Menabrak Kambing

     Brruuukk...

     "Apa itu...," seisi mobil terbangun.

     "Kambing," jawabku gemetar seraya menepi.

     "Lanjut saja! Tinggalin aja!" Ujar kakak iparku yang duduk di sampingku.

     Aku ragu, namun kakak iparku tersebut dengan tegas memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan. Ku injak pedal gas dengan cepat meninggalkan seekor kambing yang menggelepar diantara kerumunan kambing-kambing lainnya.

     "Salah sendiri kenapa tidak di kandangin," gerutu kak Dania lagi.

     Dari kaca spion aku sempat melihat penggembala kambing tersebut berlari mengejar kambingnya yang tertabrak olehku. Dari kejauhan tampak tangannya melambai-lambai ke arah mobil yang ku kemudikan.

    Semua terjadi begitu cepat, aku diminta oleh bang Evan untuk menjemput istrinya di rumah mertuanya. Butuh waktu 5 jam perjalanan dari rumah kami menuju kota tempat tinggal mertua bang Evan tersebut. Bang Evan berhalangan ada tugas terbang dadakan keluar kota menggantikan temannya yang sakit terserang struk kemaren sore, yah kakak sulungku itu seorang Pilot lintas kota dalam negeri.

     Dania nama istrinya, baru melahirkan putra pertama mereka sekitar 2 bulan lalu. Kota tempat tinggal kakak iparku ini jauh di perbatasan. Tidak ada bandara di sana, jadi otomatis kita harus menggunakan mobil sebagai transportasi ke sana.

     Ayah dan Ibu kak Dania ikut serta, mereka tak tega melepas putri semata wayang mereka yang baru melahirkan untuk kembali ke rumahnya. Wajah ayah dan ibu kak Dania tampak tegang. Mereka berulang-ulang mengucap istighfar dan sesekali menoleh kebelakang.

    Aku tahu mereka sangat cemas dan khawatir. Berbeda dengan kakak iparku, dia santai saja seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sedangkan aku sendiri, jujur ini benar-benar pengalaman pertama. Meskipun itu hanya seekor kambing, tapi hewan itu mahluk bernyawa...aghh aku mengusap wajah dengan kasar.

     Setelah 30 menit berlalu, aku mengenepikan kendaraanku. Ku ambil air minum mineral yang terletak manis di pojok kanan tak jauh dari setir lalu aku keluar dari mobil, diikuti oleh Kak Dania. Ku guyur wajahku dengan air, berulang-ulang sampai terasa segar.

    "Hm...syukurlah tidak ada yang lecet," aku terkejut kak Dania sudah patroli memeriksa bagian depan mobil.

    "Ben...masih bs bawa?" Tanya kak Dania ku jawab dengan anggukan.

    "Ayo lanjut ntar keburu magrib, apa mau gantian?" Aku mendelik mendengar penawaran kak Dania.

     Gila...jika ku iyakan bisa habis aku di hajar bang Evan. Buru-buru aku masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan kak Dania. Ayah dan Ibu kak Dania tampak baru terlelap sedangkan mbok Anik duduk tenang memangku bayi kak Dania.

     Perjalanan masih jauh, sekitar 2 jam  lagi baru kami akan sampai di rumah. Ku lirik kak Dania tidak tertidur, dia fokus memperhatikan jalan. Dari kejauhan aku melihat bebek berbaris menyeberang jalan.

     "Nggak perlu nunggu sampai selesai, lewat aja ntar juga bebeknya kabur takut kelindes," kak Nadia memberi kode.

      Tak bisa di turuti, gila banget batinku. Dengan memperlambat laju kendaraan ku coba mengulur waktu.

     "Kenapa sih kamu baperan banget, bebek gitu aja... udah cepetan," kak Nadia ngotot meminta aku kembali melajukan kendaraan.

     Ya Allah cantik saja tidak cukup, iparku ini wajahnya MasyaAllah cantiknya tetapi sifatnya bar-bar sekali batinku. Beruntung saat ku menginjak pedal gas lebih dalam  barisan bebek pun  selesai menyeberang.