Awal Petaka

Asap mengepul di sebuah teras belakang rumah Teratai. Aroma wangi bumbu dari ikan bakar kerapu menguar ke tetangga beberapa rumah. Seorang pemuda mengipas-ngipas ikan yang sedang di panggang di atas bara api. 


Dua orang gadis menyiapkan sayuran dan sambal terasi. 


"Enak banget," seru seorang gadis berkulit putih ketika mencolek sambal. "Coba deh enak banget." 


Gadis itu mencocol terong ke sambal lalu tanpa permisi menyuapkan ke mulut cowok. Anak cowok itu mengerang kesal. Pasalnya, mulutnya jadi belepotan dan sensasi panas dari cabe di bibirnya.


Melihat muka kesal, gadis cantik itu malah tertawa. Gadis satunya tersenyum simpul melihat dua temannya yang lagi kasmaran itu. 


Tawa mereka terhenti. Tiba-tiba terdengar  teriakan orang-orang. Makin lama makin terdengar dan sangat dekat dengan mereka. Sontak mereka berlari keluar rumah, mencari tau apa yang terjadi. 


Teratai, Adeena dan Barra nama ketiga remaja itu. Mereka menerobos kerumunan. Seketika ketiganya mematung. Terlihat seorang laki-laki dewasa hanya mengenakan celana dan perempuan berpakaian tidak utuh lagi, bersimpuh di tanah dengan wajah tertunduk. Sumpah serapah dari mulut warga saling bersahutan. 


"Pembawa petaka!"


"Manusia tidak tau malu!"


"Ini nih yang mendatangkan azab!"


"Pantesan dua minggu ini tidak melihat matahari!"


"Cantik cantik ternyata, fuih!"


Mata Adeena dan Barra saling membelalak dengan napas tertahan. Mereka bersitatap, beralih ke orang dewasa yang dihakimi itu, menggelengkan kepala, lalu tertunduk dengan tangan terkepal dan mata memerah. 


Di dapur, bara api di panggangan menyala. Ikan kerapu sebesar telapak tangan itu yang jauh hari telah disiapkan Teratai untuk kedua sahabatnya musnah sudah. Aroma gosong menguar, menyengat hidung, tetapi aroma itu malah dianggap itu sebagai pertanda bala bencana. 


***



Jika Teratai bebek, Adeena Angsa. Adeena dikaruniai kulit putih dan wajah rupawan, bertolak belakang dengan Teratai. Ibunya Adeena seorang perempuan dari desa Mawangi, daerah pegunungan. Desa yang terkenal dengan kecantikan perempuan-perempuannya. Konon katanya moyang Adeena dari daerah Telaga Bidadari.


Bapak Adeena laki-laki hitam manis dari Bangkau. Adeena tetesan gabungan dari keduanya, ciptakan cantik rupawan. Hidung mancung, tatapan tajam, leher jenjang,  wajah panjang proporsional seperti bapaknya. Tinggi semampai, dan kulit putih dari ibunya. Perpaduan yang sempurna. 


Sayangnya, nasibnya tak secantik jasmaninya. Ia sudah seperti angsa yang terkutuk setelah ibunya tertangkap basah selingkuh. Ia kehilangan dua orang sekaligus dalam satu waktu. 


Tak hanya sampai di situ. Ayahnya yang begitu memuja ibunya kehilangan akal. Hari-hari dilewati tanpa semangat, temperamen mudah berubah-ubah. Tak jarang melakukan tindakan kekerasan terhadap Adeena. 


Jangan pernah berbuat kesalahan, jika kau masih tinggal di desa. Satu kesalahan yang kau lakukan beritanya akan menyebar cepat dalam radius puluhan kilometer.


Adeena yang tadinya menjadi primadona, seketika menjadi bahan gunjingan dan cercaan. Ia harus menanggung aib yang dilakukan ibunya. Sedang sang ibu pergi entah kemana dan dengan siapa, ia tidak ingin tau. 


Ia harus menahan tatapan cemoohan dari rumah sampai ke sekolah, SMA di Gambah yang jaraknya lebih tiga belas kilometer. Belum lagi di sekolah, jadi tempat pelampiasan gadis remaja yang iri, dan godaan anak laki-laki nakal. Om kurang ajar, jangan ditanya. Adeena menjadi ancaman bagi para istri dan kekasih dari Bangkau sampai Gambah. 


Adeena mencoba bertahan, setidaknya sampai kelulusan dan ia juga akan pergi dari situ. Sayangnya, di balik diamnya tersimpan jiwa yang rapuh. Pulang sekolah ia mampir ke belakang gudang sekolah, bergabung dengan anak-anak pecandu rokok dan ngelem. 


Ia hanya ingin istirahat sebentar, untuk bertahan beberapa lama lagi. 


Barra tidak ada kabar lagi. Kalaupun ada, bagaimana ia harus memperlihatkan wajah? Barra teman sekelas yang tinggal di Sei Kupang. Radean, ayah Barra seorang tengkulak ikan kering. Entah bagaimana caranya hingga akhirnya terjadi perselingkuhan. 


 Mengingat Barra hatinya makin hancur. Perginya Barra, bukan sekadar raibnya cinta pertama, melainkan mimpinya.


Teratai baru saja sampai di halaman, ketika melihat ibu-ibu bergerombol di pinggir jalan. Lalu terdengar teriakan amarah dari seorang laki-laki. 


"Kenapa lagi, Cil?" tanya Teratai pada acil-acil pembungkus kerupuk di teras rumahnya. Teratai sudah menduga, pasti ada drama di rumah Adeena. 


"Tadi Sahyan dipanggil guru sekolah. Ternyata Adeena tertangkap basah sedang ngelem."


"Ish." Teratai mengumpat. Ia segera melepas sepeda yang belum berdiri tegak, lalu berlari ke arah suara. Meninggalkan bunyi cempreng sepedanya yang masih terpasang keranjang kerupuk.

 

"TERATAI!" teriak Bastiah. 


Teratai menuli. Ia terus berlari menuju rumah Adeena.


***


Terima kasih. Mohon dukungan subscribe, komen dan like, supaya tambah semangat meneruskan cerita ini.


***


Kisah Teratai dewasa ada di Teratai Kedua. Silakan ikuti cerita serunya di sana.


Terima kasih 💜