Irvan Marah


"Kamu belum jelas ya, hah?! Dengarkan sekali lagi nih. Aku ngucapin. Kita cerai!" teriak Irvan.


"Masih kurang jelas? Kita cerai kita cerai kita cerai! Seribu kali. Paham?" tegas Irvan dengan keras hingga menusuk telinga Karina.


"Astaghfirullah, Kak. Istighfar. Kamu kok  ngomong gitu lagi? Kan nggak boleh."


"Nyatanya udah aku omongin." Laki -laki itu mendecih. 


"Ustaz Fathoni udah peringatin kamu. Ucapan yang ketiga nggak akan bisa bikin kita rujuk lagi." Mata Karina berkaca-kaca. 


"Aku tak ada niatan lagi untuk rujuk denganmu. Kamu ikuti saja jalan pikiranmu sendiri. Nah sekarang selamat tinggal." Lelaki itu keluar rumah. 


Karina terduduk di sofa. Apa yang ditakutkannya terjadi juga. Ini sudah yang ketiga Irvan mengucap kata cerai.


Lelaki itu pernah menceraikannya saat ia baru melahirkan anak pertama, lalu meminta rujuk. Selanjutnya Karina hamil anak kedua kemudian diceraikan lagi sesudah kelahiran putra kedua mereka. Namun, kemudian rujuk lagi sehingga Karina yang meyakini tidak boleh ber-KB itu hamil lagi. 


Makanya perempuan itu berusaha menjaga-jaga jangan sampai setelah anak ketiganya lahir, kata itu terucap lagi. Jika itu terjadi, rujuk tidak mungkin dilakukan kembali. 


"Bagaimana nasib ketiga anak ini? Mereka masih kecil dan masih sangat membutuhkan kasih sayang dua orangtuanya secara lengkap," lirih Karina.


Ia bukan perempuan bodoh. Setidaknya punya selembar ijasah sarjana. Ia hanya ingin bekerja membantu ekonomi keluarga yang sangat kurang. Rumah sewaan sepetak yang kumuh dan ketiga anaknya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 


Namun, Irvan selalu saja marah jika mendengarnya meminta ijin melamar pekerjaan, hingga kata itu terucap lagi.


Dengan perasaan teriris ia segera membereskan pakaian dan mengangkut ketiga anaknya yang masih kecil-kecil ke rumah ibunya.


Sang ibu yang sudah letih membesarkan Karina sendiri tanpa suami, menangis.


"Kurang ajar sekali si Irvan."


Untunglah ia masih mempunyai seorang adik perempuan yang belum menikah. Adiknya bekerja sebagai wakil personalia di sebuah perusahaan besar di Jakarta.


"Huh, kalau Yumna cowok, sudah kutonjok suamimu itu, Kak," kata adiknya itu geram.


Hari-hari ia lalui dengan pikiran kosong. Ia sering menangis sendirian. Apalagi mengingat perlakuan suaminya.


"Sudahlah, Kak. Nggak usah dipikirkan lagi lelaki kayak gitu. Mending ngumpulin uang. Kakak kan masih muda, bisa menikah lagi."


Karina tersenyum masygul. 


"Tak semudah itu menikah, Dik," katanya dalam hati. 


Irvan adalah cinta pertamanya. Saat pertama mengenal laki-laki, saat itulah ia bertemu Irvan. Sedangkan Irvan menikahinya setelah cintanya ditolak oleh perempuan lain. Apalah daya, semua sudah terlanjur. 


Takdir memang tak pernah bisa diduga. Sekarang ia telah berhasil mendapat pekerjaan di tempat Yumna. 


Kesedihan Karina berangsur hilang. Meski terkadang ia ingat Irvan yang masih sangat ia cintai. Terutama di tengah malam. 


"Di mana kamu sekarang, Kak?" bisiknya pada langit-langit kamar.


***

Di tempatnya bekerja, ada seorang karyawan yang selalu memperhatikan Karina. Lelaki itu sering menawarkan diri untuk mengantar Karina pulang. Namun perempuan yang merasa belum genap masa iddahnya itu selalu menolak.


"Ya, nggak papa, Mbak. Saya lelaki, sudah biasa ditolak. He ...." Lelaki itu berusaha membuat joke agar Karina tersenyum.