Dani

“Pa, bantuin dia. Kasihan banget, wajahnya sampai memerah gitu!”

Giliran Ayden yang terkesiap. 


Adeena mengibas tangannya. "Tak apa. Sebentar lagi reda kok," ucapnya susah payah, sambil menekan dadanya. 


"Kalau begitu Papa antar Mama ke kamar mandi. Papa mau berangkat kerja." Ayden mengalihkan pembicaraan. Batuk Adeena sudah mulai reda. 

Kamila mengangguk. 


***



Setelah bertanya ke beberapa orang yang ada di desa Mawangi, akhirnya Teratai menemukan tempat tinggal Marwa, ibunya Adeena. Keane memarkir mobilnya di halaman yang dinaungi pohon rambutan rindang. Di bawah pohon terdapat sebuah kandang yang berisi sepasang kelinci. 


Sang tuan rumah langsung keluar begitu mendengar bunyi sebuah mobil. Dengan heran,  perempuan itu menatap Teratai. 


“Assalamu ‘alaikum, Bu.”

“Wa alaikum salam,” jawab tuan rumah dengan wajah masih keheranan. 

“Ibu Marwa tinggal di sini?” tanya Teratai. 


“Iya. Siapa ya?” tanya tuan rumah sambil mengingat. Tiba-tiba kedua matanya membesar. “Adeena?”

“Bukan, Bu. Saya Teratai, temannya Adeena. Boleh saya bertemu dengan Bu Marwa?"


“Oh iya. Iya, silakan masuk. Mari! Dia ada di belakang.” 


Teratai mengikuti tuan rumah, hingga sampai ke dapur, keluar, lalu masuk lagi ke sebuah bangunan yang sudah terpisah dari rumah pertama. Ia sampai di sebuah rumah kecil, bisa dibilang sangat kecil. Sangat jauh jika dibandingkan dengan rumah Sahyan. Rumah terlihat sangat berantakan. Di ruang tengah seorang bocah menginjak remaja yang sedang memberi minum kepada Marwa dengan sedotan. 


“Assalamu ‘alaikum,” sapa Teratai.

“Wa ‘alaikum salam,” jawab bocah itu. Bocah itu menyingkir. Teratai menyerahkan buah tangan yang dibawanya kepada bocah itu. 


“Terima kasih, Cil.” 

Teratai mengangguk. “Sama-sama.” 

Tuan rumah yang membawa Teratai merapikan selimut yang menutupi separuh badan Marwa. 


“Katanya teman Adeena. Kamu kenal?” tanya tuan rumah kepada Marwa.

Teratai menyalami ibunya Marwa terbaring. Marwa menatapnya. Beberapa saat kemudian, kedua matanya membesar. 


“Deeen …. Deen ….” ceracau Marwa tidak jelas. Seketika air merembes dari mata Marwa. Tubuhnya bergerak-gerak seakan-akan ingin mengungkap banyaknya kata yang tersimpan di hatinya. Nyatanya hanyalah keluar ceracau yang tidak dimengerti oleh Teratai. 


Teratai menatap tuan rumah. 

“Dia ingin bertemu Adeena. Ingin meminta maaf. Dia sangat menyesal atas perbuatannya dulu dan sangat merindukan Adeena.”


“Aaa … aaa.” Marwa menganggukkan kepalanya dan mengangkat sebelah tangannya yang masih bisa digerakkan.


Teratai  menatap Marwa penuh empati. Marwa sangat jauh berbeda dari terakhir ia melihat. Sekarang Marwa tak lebih dari daging membungkus tulang. 


 “Saya janji akan membawa Adeena ke sini, Ibu yang sabar ya.”


Bukannya anggukan, tangis Marwa semakin menderu. Tiba-tiba Teratai merasakan matanya menghangat. Ia mengalihkan perhatian kepada tuan rumah. “Kalau boleh tau Ibu siapa Adeena?” 


“Saya Maisarah, uwanya Adeena, kakak Marwa. Saya yang kemarin ke Bangkau.” 

“Oh ibu ya?! Saya cuma diberitahu ibu saya,” sahut Teratai.


“Iya, kemarin Adeena nggak ada. Lalu ada yang bilang, kalau dia bekerja di tempatmu.”

Teratai mengangguk. “Iya, kami bersebelahan toko. Saya akan berusaha membujuk dia, tapi mohon pengertiannya ya.”


“Iya, kami ngerti. Hanya saja ….” Maisarah menghentikan ucapannya setelah melihat ke arah Marwa. “Eh, Dani buatkan minuman untuk Acil.”


“Nnggak usah repot, Bu. Saya cuma sebentar di sini.”

“Jangan! Ini dari mana? Bangkau atau Kandangan?”


“Kandangan, Bu.”

“Lumayan jauh, apalagi kalau orang jarang kemari, pasti cape harus melewati jalan pegunungan. Berkelok-kelok dan menanjak.”

“Benar, Bu. Saya agak takut tadi, untung saya ke sini dengan sopir. Coba kalau sendiri, bisa balik saya,” seru Teratai sambil tertawa ringan.


Maisarah terkekeh mendengarnya. Bocah yang disebut Dani menyuguhkan segelas air mineral. 


“Kalau Dani ini …?” tanya Teratai sambil menatap bocah itu. Dari wajah, ia bisa menebak kalau itu adiknya Adeena. Sangat mirip. Hanya perbedaan di rambut. Adeena berambut lurus, sedang Dani berambut ikal. Tiba-tiba ia teringat Barra. Rambut Dani sama dengan Barra. 


“Dani adiknya Adeena.” 

Dani mendekat, menyalami Teratai, lalu undur diri. 

“Sudah kelas berapa dia?” tanya Teratai.


“Cuma tamat SD, nggak lanjut lagi.  Dia yang merawat ibunya. Kalau siang saya harus mengaret, jadi hanya Dani yang bisa diharapkan.”


“Maaf, kalau ayahnya Dani?” Akhirnya Teratai tidak kuasa menahan diri. 

Maisarah menghela napas keras. Marwa mulai menangis lagi. 


“Dia selingkuh lagi saat Dani berusia dua tahun.”

Tangis Marwa semakin nyaring. Maisarah jadi sibuk mendiamkan Marwa. Dani kembali masuk ke ruangan itu.

Teratai terdiam. 


*** 



“Cil!” 

Gerakan Teratai  yang hendak masuk ke mobil terhenti. Ia menoleh ke belakang. Dani tadinya memberi makan kelinci mendekatinya. 


“Titip pesan sama Kak Adeena, boleh?"

Teratai mengangguk.


"Ibu sangat merindukannya. Sebelum sakit ibu juga sudah sering menyebut dia. Saat sakit makin sering menyebut Kak Adeena, bahkan kadang mengigau memanggil kakak.”


Teratai  merasakan sesak melihat kondisi Dani yang seharusnya membutuhkan perhatian malah merawat ibunya. Rumah yang berantakan juga pakaian Dani yang dicuci tidak bersih. Entah kenapa, ia merasa lebih menyedihkan nasib Dani dibanding Adeena. Sama-sama korban orang yang tidak bertanggung jawab, bedanya Adeena sempat merasakan kasih sayang ibu hingga remaja.  


Ia mengangguk. “Acil janji, akan membawa dia ke sini. Hanya saja, tidak tahu kapan berhasil. Doakan ya.”


Dani mengangguk. 

Teratai mengeluarkan beberapa lembar kertas merah dalam tasnya, lalu meletakkan ke tangan Dani. 


“Cil?”

“Hadiah untuk anak berbakti. Semoga Acil bisa segera membawa Kak Adeena kemari.”


*** 


Mentari memerhatikan layar ponselnya yang menyala, pertanda masuk sebuah pesan. Sesaat ia menoleh ke arah Sanad yang asik berbicara sambil menunjuk layar LCD Proyektor. Dengan ragu Mentari memanggil Sanad.


“Pak.”

Sanad menatapnya dengan kerutan kening tajam, membuat nyali Mentari semakin ciut. Beberapa staff di sana menegurnya dengan tatapannya. 


Mentari berdiri, lalu membisikkan sesuatu.

“Teratai ada di luar?” tanya Sanad dengan suara nyaring.


Mentari mengangguk. “Bagaimana?”

“Minta dia ke ruangku.” Sanad mengalihkan perhatiannya ke orang banyak. “Rapat sampai di sini dulu. Nanti kita lanjutkan!” seru Sanad, kemudian keluar tanpa permisi. 


Beberapa orang di sana menghela napas lega. 

“Kau hampir saja membunuh kami, Mentari?” ucap salah seorang. 


“Hebat. Pak Sanad langsung menghentikan rapat begitu Bu Teratai datang.”

“Apa bos anggota ikatan STI?” 

“Hah apa tuh?”


“Suami takut istri … haha.”

“Huuuh …." 


***



“Kenapa ke sini?” tanya Sanad begitu membuka pintu.

“Tidak boleh?” sahut Teratai.

“Bukan begitu.” Sanad menutup pintu, lalu duduk di samping Teratai. “Nggak biasanya.”


Teratai menghela napasnya. “Tadi aku ke Mawangi dan bertemu ibu Adeena.”

“Lalu?” 


“Sangat menyedihkan. Ternyata Adeena punya adik dari ayahnya Barra. Rumit. Makanya aku ke sini. Aku perlu menetralkan emosi dulu. Kalau langsung ke kafe dan bertemu Adeena, takutnya terbawa emosi dan yang terjadi malah berantem. Adeena juga sensitif banget bila menyinggung soal ibunya.” 


Sanad meraih bahu Teratai lalu mengusap rambutnya. “Kalau ingin hubungan kalian baik-baik saja, cobalah untuk tidak terlalu peduli.”


“Tidak mungkin lagi. Kasihan adiknya. Adeena juga perlu merawat ibunya. Ia dan Barra harus tahu keberadaan adik mereka.”


Teratai menurunkan kepalanya dan berbaring di pangkuan Sanad, lalu berbalik. “Kepalaku pusing sekali.” 


Sanad terkekeh. “Kadang aku merasa Adeena seperti adikmu saja.” 

Teratai tersenyum miring. 

“San, bagaimana menurutmu tentang buah tidak jauh dari pohonnya?”


“Maksudmu?” 

“Sejak datang, aku terlalu curiga dengan Barra. Terlebih lagi setelah tahu ternyata sekarang ayahnya pergi lagi ke wanita lain.”


Sanad terhenyak. 

“Separah itu ayahnya Barra?” 

Teratai meluruskan badannya, menatap Sanad. 

“Mungkinkah Barra juga begitu nantinya?"


"Kalau itu aku tidak berani berkomentar."

Teratai menghempaskan napas. "Yang menyedihkan jika ternyata tidak hanya meninggalkan sang wanita, tetapi juga anak, seperti Barra dan Dani. Aku tidak bertanya siapa yang menghidupi ibunya Adeena dan Dani, tapi kondisi mereka sekarang sangat memprihatinkan. Sedih sekali melihat Dani.” 


“Sepertinya kamu memang harus memberitahu Adeena dan Barra tentang Dani, tapi pelan-pelan saja.”



***


Dengan malas Barra menoleh ke arah ponsel yang berdering.  Lebih malas lagi ketika melihat nama yang tertera di layar. 

“Iya, Sayang.”

“Kami sudah di bandara Abdul Rachman Saleh.”


Barra tersentak. “Apa? Kalian mau ke sini? Kenapa tidak memberitahuku dulu? Aku belum bersiap-siap.”


“Tahu Ibu. Tiba-tiba saja Ibu minta pulang.” 

“Hallo, Barra. Kamu jemput kami!” Tiba-tiba ponsel direbut ibunya, Winarti. 


“Bu, kenapa Ibu tidak memberitahuku dulu. Rumah belum siap dihuni.”


“Tinggal perabotannya saja kan? Ibu dan Karin bisa membenahi, menunggu kamu entah kapan bisa selesai. Kamu jemput kami sekarang. Kurasa lebih duluan kami sampai ke Syamsudin Noor dibanding kamu."


Barra mengerang kesal. Mengapa bisa mendadak begini? Pekerjaannya masih ada, sedang ke bandara perlu tiga jam ke sana, dan ia semakin panik ketika teringat Adeena. 


***


Terima kasih ❤️