Karina Dipermalukan
"Dasar perempuan hina!" Dayu membanting pintu.

Karina menengok dan bertanya-tanya dalam hati siapa perempuan itu. 

"Pelakor! Perebut suami orang!" Dayu memandang Karina dengan mata berkilat-kilat.

"Siapa yang merebut suami orang, Bu? Saya tidak mengerti." Karina mencoba menjawab tudingan Dayu.

"Masih mengelak kamu? Sudah jelas-jelas tidur dengan suamiku masih coba mengelak kamu?" teriak Dayu lalu menampar Karina. 

"Ma, kamu salah paham. Dia tidak tahu apa-apa. Aku nggak ngapa-ngapain sama siapa pun."  Heri ingin menarik istrinya tapi tubuhnya dibekap oleh sang paman. Ia memanggil wanita itu agar menyudahi kecurigaannya.

Namun Dayu yang sudah lama memendam ingin mengetahui siapa selingkuhan suaminya merasa panas hati. Ia menarik Karina dan menampar wajahnya berulang-ulang.

"Hentikan perbuatanmu padanya. Dia korban. Kita semua diperdaya oleh seseorang," teriak Heri mencoba lepas dari pelukan keras Paman.

"Keterlaluan kamu ya, Pa. Kamu bilang lembur, ternyata tidur dengan perempuan ini! Cih!" Dayu meludahi wajah Karina.

Bibir Karina sudah berdarah akibat tamparan dan pukulan Dayu. Wanita itu terjatuh di lantai.

Heri harus bertindak, jika tidak maka Karina bisa habis jadi bulan-bulanan Dayu.

Bug! Bug!

Heri meninju Paman demi bisa melepaskan diri dari dekapan keras lelaki itu.

"Aduh." Paman jatuh terduduk.

Lalu Heri pun menghambur ke arah dua wanita itu dan mencoba menyelamatkan Karina dari amukan istrinya. Karina menangis. 

"Kamu tenang dulu bisa nggak sih, Ma?!" Heri berusaha menutupi tubuh Karina untuk mengadang pukulan Dayu.

Melihat itu, hati wanita itu semakin panas.

"Ceraikan aku!" jerit Dayu membuat Paman segera bangkit dan mendekat. 

Mata paman sungguh mengerikan mendengar teriakan kepedihan Dayu.

"Paman, tolong dengar penjelasanku dulu. Kami ini dijebak. Aku mendapat chat untuk segera ke sini. Sampai sini Karina sudah dalam keadaan sendirian dan mengenaskan. Aku menyuruhnya segera berpakaian dan berniat mengantarnya pulang. Apa kalian tidak kasihan?"

Sang Paman tak peduli dengan alasan Heri. Ia menyerang kembali. Terpaksa Heri melawan. Adu jotos tak dapat dihindarkan.

Penjelasan Heri barusan membuat Karina sadar kalau ia tak bersalah. Ia yang merasakan sakit di wajahnya padahal tak bersalah apa-apa mulai kesal dan bangkit. Ia tak menerima dituduh seperti itu.

Ia meraih kepala Dayu. Tak peduli lagi  Dayu itu istri bosnya, kalau perlu ia akan berhenti dari pekerjaan. 

Karina segera membalas perbuatan Dayu tadi dan berbalik menyerang. Ia tak pernah berkelahi sehingga tak tahu harus berbuat apa, yang jelas ia tak rela dirinya diperlakukan bagai pesakitan. Ia menarik rambut Dayu dan balas meludahi wajah wanita itu berulang-ulang hingga Dayu menjerit-jerit tak jelas.

Tiba-tiba beberapa petugas keamanan apartemen datang melerai keributan. Sekitar 2 orang  berseragam sekuriti dan 2 orang lain dengan pakaian biasa.

"Maaf, Saudara-saudara, harap segera menghentikan pertikaian Anda. Orang-orang di sekitar keberatan dengan keributan yang Anda lakukan."

Tubuh Heri dan Paman sudah bercampur keringat. Napas mereka ngos-ngosan dengan wajah cukup lebam di sana-sini. 

Karina berdiri tegak dengan badan bergetar menahan kesal dan rasa sakit di bagian bawah perutnya sedang Dayu sesenggukan mengusap kepala dan wajahnya di sudut kamar. 

Terpaksa mereka berhenti. Beberapa orang tampak menyembulkan wajah ke dalam kamar ingin tahu apa yang terjadi.

"Sebentar, Pak. Saya butuh rekaman CVTV sekitar satu jam lalu di depan kamar ini." Heri baru sadar kalau ia bisa membuktikan bahwa ia tak bersalah.

"Maaf, kami tidak bisa sembarangan memperlihatkan rekaman. Anda memerlukan ijin kepolisian untuk bisa mengaksesnya," jawab petugas.

"Tapi, Pak. Saya sangat membutuhkan siapa yang telah memperdayai kami hingga timbul semua kesalahpahaman ini.

Petugas tetap berkeras kalau Heri harus lapor ke kepolisian lebih dulu.

"Karina, bagaimana kalau kita ke kantor polisi sekarang juga?" tanya Heri.

Karina menggeleng keras. Ia tak mau banyak orang tahu apa yang menimpa dirinya, terutama sang ibu di rumah. Ia baru teringat orang-orang rumah.

"Tidak perlu, Pak. Saya harus pulang sekarang. Anak-anak saya menanti," sahut Karina dengan suara serak. 

"Kalau begitu tolong ungkapkan, kenapa kamu bisa sampai di sini? " tanyanya lagi.

Karina menggeleng. Ia ingin pulang segera.

"Tolonglah, Karin. Agar semuanya jelas dan keluargaku tak lagi mencurigaimu," pinta lelaki itu.

Karina tak peduli. Ia masih merasakan sakit pada tubuh dan juga hatinya, jiwa dan raganya. Ia membenahi tas dan segera keluar dari tempat kejadian.

Wanita itu menghidupkan ponsel  lalu mencari nama Yumna. Hampir saja ia menangis saat berbicara pada adiknya kalau saja tak didengarnya suara Ibu yang menanyakan keberadaannya.

Di dalam kamar, Heri mengusap kepala dengan gusar. Ia penasaran, siapa yang telah membawa Karina ke tempat ini.

Ia tak akan tinggal diam, ia harus mencari tahu. Entah bagaimana caranya nanti.

Sementara Karina segera pulang ke rumah. Ia ingat Anggalah yang telah membawanya ke sini. Perlahan kesadarannya pulih. Ia ingin segera menyampaikan semua kesedihannya pada adik satu-satunya.