Dayu Salah Duga
Lelaki itu menyeringai. Dengan santai  ia melenggang ke kamar mandi. 

Bibirnya tertarik ke atas mengingat hari ini seluruh dendam dan kejengkelan yang disimpannya selama ini, akan segera  tertuntaskan. 

Selesai berpakaian, ia mengambil gambar Karina yang tergolek tanpa selembar benang pun di atas pembaringan. 

Ia harus bergerak cepat sebelum Karina sadar dari obat bius, agar rencananya berjalan sesuai perkiraan.

Setelah itu ia mengirim gambar tersebut ke ponsel Heri dengan menggunakan nomor lain. Tak lupa menyertakan nama apartemen dan nomor kamarnya. 

Pesan yang sama juga dikirimkan ke nomor istri Heri.

Ia tertawa membayangkan perang dunia ketiga yang sebentar lagi akan terjadi di kamar ini.

***

Heri masih berada di kantor. Ia terbiasa pulang malam. Belakangan ini istrinya sering marah dan curiga karena beberapa kali mendapat pesan bahwa suaminya berselingkuh. 

Namun, pesan tersebut tanpa nama dan tak pernah dapat dihubungi menggunakan telepon reguler.

"Bapak lembur lagi malam ini?" tanya Rhayna, asisten Heri, sambil membereskan barang-barang.

Masih teringat bagaimana istrinya itu menteror Rhayna, sampai-sampai perempuan bertinggi badan 170 cm itu hampir saja mengundurkan diri.

"Iya," jawab Heri bersiap membuka laptopnya.

"Kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya besok lagi dikerjakannya, Pak," usul wanita cantik itu dengan rona wajah cemas.

"Tak apa, Rhay, kamu tidak perlu menguatirkan saya."

Sejenak perempuan itu terdiam karena ragu.

"Sudah, saya bisa kok mengatasi ini sendiri," ujar Heri tersenyum untuk menenangkan hati sekretaris sekaligus asisten pribadinya itu.

"Saya pulang ya, Pak. Saya nggak mau jadi sasaran kemarahan Ibu lagi," sahut perempuan itu.

Heri mengangguk. Ia maklum dengan keputusan Rhayna. 

Semua itu karena istrinya sering memperoleh pesan gelap kalau Heri ada hubungan dengan Rhayna. 

Padahal Heri selama ini selalu menjadi suami yang baik. Rhayna juga gadis baik-baik, ia tak tahu apa-apa.

Saat ia sudah sendirian di ruangan itu, tiba-tiba ponsel lelaki itu berkilat. Heri menatap malas pada benda kecil namun harganya cukup mahal tersebut. 

[Kamu di mana, Pa?]

[Di kantor]

[Awas ya, jangan bohong, coba PAP] 

Lesu, ia memotret dirinya yang tengah duduk menghadapi laptop di atas meja lalu post a picture sesuai permintaan sang istri.

[All right, sharlok-nya mana?] balas istrinya.

Heri membagikan lokasi terkini.

[Ok then, you mau go home at eight. No more!] Sang istri menyudahi teleponnya.

Dengan lesu ia meletakkan kembali gadgetnya. 

"Nanti gue pulang jam dua belas sekalian," ungkapnya pelan yang hanya didengar olehnya sendiri.

Heri masih berkutat dengan pekerjaannya ketika sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal ke dalam ponselnya. Orang itu mengirim beberapa gambar.

Ia segera menekan titik tengah. Beberapa gambar perempuan tanpa busana berbaring pulas di atas pembaringan. Darah Heri terkesiap. Itu foto Karina. Astaga.

[APARTEMEN BARBAROSA KAMAR 211 L. SELAMATKAN BIDADARIMU JIKA KAU PEDULI PADANYA ]

Dengan panik, ia segera menghentikan pekerjaannya, menyimpan file dan men-shutdown laptop. 

Diraihnya kunci mobil kemudian menarik jas di belakang sandaran kursi.

Tanpa pikir panjang, ia segera berlari melalui koridor kantor dan menyalakan kendaraan. Sekuriti yang menyapanya sampai tak sempat ia acuhkan.

Tak berapa lama, Heri sudah memasuki apartemen tersebut. Dengan gegas memarkir mobil dan menaiki lift dengan perasaan campur aduk. 

Sementara itu sepasang mata dari sudut kantin dekat parkiran diam-diam memperhatikannya. 

Orang itu sudah menunggunya dan segera mengambil gambar Heri dan mobilnya sejak saat masuk parkiran sampai ia keluar dari mobilnya serta memasuki pintu apartemen. Laki-laki itu tertawa menyeringai.

Segera dikirimnya gambar tersebut ke nomor ponsel istri Heri yang sedari tadi melakukan panggilan video namun tak digubrisnya. 

Ia tersenyum jahat membayangkan bagaimana jadinya kalau istri Heri datang ke sini.

***

"Karina, Karina!"

Laki-laki itu memandang iba pada Karina yang tengah terbaring tanpa busana. 

Mulutnya mengatup dan giginya bergeletuk membayangkan perlakuan Angga terhadap wanita ini barusan.

Heri buru-buru memakaikan pakaian pada tubuh perempuan itu. Sebagai lelaki, darahnya berdesir melihat pemandangan di hadapannya, tapi ia bukan laki-laki bejat yang mau memanfaatkan keadaan. 

Belum seluruh pakaian sempurna dikenakan ketika Karina mulai menampakkan bahwa efek obat bius perlahan menghilang.

Perempuan itu terkesiap duduk.

"Pak Heri! Apa yang sedang Bapak lakukan!"

Karina mulai menangis memandangi seluruh ruangan dan dirinya yang berada di atas pembaringan bersama Heri.

Ia segera turun dan merapikan pakaian. Kepala sudah tak berasa pusing, tetapi segala pikiran buruk berputar-putar.

"Tenang, Karin, semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Saya keluar dulu, agar kamu bisa berpakaian dengan baik, nanti saya jelaskan semuanya."

Ia segera bergegas keluar. Dan saat berdiri membalikkan badan di depan pintu kamar tersebut, sebuah tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipinya.

Sang istri berdiri dengan pandangan marah bercampur kesedihan yang amat menakutkan. 

Bahkan di sampingnya ada paman sang istri yang memandanginya dengan tatapan curiga sekaligus merendahkan.

"Dayu, sedang apa kamu di sini?"

Dayu dan pamannya tak menggubris pertanyaan laki-laki itu. Mereka lantas masuk begitu saja menlewati Heri yang berusaha menahan keduanya.

Mereka mendadak mematung melihat Karina yang sedang berdiri di tepi ranjang belum selesai merapikan pakaian. Segera keributan terjadi. 

Dayu menyerang Karina yang belum memahami apa yang tengah terjadi pada dirinya. Sang paman memegangi tangan Heri yang berusaha untuk melerai pertikaian dua perempuan itu.