My love grew in Alfa inn hotel (part1)
Kisah ini berawal ketika aku mengikuti salah satu pembekalan dari perusahaan otomotif terbesar di negara ini. Aku perempuan satu-satunya yang terpilih saat itu karena prestasi ku yang cukup gemilang di waktu yang singkat. Bahkan aku yang awalnya seorang freelance pun bisa mendongkrak sitgma bahwa karier menjadi freelance tidaklah gampang, banyak para senior yang mencibirku dengan dugaan bahwa aku menggunakan affair untuk mendongkrak kinerja ku tapi semuanya ku anggap angin lalu. Semua kerja keras yang tunjukkan adalah murni hasil dari caraku melobi pasaran bukan dengan affair seperti marketing yang lain. Ah...ya ada beberapa juga yang menawarkan untuk membantuku dengan melakukan affair namun bagiku itu adalah opsi terakhir jika aku tidak bisa bekerja dengan maksimal.

Banyak yang memberikan sanjungan karena pencapaian ku dalam waktu singkat, ya hanya dengan waktu 3 bulan aku sudah mampu merajai hasil penjualan bahkan marketing senior yang sudah menjadi karyawan pun ku taklukkan nilai penjualannya. Bagiku, aku lebih menyukai gerakan cepat dan mobilitas tinggi untuk bekerja, tidak menyukai hal-hal yang bisa membuang waktu atau hanya sekedar bersenang-senang. Prinsip kerjaku hanya satu bekerja pada awal bulan, merevisi di pertengahan dan bersantai di akhir bulan dan itu yang membuatku di segani di marketing. Hingga tawaran pembekalan itu datang padaku melalui orang kepercayaan pimpinan ku.

"Anna....kamu yang selanjutnya akan ikut ke pembekalan marketing di Medan, hanya empat hari disana, aku harap kamu bisa ikut walaupun kamu masih berstatus freelance."ucap bang Murad saat kami sedang makan siang di sebuah warung makan sederhana.

"Kenapa aku bang, aku kan masih baru? Bukankah biasanya mereka yang udah lama dan sebagai karyawan yang bakalan di undang kesana?" Ucapku

"Ya nggak mungkin si Gun lagi lah An..."ucapnya setelah mengakhiri suapan terakhirnya.

"Kan masih ada karyawan yang lain bang? Atau masih ada freelance yang lama kenapa aku?" Lagi-lagi ku sibukkan dia dengan pertanyaan

Bang Murad pun mendesah kasar." Kamu satu-satunya freelance yang kinerjanya diluar nalar An...bahkan pak Rahmad pun mengusulkan agar mengangkatmu menjadi karyawan."

"Aku malas bang, lebih enak gini. Kerja nyantai gaji gede dah gitu pas akhir bulan nggak pusing mikirin tuntutan kantor yang ini yang itu ah....malas bang."

"Nggak usah kamu jawab sekarang ntar aja pas akhir bulan, ini cuma gambaran aja biar kamu siap-siap jika suatu saat kamu dipilih untuk ikutan."kali ini bang Murad meneguk kopi dan berdiri akan meninggalkan ku.

"Pikirkan baik-baik An...mana tahu kamu nanti ketemu jodohmu dan nggak jomblo kayak gini."ucapnya sambil tersenyum dan benar-benar telah menghilang dari pandanganku

"Sinting lu bang."lirihku.


Setelah percakapan ku dengan bang Murad kala itu aku mencari tahu bagaimana dan seperti apa sebenarnya pembekalan yang akan ku ikuti nanti, banyak yang menyarankan untuk ikut karena sebagian besar yang ikut adalah cowok bahkan tidak ada cewek nya karena aku di tawarkan sebagai Marketing officer bukan Counter marketing. Jadi kata mereka aku bakal jadi cowok tertampan diantara mereka semua. Cih.... Mendengar kata cowok tertampan aku rasanya jijik, ya bagaimana aku bisa menghindar dari cibiran mereka sementara pergaulanku selalu dengan para lelaki bahkan aku tidak mempunyai teman sekedar untuk bergosip.

Tiba saat tawaran itu menghampiri ku di akhir tahun, dan itu seolah-olah adalah beberapa keberuntungan ku sebelum kesialan ku datang. Selain tawaran untuk ikut di pembekalan perusahaan ternyata aku juga mendapat tawaran posisi sebagai Marketing area yang bebas mau dimana saja (tentunya ini adalah impian setiap marketing untuk bisa melebarkan penjualan mereka tanpa ada batasan wilayah yang selama ini di anut oleh marketing) bahkan area yang kupilih boleh meliputi cabang, woooww .....ini adalah tawaran yang nggak bakal kusia-siakan. Selain itu aku juga mendapatkan gaji diatas senior dan insentif yang berbeda dari setiap penjualanku. Aku rasa ini adalah triple jakpot  yang aku dapat di akhir tahun. Bahkan bang Murad sendiri geleng-geleng kepala saat menyampaikan tawaran ini.

"Aku nggak ngerti maksud pak Rahmat kenapa bisa ngasih tawaran besar gini sama kamu An, bahkan Beni dan Igun yang sudah lama pun masih jadi anak tiri...."

"Mau tahu banget bang???" Cibirku

"Kamu nggak lagi affair kan sama pak Rahmat?"inilah pertanyaan yang paling aku benci jika aku memiliki prestasi dalam bekerja

"Gile aja lu bang....mana doyan aku yang perut buncit dan botak."semprot ku 

"Hahahaha.... buncit-buncit gitu "ladang" An....eh...tapi bener kan nggak ada affair sama pak bos,?" Tanyanya lagi untuk memastikan

"Ya nggak lah bang, gini-gini aku juga punya cowok kali bang."sungutku karena tak terima ucapan bang Murad

"Ah.... mana percaya aku, yang mana cowokmu? Perasaan semua temen mu cowok?" 

"Aku LDR bng sama cowoku, dia kerja di luar kota dan beda profesi."

"Ohhh....ya udah deh kalau gitu aku balik dulu jangan lupa bulan depan kamu udah harus siap-siap untuk ikutan pembekalan."

"Beres...bos."ucapku sambil mengangkat tangan di kepala seperti hormat bendera.