My love grew in Alfa inn hotel
Mereka semua berenam langsung masuk ke restoran yang ada di hotel itu. Dan sialnya lagi kakak beradik yang satu kamar dengan ku merengek padaku untuk menemani mereka agar bisa gabung sarapan. Aku yang mempunyai voucher sarapan akhirnya ku berikan saja pada mereka berdua agar tidak lagi merecokiku karena sungguh di jam-jam begini aku disibukan dengan pemesanan unit dan laporan survei. Sambil melangkah keluar hotel aku memilih tepat yang agak sunyi di dekat pintu masuk. Mungkin bagi mereka yang melihatku aku adalah orang penting yang sebentar-sebentar menerima panggilan dari handphone yang berbeda bahkan terlihat aku menerima dua panggilan sekaligus karena memang kondisi urgent. Hingga akhirnya mobil travel yang menjeput pun datang mengantar kami ke sebuah gedung berlantai empat untuk acara itu.

 Setelah perkenalan antar peserta kini kami di berikan tugas modul sebagi uji kompetensi datar marketing, dan lagi bukannya aku sombong tapi tugas itu adalah makanan sehari-hari ku di lapangan jadi aku bisa selesai lebih dulu. Tapi tunggu dulu aku curiga dengan teman yang ada di samping kurikulum, saat aku menulis namaku dia belum menjawab apapun dan saat aku sudah menjawab beberapa soal dia juga sama sepertiku. Dan akhirnya aku memergoki dia yang ternyata mencontek hasil Jawabanku. Dan makhluk Tuhan yang tidak tahu diri ini hanya tersenyum tanpa dosa. Aku yang kesal karena ulahnya dan karena masalah di kantor akupun langsung mengumpul uji modul tadi, dan dia hanya mendesah pasrah karena aku beranjak keluar. Aku pun tertawa terbahak-bahak karena ekspresi nya yang kesal.

Waktu untuk coffee break masih ada sekitar setengah jam lagi dan aku menggunakan waktu luang itu untuk melobi kantor agar menyiapkan unit yang sudah di pesan oleh konsumen ku, namun ada aja kendala dari kantor hingga akhirnya aku mengumpat dengan kata-kata kotor. Jika saja di ibaratkan kepalaku ini sudah seperti lokomotif yang mengeluarkan asapnya. Hingga tanpa sadar semua peserta sudah keluar untuk coffee break. Aku yang tidak perduli tiba-tiba saja ada yang memberiku secangkir teh dan sepotong roti.

Awalnya aku tak menghiraukan tapi akhirnya aku sadar jika dia adalah teman satu owner beda CEO, dan dengan senyum yang seperti matahari baru terbit aku menerima secangkir teh dan sepotong roti dari tangan Taufik. Aku mengucapkan terimakasih tanpa suara karena saat itu aku sedang menerima telpon dan Taufik pun mengisyaratkan bahwa dia akan merokok dibawah dan jika ada perlu bisa telpon dia, aku yang mengerti mengangguk dan mengangkat jempol tangan ku. Aku yang kesusahan membawa cangkir dan rotipun akhir nya meletakkannya ke meja di depanku dan mencoba melobi semua hal yang bisa ku kerjakan.

Baru jam sepuluh dan di hari pertama aku mengikuti pembekalan aku sudah di buat gila dengan semua hal. Akhirnya aku mematikan ke-empat handphone ku dan meminum teh serta roti dengan rakus, masa bodo dengan mereka yang melihatku seperti makhluk bar-bar yang kelaparan karena ini adalah bentuk kekesalanku.

Setelah break selama 15 menit kamipun masuk kembali untuk membahas materi berikutnya sampai jam makan siang menyambut tapi, aku yang malas keluar hanya ingin tertidur di dalam ruangan dan melewatkan jam makan siang, hingga akhirnya aku ditegur oleh mentor yang ada agar aku keluar dan makan bersama. Karena aku datang terlambat aku hanya mengambil segelas air mineral dalam kemasan dan meminumnya, Taufik yang melihatku pun memanggil dan mengajak makan bareng sama dia, ya di lingkungan kami memang sering begitu jika bertemu dengan sesama marketing, tanpa rasa canggung atau malu untuk berbagi makan di wadah yang sama, bahkan kadang kami saling menukar menu makanan jika kami tidak menyukainya. Tanpa rasa malu akupun langsung mencuci tangan ku dan makan dengan Taufik rasanya sungguh nikmat jika saling berbagi, akupun tersenyum karena banyak yang melihat kami seperti sepasang kekasih yang saling berbagi, padahal bagi kami itu sudah biasa. Dan aku sama Taufik memang orang yang tidak memperdulikan hal-hal yang tidak penting, hingga akhirnya Taufik mengakhiri makan nya.

"Makan aja An....gue dah kenyang, tapi pisangnya untukku."kata Taufik yang baru kulihat memakan beberapa suap dari nasi kotak dihadapan kami.

"Yakin....nggak laper ntar?" Tanyaku meyakinkan nya

"Asal pisangnya nggak lu makan aja gue kenyang karena tadi juga udah ngopi sama makan roti."jawabnya

"Masa pisang makan pisang,"ocehku tanpa menghiraukan sekeliling. Taufik pun mengacak rambutku dan pergi untuk merokok.

"Cowoknya ya..."tanya seorang pria yang usianya sedikit berumur mungkin sekitar 35 tahunan 

Akupun mendongak karena dia berdiri di samping ku "Bukan." Jawabku santai sambil makan makanan yang tinggal sedikit.

"Dari tadi kuperhatikan dia perhatian banget sama kamu, aku kira dia pacar kamu?" Ucapnya lagi

"Kebetulan kami satu owner beda CEO." Ah aku malas berbasa-basi 

"Ooooo....dan sepertinya ada yang cemburu dengan kedekatan mu sama cowok tadi."

Akupun tertawa terbahak-bahak bahakan sudut mataku mengeluarkan air mata.

"Siapa? Yang mana pak?" Tanyaku yang kini sudah selesai makan dan hampir memakan pisang Taufik jika aku tidak khilaf.

"Nanti aja kalau sudah masuk."jawabnya

Akupun berdiri dan hendak mencuci tangan, namun aku merasa ada yang memperhatikan gerak-gerik ku, aku yang hanya bersama beberapa orang lelaki pun segera keluar dari tempat istirahat dan segera masuk kembali ke aula.