My love grew in Alfa inn hotel ( part 7 )
Tak terasa ini adalah hari terakhir ku mengikuti acara pembekalan, seperti biasanya jika ada waktu istirahat seperti coffee break ataupun makan siang pasti ku gunakan untuk menghandle pekerjaan ku dari jauh. Sulit memang bekerja dari jarak jauh karena aku sudah terbiasa dengan turun langsung kelapangan, jadi yang seharusnya pertanggal 5 ini aku sudah bisa mencapai sekitaran 20 unit lebih sekarang hanya bisa setengahnya aja. Elus dada tegak kepala aja deh kali ini, kalah sama teman sendiri, bukan berarti mereka menyerobot penjualanku tapi mereka menyerobot unit yang seharusnya menjadi jatahku, begitulah kami di dunia marketing moto kami "siapa cepat dia dapat, siapa sigap dia pemenang."

"Makan... aku perhatikan daritadi kamu sibuk terus."ucap Tristan yang membawa box makan siang ke arahku.

Aku yang masih menerima panggilan hanya tersenyum dan kembali fokus pada pembicaraanku dengan pihak finance. Karena suasana ruang untuk istirahat begitu ramai aku berjalan ke arah jendela dan sungguh aku ingin sekali pulang dan menyelesaikan semua pekerjaanku seperti sebelumnya. Setelah mengakhiri pembicaraan dengan pihak finance kini aku mendapatkan lagi masalah yang pengen sekali ku cabik-cabik bang Murad yang bilang bahwa aku harus mengikuti sehari lagi basic marketing, wah.... sungguh kali ini jika ada manusia yang menyentil sedikit saja egoku maka bersiaplah menerima kalimat kasar yang panjang dan lebar nya mengalahkan lapangan bola. Aku mencoba meredam egoku dengan meremas handphone ku dan mengalihkan tatapan ku ke arah jalan, isi kepalaku hampir saja meledak, sampai aku melupakan makanan yang di berikan Tristan. Aku tak menyadari jika waktu istirahat siang sudah habis, pandangan ku masih saja tertuju pada jalan raya yang kulihat dari atas gedung, hingga Taufik membuyarkan lamunanku.

"Bengong aja An...... udah waktu masuk tuh, aku duluan ya."ucapnya sambil membuang puntung rokok dan menginjaknya dan akupun hanya menoleh dan menganggukkan kepala.

Kuhembuskan nafasku kasar dan berbalik menuju tangga untuk kembali ke aula, saat baru satu langkah menuruni tangga aku melihat Tristan sudah ada di hadapanku dan mendorong tubuhku ke dinding, sungguh jangan mematikku kali ini karena hormon estrogen ku akan meningkat di saat seperti ini, dan kali ini aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi, karena biasanya aku akan menghindar dari lingkungan sekitar, namun kali ini aku rasa aku akan kehilangan kontrol jika tidak bisa mengendalikan.

"Kenapa kamu nggak makan siang?" Aku melihat tatapan marah pada Tristan, ya memang tadi pagi aku melewatkan sarapan dan coffee break karena kupikir kalau hari ini adalah hari terakhir ku jadi aku mencoba memperbaiki semua dan berusaha agar besok bisa aku handle langsung di lapangan tanpa membuang banyak waktu. Aku masih terdiam untuk meredam semuanya, aku tak ingin terlihat mengenaskan di saat seperti ini. Saat pandangan matanya terarah padaku aku memalingkan wajahku, sungguh Tuhan jangan mengujiku kali ini, aku takut sifat lain dalam diriku muncul.

"Lihat aku kalau di ajak ngomong An..."ucapnya yang kini sudah meraih daguku, namun aku masih enggan menatapnya.

"An...aku yakin kamu mendengarku, jawab An....kini wajah Tristan semakin mendekat dan kurasakan deru nafasnya. Aku lemah...aku nyerah...aku sungguh tak kuasa menahan hormon estrogen ini dan di sini masih di tangga ini berakhirlah dengan French Kiss...


------------

Setelah kejadian tadi siang aku berusaha menjauh dari Tristan, sungguh aku malu dan tak bisa ku bayangkan jika perbuatanku tadi diketahui yang lain. Namun berbeda dengan dia, sepertinya dia malah selalu ingin berdekatan dengan ku. Saat ini aku sudah berada di kamar dan segera menguncinya,aku ingin beristirahat sebelum makan malam nanti. 
Aku terbangun setelah mendengar azan magrib, tak kulihat adanya Farida di kamar, dan sepertinya dia tidak kesini. Aku langsung ke kamar mandi dan segera bergegas keluar karena salah satu surveyor kesayanganku kali ini akan mengajaku makan di dekat mall yang ada di sekitar hotel. Dia adalah salah satu surveyor yang tidak mempersulit customer ku asal aku mau membantu dia di lapangan, syarat yang sudah lumrah sih.... Kini aku sudah berdandan santai ala diriku dengan celana pendek selutut dan kaos oblong yang tidak terlalu kebesaran aku melenggang keluar menuju tempat yang sudah kami sepakati. Sesampainya di pintu lobi, aku mendapatkan telpon bahwa Riyan sudah berada di restoran di hotel dan sepertinya dia merubah tempat bertemu, aku langsung melihatnya karena jarak antar pintu lobi dan restoran hanya di pisahkan dengan kaca.

"Lama bro..."sapaku pada Riyan

"Baru juga duduk."ucapnya sambil mengeluarkan beberapa berkas yang akan kami bahas. Sengaja kami duduk di ujung pojok dekat pintu keluar yang menghubungkan antara lobi dan restoran untuk meminimalisir isi percakapan kami di dengar orang lain. Kami membahas satu-satu Case customer yang di laporkan atas nama penjualanku, sudah biasa jika kita harus berdebat dan mempertahankan argumen begitu juga kondisi saat ini, ada sekitar 7 customer yang telah kami bahas dan berakhir dengan deal bahkan semua akan "turun" unit besok dan di handle sendiri oleh Riyan karena dia tahu jika aku tidak bisa. Aku senang karena bantuan Riyan, setelah semua selesai kami pun memesan makan malam, sengaja kami membahas dulu masalah pekerjaan baru makan.

"Ku lihat mood mu tidak bagus, apa ada masalah yang lain." Inilah kebiasaan Riyan yang tak bisa ku hindari dia selalu bisa membaca apa yang ada difikiran ku.

"Entahlah....aku juga binggung yan."

"Jalani aja seperti biasa nggak usah maksa, trus gimana kabar calon tunangan lu."

"Nggak tahu, semenjak aku disini kami belum ada komunikasi sama sekali."jawabku sambil memakan pizza yang ku pesan, sengaja aku memesan pizza biar kenyang sampe besok dan ini adalah pembalasan ku karena seharian tidak makan.

Setelah kami menyelesaikan makan dan diskusi tentang apa yang akan di kerjakan besok Riyan pun pamit pulang karena dia sudah di tunggu istri kesayangan nya di rumah. Akupun kembali ke kamar dan mencuci wajah untuk bersiap tidur. Baru saja aku keluar kamar mandi pintu kamarku diketuk dan karena posisinya berdekatan dengan pintu akupun membukanya tanpa melihat siapa yang datang, aku fikir dia Farida. Setelah membuka pintu aku langsung berpaling dan melepaskan kaos yang tadi kupakai dan tersisa lah tank top, akupun langsung menjatuhkan badanku dengan posisi telungkup.

"Ahhhhh..... Nyamannya." Ucapku pelan sambil memeluk bantal.

"Lebih nyaman seperti ini."aku terkejut mendengar suaranya dan dia sudah memeluk tubuhku erat. Aku menoleh dan aku terkejut saat melihat Candra sudah mengungkung tubuhku.

"Mau apa kamu Can....lepas."pintaku sambil memberontak, Candra pun mengendorkan pelukannya dan mencuri ciuman di dahiku.

Setelah Candra duduk di pinggiran ranjang akupun berlari ke arah jendela yang terbuka. Lampu kamar yang sudah diganti dengan lampu tidur membuatku memilih berlari ke dekat jendela jika nanti Candra melakukan sesuatu hal yang tidak ku inginkan, otak langsung merespon bahwa pedagang sate yang ku datangi dengan Tristan waktu itu letaknya pas banget dengan jendela kamarku ini, dan ini adalah poin pertahanan diriku, karena aku yakin Tristan dan teman-teman pasti disana. Entah dapat kepedean dari mana aku saat ini yang jelas aku ingin menghindari Candra.

"Jangan menghindari ku An...,ini adalah malam terakhir kita, jadi kuharap kita bisa menikmati malam dengan baik."aku masih diam mencerna semua ucapan Candra.

"Kamu tahu An.... Aku benci dengan Tristan, aku rasa dengan memukulinya waktu itu bisa membuatnya menjauh darimu, tapi yang ada dia malah makin mendekatimu dan dengan sombongnya dia dan teman-temannya mengeroyok ku hingga aku harus terluka di sini."tunjuknya pada perutnya yang seperti ada luka gores sambil berjalan mendekatiku.

Jadi...luka di sudut bibir Tristan waktu itu...karena dia berkelahi dengan Candra. Ini lah hal yang paling kubenci dari pria, mereka menyelesaikan masalah dengan adu fisik.

"Dan kamu tahu sekarang An, dia tidak lagi akan menggangu kita karena dia sekarang bersama Farida."

"Terus apa mau mu, jangan macam-macam kamu ya, aku bisa saja lompat dari sini, jangan menguji kesabaranku." Aku yang bersiap melompat melihat bahwa benar saat ini Tristan bersama Farida berada di ujung sebrang jalan sedang duduk memakan cemilan sedang kan Tristan merokok. Kini Candra semakin mendekat, sontak aku menjerit memanggil nama Tristan, entahlah apa aku yang bego karena panik atau jeritan ku tidak terdengar karena jarak yang jauh, tapi sungguh kali ini aku ingin meminta bantuan Tristan, aku hanya melihat penjual sate yang terpaku karena aku memberontak saat Candra ingin memciumku dengan paksa, aku berharap tukang sate itu akan tahu bahwa aku sungguh perlu pertolongan. Sampai akhirnya Candra menarikku dan melemparku ke kasur, aku jijik dengan pria ini, jijik dengan perilaku nya, dia mabuk dan aku yakin dia tidak hanya menenggak alkohol aku yakin dia juga sedang memakai salah satu jenis narkoba yang tidak aku ketahui. Jika saja aku anak Soleha maka tolong Tuhan bantu aku yang tidak ingin dilecehkan seperti ini. Aku berusaha melindungi diriku dengan mencari pulpen yang biasanya untuk pertahanan diriku, dan saat aku dapat aku segera membuka tutupnya dengan jempolku dan menusukkan nya ke dada Candra, awalnya dia meringis menahan sakit tapi setelah di tariknya, darah tak berhenti dari dadanya dan merembes ke baju yang di pakainya.

Dia berang , dia tersulut emosi dan tindakannya semakin kasar, dia menarik tank top yang kupakai hingga robek, aku menjerit dan mencoba mencari lagi dimana pulpen yang tadi dibuang Candra tapi hasilnya nihil bahkan sekarang aku sudah benar-benar tersudut. Tuhan kali ini aku pasrah, aku benar-banar pasrah jika aku harus ternoda, dan aku pasrah jika kekasihku tidak lagi menerimaku karena aku sudah tidak perawan lagi.