga," ujar ibu lirih, seakan takut ada yang mendengar ucapannya barusan.

"Maksud Ibu ... Mas Agus?"

Ibu mengangguk pelan, sedang aku langsung menatap ke arah Wulan.

"Apakah mas Agus juga pernah menganiaya kamu, Wulan?" tanyaku dengan jantung yang berdegub keras.

Jika mbak Yuli yang melakukannya, aku tetap tak terima meski masih bisa menahan kemarahan padanya. Tapi jika mas Agus juga ikut terlibat, ini benar-benar akan menjadi masalah besar karena aku tak akan tinggal diam.

"Eh, eng-enggak begitu, Mas," jawab Wulan dengan wajah yang tampak gugup.

"Sudah, nanti saja kalian bicarakan, Arga. Cepatlah pergi nanti kalian terlambat," desak ibu. Lagi-lagi gelagatnya seperti takut akan ada yang mendengar pembicaraan ini.

Aku dan Wulan pun segera berpamitan pada bapak dan ibu, lalu buru-buru berangkat ke stasiun kereta dengan menggunakan taksi yang sudah kupesan.

Mbak Yuli sedang duduk di kursi teras rupanya bersama mas Agus. Melihat kami keluar hendak berangkat, jangankan mengucap sepatah kata, menoleh pun keduanya tidak.

Aku tak terlalu menghiraukan sikap mereka, melainkan langsung menyuruh Wulan masuk ke dalam taksi sedang aku dan sopir memasukkan barang bawaan kami yang hanya satu buah koper itu ke dalam bagasi.

Setelah semua beres, aku langsung menyusul Wulan masuk ke dalam taksi. Dan kami pun meluncur menuju stasiun.

Perjalanan menuju kota seberang kami lalui dengan relatif lancar. Hanya Wulan tampak sangat pendiam sepanjang jalan. Mungkin gugup karena ia baru pertama kalinya melakukan perjalanan jauh.

"Wulan, kamu belum cerita seluruhnya sama Mas. Sebenarnya ada rahasia apa di rumah yang tidak Mas ketahui? Kenapa sepertinya banyak kejadian yang kamu rahasiakan?" Aku membuka pembicaraan, selagi kereta yang kami tumpangi melaju mulus di atas rel.

Wulan menarik napas dalam, seperti tengah berusaha lepas dari beban berat yang ia tanggung sendiri.

"Aku bingung harus bercerita mulai darimana, Mas," ujarnya pelan dengan tatapan menerawang ke depan.

"Pelan-pelan saja. Toh kita akan sampai masih beberapa jam lagi," jawabku sambil menepuk pelan tangannya.

***


POV WULAN

Perasaanku kini sebenarnya ada di antara lega sekaligus cemas. Lega karena akhirnya aku bisa menjauh dari mbak Yuli yang selalu ketus dan tak segan mengasariku, cemas karena memikirkan kedua orangtua mas Arga yang kini hanya mereka saja yang tinggal bersama mbak Yuli dan keluarganya.

Orang yang tak tahu persoalannya mungkin akan menganggap aku lebay, karena mbak Yuli toh anak kandung mereka. Apa yang harus dikhawatirkan?

Mereka yang berpikir seperti itu, hanyalah orang-orang yang hanya melihat dari luar, tanpa benar-benar mengenal bagaimana karakter mbak Yuli.

Tadinya aku menyambut senang kepindahan mereka kemari. Bahkan aku cenderung merasa iba atas musibah yang mas Agus alami karena di PHK dari tempatnya bekerja.

Aku pikir, dengan bertambahnya anggota baru di rumah ini, akan menambah semarak karena selama ini aku sering merasa kesepian hidup bersama bapak dan ibu mertua.

Ibarat pepatah, jauh panggang dari api. Yang terjadi justru sangat jauh dari harapan. Di hari pertama mereka tinggal, sudah diwarnai pertengkaran antara ibu mertua dan mbak Yuli.

Aku memang tak tahu apa yang menjadi sumber masalah, tapi pertengkaran itu akhirnya berimbas pada sikap kakak iparku itu padaku.

Seakan menimpakan kekesalannya padaku, mbak Yuli selalu bersikap kasar dan sinis padaku. Semua pekerjaan rumah tak sekalipun dia mau turun tangan membantu. Ibu mertua yang merasa kasihan, sering berusaha ikut membantu tapi kularang.

Ibu sudah sepuh, sudah waktunya beristirahat. Mana mungkin aku tega melihat ibu mencuci pakaian-pakaian kotor milik mereka. Jadilah tugasku bertumpuk di rumah ini karena harus melayani kebutuhan mereka juga.

Sebagai menantu lelaki, mas Agus pun kulihat tak peka. Ia seakan menutup mata dan telinga ketika istrinya tanpa sungkan mencaci maki bapak dan ibu, bahkan kepadaku yang tak paham apa-apa.

Dan puncak masalah di rumah ini pun berasal dari ulah lelaki itu ....

Pada pagi itu, aku yang hendak pergi berbelanja seperti biasa, sangat terkejut saat melihat uang yang kusimpan di dalam lemari lenyap. Jumlahnya tak banyak memang, hanya dua ratus ribu. Tapi itu adalah sisa uang terakhirku sampai menunggu mas Arga gajian dan mentransfer sebagian padaku.

Aku yang bingung dan kalut, memikirkan bagaimana kami makan hari ini, terpaksa menceritakannya pada ibu mertua. Bertepatan dengan itu pula, mas Agus membeli begitu banyak makanan, tapi hanya untuk ia, anak dan istrinya saja.

Melihat kejanggalan tersebut, entah keberanian darimana, ibu mertua menanyakan perihal uang tersebut pada mbak Yuli. Bukan jawaban yang ibu dapatkan, justru caci maki yang mbak Yuli lontarkan.

Aku yang merasa tak enak hati, mencoba melerai. Namun seperti kesetanan, mbak Yuli menghajarku habis-habisan. Dan suaminya hanya menonton diam saat aku sudah hampir mati karena kesakitan akibat penganiayaan.

Untunglah bapak yang baru pulang entah darimana masih punya tenaga untuk memisahkan kami. Sebuah tamparan bahkan bapak daratkan di wajah kakak iparku yang bengis itu. Mereka cekcok, berujung pada pengusiran pada mereka yang dilakukan oleh bapak.

Tapi seperti tak punya malu, mbak Yuli masih saja tinggal di rumah dan berlagak seperti seorang nyonya.

🍁🍁🍁🍁

Next part kalau sudah 450 subs ya.🙏😘🥰

Happy reading all.