Mengungkit Luka

“Tera, Adeena ada cerita padamu, kalau ibunya sakit?” tanya Bastiah, saat ia mengisi air putih ke sebuah teko kaca di dapur.  


Tera mengangkat kedua alisnya, lalu menggeleng. 


“Sudah aku duga. Berapa hari yang lalu, bibinya ingin bertemu, tapi Adeenanya nggak ada. Lalu bibinya ke sini, titip pesan kalau ibunya sedang sakit dan ingin bertemu dengan Adeena. Sudah enam tahun lebih katanya ibunya menderita stroke. Sudah aku sampaikan ke Adeena. Jadi dia tidak cerita padamu?”


Teratai duduk di sebuah kursi. Akhir-akhir ini ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Adeena. Apalagi sekarang Adeena kembali bertemu dengan Barra.


“Tidak. Jadi ibunya tinggal di Mawangi?"

Bastiah menganguk. “Kau bujuklah dia. Sejahat-jahat seorang ibu, tetap perempuan yang melahirkan dan membesarkannya.”


Teratai terdiam. Banyak pertanyaan yang berkelebat, tetapi ia merasa ibunya bukan orang  yang tepat untuk bertukar pendapat. Mengingat ibunya juga seorang perempuan yang melahirkan dan berjuang membesarkan anak-anak. 


“Nanti aku coba. Aku masuk dulu, Bu. Tadi Evan mau minum.”

Bastiah mengangguk. 


*** 


“Mama minta maaf. Tadi sempat ngobrol sama nenek. Evan haus sekali ya?” ucap Teratai ketika melihat Evan meneguk segelas air hanya dengan sekali napas. 


Evan menggeleng, lalu menyerahkan gelas itu pada Teratai. Ia berbaring di tengah ranjang. Sanad langsung mengelus rambut Evan. 

Teratai terdiam. Melihat  Evan yang memejamkan mata dan merasa nyaman dengan belaian Sanad.


“Evan beruntung sekali punya ayah sepertimu.”

“Ada apa nih?” goda Sanad.

Teratai hanya menjawab wajah merengut. Sanad tertawa kecil. Ia menggeser Evan. Seketika mata Evan terbuka. 


“Evan ke pinggir ya.” Ia mendekatkan wajah ke telinga Evan. “Mama juga ingin dimanja,” bisiknya. 


Evan tersenyum penuh arti. Lalu bergeser sendiri. Teratai menatap penuh selidik.  Sanad hanya meraih kepala Teratai ke sampingnya. Evan semakin mengulum senyum. 


“Kalian mencurigakan sekali,” selidik Teratai. 

Evan terkekeh. Bahu Sanad bergerak-gerak menahan tawa. Ia mencium rambut Evan. “Tidurlah. Supaya Evan cepat bangun dan kita bisa melihat matahari terbit di danau.” 


Anak itu segera memejamkan mata. Diam-diam ia mengintip Teratai yang memeluk pinggang ayahnya. 


*** 




“Kenapa?” tanya Sanad setelah memastikan Evan sudah terlelap. 

“Tadi ibu cerita, kalau ibunya Adeena sakit dan  ingin bertemu dengan Adeena.” 


Sanad mengernyit. “Memangnya ibunya masih hidup? Oh, maaf. Aku memang tidak tahu siapa Adeena. Aku cuma pernah melihat ayahnya, jadi kupikir ibunya sudah meninggal.”


“Ibunya masih hidup. Mereka pisah sewaktu Adeena masih SMA. Tidak apa kalau aku menceritakan masa lalu keluarga Adeena?”

Sanad terdiam. Menatap istrinya yang terlihat sangat ingin curhat. 


“Kalau memang itu privasi, ya jangan. Tapi kalau sudah rahasia umum, kurasa nggak masalah kamu cerita padaku, supaya aku bisa memberi pandangan padamu.”


Teratai mencebikkan bibirnya. Sanad tersenyum. Ia berbaring, lalu meletakkan kepala Teratai ke bahunya. 

“Kalau memang kamu merasa nggak enak, ya nggak papa.” 


Terata menghela napas.

Apa salahnya jika ia menceritakan itu kepada Sanad? Toh Sanad bukan tipe mulut ember seperti kebanyakan perempuan.


“Aku memang tidak bisa memahami perasaan Adeena dan kekhawatiranmu. Tapi tidak ada cara lagi selain membujuk Adeena agar menemui ibunya. Karena kita tidak tahu berapa lama ibunya bertahan. Khawatirnya akan menjadi penyesalan seumur hidup Adeena. Apalagi suatu saat dia juga akan menjadi seorang ibu, saat itu dia akan mengerti bagaimana susahnya menjadi seorang ibu. Sedikit banyak pasti ada sesal. Selain itu, tidak baik menyimpan dendam,  kita juga tidak tahu bagaimana keadaan ibunya di sana, siapa tahu ibunya  juga menderita," ujar Sanad setelah mendengar cerita Teratai.


Teratai mengangguk. Ia semakin menenggelamkan kepalanya ke bahu Sanad. “Terima kasih. Sampai sekarang, aku masih saja mengkhawatirkannya, apalagi jika teringat sumpah serapah orang  dulu.”


“Sumpah serapah? Bukannya yang berbuat ibunya?” 


“Setelah apa yang dilakukan ibunya. Orang-orang jadi membenci dan mencurigainya, sedang laki-laki buaya semakin berani menggodanya. Hingga suatu hari ada laki-laki beristri mencegatnya di jalan, dan ketahuan istrinya. Tetapi istrinya malah menuduh Adeena. Karena saking marahnya, perempuan itu juga mengeluarkan sumpah serapah pada Adeena. Aku tidak melihat kejadian itu, hanya mendengar dari Adeena. Tapi sejak kejadian itu, aku jadi selalu khawatir padanya. Aku takut itu benar-benar terjadi.”


“Bukankah itu cuma fitnah?!” Sanad memiringkan badannya. “Memang banyak orang bilang mulut itu bisa jadi doa, tapi Adeena sekarang sudah dewasa dan memiliki pemikirannya sendiri. Tentu ia bisa memilih baik dan buruk. Selama ia memilih jalan baik, kurasa sumpah itu tidak akan berlaku.”


“Semoga saja.” 

“Aamiin.” Sanad mengecup rambut Teratai. “Tidurlah, sepertinya kamu lelah sekali hari ini. Jangan bebani dirimu dengan terus memikirkannya. Dia sudah dewasa. Sudah seharusnya bertanggung jawab dengan jalan yang ditempuhnya.” 


“Tapi aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya. Selama aku bisa mencegahnya, aku akan berusaha.”


“Iya, aku mengerti. Kita doakan saja, semoga semuanya baik-baik saja.”

“Aamiin.” 

***


Pagi sekali Kenan mengayuh sepedanya ke kafe Teratai. Sengaja ia bersepeda karena berpikir Adeena akan menyukai dengan orang sefrekuensi. Bibirnya tak berhenti tersenyum jika memikirkan hal itu. Sayang, senyumnya mendadak hilang. Mobil bosnya keluar dari halaman kafe Teratai, dan ia melihat Adeena tersenyum di dalamnya. 



*** 


“Berapa tahun aku tidak ke sini ya? Lama sekali,” seru Barra sambil menghenyakkan bokongnya di atas rumput, di taman Lambung Mangkurat. Ia memandangi ring bola basket. Seketika memori latihan bola basket waktu SMA kembali mengulang. 


“Jadi ingat waktu main bola basket dan kamu tukang yel-yelnya.”

Adeena tersenyum. “Kalau ingat itu, rasa malu sekali. Norak banget.”


“Tapi itulah masa-masa indah kita. Setelah itu, kita harus melewati hari-hari yang berat. Kurasa kamu juga begitu.”


Wajah Adeena berupa sendu. “Sangat berat. Mungkin sekarang hanya tinggal nama, andai tidak ada Teratai waktu itu.”


“Maafkan aku. Tak seharusnya aku meninggalkanmu waktu itu. Kamu juga korban.” 


Adeena menghela napasnya. “Kalau pun kamu ada, aku tidak tahu harus bagaimana memperlihatkan wajah.”


Barra menoleh. Menatap lamat. “Aku senang, melihat kau sekarang baik-baik saja.”

Adeena menelan ludahnya. Tiba-tiba ia teringat, pertanyaan Teratai. 


“Apakah Barra sekarang sudah menikah?"


“Barr ….” Dering ponsel Barra menghentikan ucapannya seketika.

Barra mengangkat ponselnya. “Maaf, sebentar ya. Aku angkat telpon dulu,” ucap Barra setelah memerhatikan layar ponselnya, lalu menjauh. 


Adeena menatap Barra dengan seribu pertanyaan. 


Mungkinkah Barra sudah menikah?

Lalu apa hak dia tau? Kalaupun belum menikah, apakah itu artinya ia kembali berharap?


Adeena tersenyum sumbang.  Dadanya berdenyut nyeri. Mengharapkan Barra, sama saja kembali mengorek luka. Ibunya Barra tidak akan pernah bisa menerimanya. 



***


“Pak ini, makan siang yang Bapak pinta.”

“Taruh saja di atas meja,” jawab sang direktur tanpa mengalihkan perhatiannya dari dokumen. 


Asisten itu meletakkan nampan yang berisi ketupat dengan, dessert juga minuman. Lalu keluar ruangan. 


Setelah menutup dokumen, direktur itu menatap ke atas meja. Seketika ia terkejut begitu melihat hiasan di atas dessert dan minuman. Ia langsung berdiri dan mendekati makanan itu. Ia mengambil daun itu lalu membauinya. Tidak salah lagi, ini memang daun mint. 


Ia segera menelpon asisten, meminta bagian barista datang ke kantornya. 


*** 



Dengan gugup Kenan masuk lift, naik ke lantai lima tempat kantor direktur. Ia mendekati sekretaris yang menelponnya. 

“Kak, Kakak tau kenapa saya dipanggil?” tanya Kenan dengan wajah cemas. 


Kinanti menggeleng. 

“Kira-kira apa ada yang salah dengan minuman buatanku tadi?” 


“Tidak tahu. Kamu masuk saja dulu. Jangan buat Pak Ayden menunggu lama. “

Kenan menelan ludahnya. “Baiklah, Kak!” 

Kinanti mengetuk pintu, lalu masuk. “Pak, ini Kenan, salah satu barista restoran kita.” 


Ayden langsung mengangkat wajahnya. Ia langsung berdiri dan mempersilakan duduk. 

Kenan duduk dengan sungkan. 

“Kamu tinggalkan kami,” Ayden pada Kinanti.


“Baik, Pak.” Kinanti undur diri. 

Kenan semakin cemas. 

“Jangan cemas!” ucap Ayden setelah melihat Kenan yang berkeringat. “Saya cuma ingin tahu dari mana mendapatkan daun mint ini?”


Kenan mengembus napas lega. “Itu ada yang ngantarin, Pak. Baru berapa hari ini.” 

“Dia menanam sendiri?” cecar Ayden. 

Kenan mengangguk. “Iya, Pak. Dia punya toko tanaman juga.” 


“Kalau begitu, bisa kamu hantar saya ke sana?” 

***


Terima kasih 💜