Yumna Dendam

"Ya ampun, Kak, kenapa baru nelepon sih?" semprot Yumna saat Karina menghubunginya.

"Yum," potong Karina.

"Kan udah kubilang, kalau pergi tuh bilang. Ibu kuatir banget tauk.  Anak-anak juga dari tadi nanyain mulu." Gadis itu kelihatan kesal tanpa mengetahui keadaan Karina yang sebenarnya.

Tak lama Karina mendengar suara Ibu. Hampir saja ia menangis, tapi dikuatkannya hati.

"Maaf, Bu. Karina lupa tadi ada lemburan sebentar." Kristal bening tak mampu ia tahan mengalir dari sudut mata, membohongi ibu padahal baru saja terjadi hal yang sangat memukul jiwa.

Sesampai di rumah, Karina lantas menyapa ibu dan dua anaknya yang masih menonton televisi. 

Kemudian ia pamit masuk kamar, menjenguk si bungsu yang sudah tidur, dengan alasan capek. Sebelumnya, ia sempat membisikkan sesuatu pada adiknya.

"Yum, ke kamar sebentar." Ia berbisik begitu agar tak terdengar ibu.

Di kamar, Karina mengatakan semua yang terjadi kepadanya barusan. Yumna mendengarkan semua penuturan Karina. Tak ada yang disembunyikan lagi karena hanya Yumna tempat berbagi. 

Gadis itu memandang kakaknya dengan iba kemudian berjanji tak akan memberitahukan hal tersebut kepada wanita yang telah melahirkan mereka.

"Kakak harus bagaimana sekarang, Yum?"

"Kurang ajar si Angga. Kita nggak boleh diam, Kak."

"Apakah Kakak harus pindah kerja?" tanya Karina.

"Menurutku jangan. Angga harus menerima ganjarannya dulu."

"Apa yang akan kamu lakukan, Yum?"

Gadis itu diam. Dia membisikkan sesuatu kepada kakaknya yang lantas mengangguk-angguk dan tidur.

Esoknya di kantor, Yumna segera menemui Heri di ruangannya. Ia mengatakan semuanya pada lelaki itu sehingga tanpa sadar, lelaki jangkung itu menampar meja.

Prakkk!

"Sudah kuduga, dia biang keladinya." Gusar sekali kelihatannya saat ia ucapkan kalimat itu.

"Saya dendam, Pak. Kakak saya orangnya lemah, tapi saya tidak. Saya tidak bisa tinggal diam."

"Kamu benar, Yum." Heri duduk sambil melonggarkan dasi. Rasanya tenggorokannya seperti tercekik sesuatu sejak mendengar penuturan Yumna.

"Jadi, saya mohon bantuan Bapak," pinta Yumna dengan wajah memelas.

"Bagaimana rencanamu?" tanya lelaki itu mendekatkan tubuh kepada Yumna agar dapat lebih intens mendengarkan.

"Begini rencana saya," ungkap Yumna pelan sesudah menengok kanan kiri, agar suaranya tak didengar orang selain mereka berdua.

Heri mengangguk-angguk.

"Aku setuju," katanya. "Baik, akan kulaksanakan hari ini juga."

Yumna keluar ruangan sambil berucap terima kasih.

Yumna memberi kode pada kakaknya bahwa Pak Heri akan memulai aksinya sore nanti seulang bekerja. 

Pagi itu mereka menanti kedatangan Angga. Seperti dugaan mereka, pria itu bertingkah sangat biasa, seolah tak ada apa-apa.

Karina ingin sekali menyemprotnya dengan caci maki, namun perempuan yang terbiasa memendam keinginan itu mampu meredam emosi.

"Pagi," seru Angga saat melewati mejanya. 

Karina pura-pura tak mendengar. Ia segera mengalihkan perhatian pada para karyawan yang bekerja di bagian gudang.

Sedangkan Yumna yang sudah lebih dulu duduk di balik mejanya memberikan senyuman biasa saja, seolah memang gadis itu tak tahu apa-apa.

"Hai, Yum," sapa Angga.

"Ya," sahut gadis itu tersenyum. Ia malah berusaha terlihat nakal dengan mengerling ke arah Angga.

"Sudah sarapan, Yum?"

"Sudah, dong. Kau mau beliin aku sesuatu?" goda Yumna.

"Boleh saja kalau mau," sahut sang lelaki tersenyum menyeringai. Dia suka dengan Yumna yang lebih terbuka dibanding kakaknya.

Sore menjelang jam pulang kantor, Rhayna disuruh Heri memanggil keduanya.

"Pak Angga dan Yumna, kalian dipanggil ke ruang Pak Heri," seru Rhayna mendatangi ruang mereka.

"Baik," sahut Yumna.

Angga menoleh. Ada perasaan tak senang saat mengetahui ia dipanggil oleh Heri. Di ruang itu ia akan terlihat seperti bawahan yang seolah harus menurut pada perintah orang yang tak disenanginya itu.

Untunglah ia teringat dengan chat kemarin. Istri Heri termakan umpannya dan telah mendatangi apartemen Barbarosa untuk minta cerai. Kembali Angga menyunggingkan sebuah senyuman jahat.

"Pagi, Pak."

Kedua orang itu masuk. Yumna memberi salam sedangkan Angga langsung menuju sofa dan  duduk tak acuh. 

Pandangannya tidak mau diarahkan pada Heri, melainkan jelalatan menelisik seluruh ruangan. Seharusnya ia yang berada di ruang ini, kata hatinya. 

Raut iri dan sinis tampak sekali pada wajahnya.

"Ada apa manggil segala?" tanyanya tak sabar.

Rhayna keluar ruangan. "Saya pulang dulu Pak," pamit Rhayna pada Heri. Heri mengangguk lalu memberi kode  pada Yumna untuk duduk di samping Angga.

Suasana kaku sejenak. Heri tampak membenahi peralatannya, tas, laptop, jas, dan sebuah kardus besar diambilnya dari lantai. Ia memasukkan seluruh barang miliknya ke dalam dus tersebut.

Angga memperhatikan dengan heran namun tak ingin peduli.

Setelah barang-barangnya masuk ke dalam dus itu, termasuk bingkai foto berisi gambar diri dan keluarganya, Heri duduk di hadapan kedua orang itu. Ia mengambil napas sambil menatap tajam.

"Hari ini saya mengajukan pindah ke kantor cabang Kalimantan."

Tubuh Angga menegak. Ia tak menyangka jika rencananya berjalan secepat ini. Ia tahu, pasti isteri Heri yang memintanya pindah. Ia tertawa dalam hati.

"Ke--kenapa pindah, Pak?" tanya  Yumna pura-pura terkejut.

"Maaf, masalah pribadi," sahut Heri cepat.

"Mulai hari ini, kamu yang bertanggung jawab atas kantor ini." Heri menyerahkan kunci ruangan pada Angga. "Dan kau sebagai Kepala Personalia," tunjuk Heri pada Yumna.

"Sa--saya, Pak?" tanya Yumna tak percaya.

"Aku?" Angga mengedikkan bahu.

"Iya. Hanya kalian berdua yang pantas menerima jabatan itu karena telah menjadi karyawan terlama di sini. Tentunya pengalaman pun banyak dan loyalitas tak perlu diragukan lagi. Aku sudah mengirim nama kalian ke kantor pusat."

Heri berdiri. Ia melangkah mendekati meja kerja lalu mengangkut dus berisi barang-barang kemudian berjalan keluar.

"Pak, selamat menempuh pekerjaan di tempat baru. Semoga sukses," seru Yumna sebelum Heri menghilang di balik pintu.

"Selamat tinggal," jawab Heri sambil membuka pintu dan menghilang.

Angga segera bangkit. Ia merentangkan kedua tangan panjang-panjang menatap sekeliling ruangan lantas tertawa.

"Aha, ruangan ini jadi milikku sekarang?" tanyanya pada Yumna.

Yumna menatap Angga penuh kagum. 

"Betul, Mas. Selamat, ya."

Lelaki itu tertawa lebar.

Ia mencoba duduk di kursi Heri, berputar-putar di atasnya sambil tersenyum puas.

Yumna menghampiri Angga dengan lenggok yang menggoda dan dengan sengaja mendekatkan tubuhnya pada lelaki itu.

"Mas, kau sangat cocok duduk di sini. Namamu akan terpampang di meja kerja ini sebagai manajer utama," ucap Yumna dengan bibir sangat menggoda. 

Angga tertawa mendengar ucapan perempuan itu. Tak disadarinya ia memeluk pinggul wanita itu. 

"Oh, maaf, apa aku harus memanggil Bapak sekarang? Atau Bos sekalian?" goda gadis itu lagi.

"Ah, usul yang bagus. Sekarang kau kan bawahanku."

"Siap, Bos," jawab Yumna lucu.

"Atau kujadikan kau sekretarisku saja? Menggantikan Rhayna yang  kaku dan kampungan itu?" 

"Boleh, ide bagus itu," sahut Yumna membiarkan Angga menggerayangi tubuhnya.

"Siap menerima perintah pertama dariku?" tanya Angga nakal. "Kunci pintu," perintahnya.

Yuma tertawa, ia berjalan ke arah pintu dan menguncinya. 

Hati yang tengah dibuai mimpi akan jabatan yang diimpikan, ditambah ada seorang wanita cantik di sampingnya, membuat Angga lupa diri. 

Ia meraih tubuh Yumna. Menyentuh wajah wanita itu dan mencium bibirnya. Yumna tidak membalas namun ia juga tak menolak.

Angga dikuasai hasrat laki-lakinya sehingga tak sadar sebelah tangan Yumna mengambil beberapa foto dengan ponselnya dari belakang tubuh lelaki itu.

Lelaki itu begitu bernafsu sehingga telah membuka bajunya. Yumna berusaha mengulur waktu dan terpaksa meladeni ciuman Angga, tapi hatinya was-was, mengapa Heri belum juga datang?