Menthol Mint

Lagi-lagi Adeena diserbu banyak pertanyaan. Ironisnya ia takut bertanya. Ia takut mendengar fakta Barra telah menikah. Ia takut ibunya Barra akan pulang lebih cepat.


Tak lama Barra kembali ke tempat duduknya. Ia kembali menggigit jagungnya sambil menatap jalanan. 


Adeena menoleh. Ia melihat jelas, laki-laki itu sedang banyak pikiran. 


*** 



“Terima kasih,” ucap Adeena setelah mobil yang membawa mereka sudah sampai di muka rumah Adeena, di Bangkau. 


“Jangan terlalu banyak mengucapkan terima kasih, jadi canggung sekali,” sahut Barra. 


Adeena menelan ludahnya yang terasa pahit. “Kenyataannya kita memang tidak bisa seperti dulu lagi,” lirih Adeena. 

“Kenapa kamu ngomong begitu?!” 


Adeena tersenyum getir. “Setelah kejadian itu, semuanya tidak akan pernah sama. Mungkin kita bisa baik-baik saja, andai dulu kita tidak menyimpan perasaan. Andai seperti kamu dan Tera, pertemuan ini tentu sangat menyenangkan.”


“Kamu tidak suka bertemu denganku?!” 

“Suka, sangat suka.  Di dunia ini hanya dua orang yang benar-benar menjadi temanku. Sejujurnya setelah bertemu denganmu, hari-hariku yang tadinya suram menjadi lebih berwarna. Namun, di sisi lain aku juga harus menerima kenyataan ibumu akan datang, atau mungkin sebenarnya kau itu sudah berkeluarga,” lirih Adeena tanpa berani menoleh. “Jadi aku pikir, lebih baik berhenti sekarang, daripada nanti aku terjerumus lebih dalam lagi.” 


Adeena menoleh. “Barra, menikah atau belum akhirnya sama saja. Kamu sesuatu yang tidak bisa aku gapai.”


“Deen ….”

“Jadi, sebaiknya kamu jangan lagi ke tempatku. Aku juga tidak akan mengantar mint ke tempatmu lagi. Kalau memang restoran kalian membutuhkannya, suruh saja Kenan mengambil ke tempatku.”


“Deen, jangan berkata begitu! Di hatiku hanya ada kamu.”

Adeena tersenyum miris. Indah sekali mendengarnya, andai tidak ada luka di antara mereka. 


“Selamat malam. Terima kasih atas hari-harinya,” ucap Adeena, lalu membuka handel pintu mobil. 

Dengan sigap Barra menarik tangannya, lalu memeluknya. 


“Barra!” Sekuat tenaga Adeena mendorong tubuh Barra, tetapi laki-laki semakin menguatkan pelukannya. 


“Barra, lepaskan!” Ia memukul-mukul pundak Barra, tetapi di sisi lain ada bagian dirinya yang melemah. Air matanya mengalir deras. Ia menangis bukan karena Barra berani memeluknya, melainkan dirinya yang terlalu lemah.


“Dari dulu, di hatiku hanya ada kamu. Setiap saat aku selalu mengkhawatirkanmu. Bagaimana keadaanmu di sini. Sayangnya, waktu itu keuangan kami juga tidak memungkinkan pulang. Andai hanya sebatas Kalimantan, aku akan pulang meski hanya sekadar memastikan kau baik-baik saja.” 


“Apa untungnya perasaan kita di masa lalu dan sekarang? Kenyataannya kita tidak mungkin bersatu.”

Barra melepaskan pelukannya. Ia mengusap wajahnya yang juga basah. 


Melihat wajah Barra hatinya semakin luruh. 


Barra merangkum kedua tangan Adeena. “Beri aku kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya. Kumohon, jangan pinta aku jauh darimu. Sehari saja aku tidak melihatmu, itu siksaan bagiku. Kamu cinta pertama dan aku ingin terakhirku. Aku janji akan berusaha merobohkan semua penghalang di antara cinta kita.”


Adeena menggeleng. 

“Beri aku kesempatan ya. Kumohon!” 

Adeena ingin menolak. Namun ada bagian dari dirinya yang membuat kepalanya mengangguk. 



*** 


"Hallo, Kak."

"Kenan? Ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Adeena dengan mata berbinar. 

"Mau mengambil daun mint. Bolehkan aku saja yang mengambilnya tiap hari?"


Adeena terkekeh. "Tak masalah, tapi kenapa?"

"Karena mengharapkan mint gratis," jawabnya cepat. 


Seketika Adeena tergelak. Kenan tersenyum melihat gelak tawa Adeena. Sayangnya, ia tidak menyadari Adeena hanya menganggapnya seorang laki-laki kecil. 


Kenan pemuda baru berusia dua puluhan, sedang dirinya sudah menjelang tiga puluhan. Hal itu, membuat Adeena merasa nyaman dengannya. Selalu ada perasaan tidak nyaman ketika berkomunikasi dengan laki-laki sebaya atau lebih tua darinya. Kebanyakan mereka menatapnya dengan hasrat tersembunyi.


Ia menghela napasnya, ketika menyadari Barra pengecualian. Mengapa harus Barra?

"Kenapa Kakak tertawa? Lucu ya? Apa aku terlihat kere?" pertanyaan Kenan menembus lamunannya. 


"Bukan begitu, lucu saja. Memangnya minta mint buat apa?"

"Membuat minuman. Kak, yang beraroma kaya permen mentos itu yang mana?" tanya Kenan. 


Detik itu ia memuji dirinya sendiri. Tiba-tiba saja ia mempunyai bahan obrolan. 


Adena  mematahkan satu batang untuknya. 

"Ini. Namanya menthol mint. Coba cium." Kenan mengambil potongan daun mint itu, lalu mendekatkan ke hidungnya. "Wah, benar. Ada terasa mintnya." 


"Bukan cuma itu, tapi memang ada aroma manis khas permen mentos."


Adeena mengambil lagi di pot lain. "Ini namanya peppermint. Ada khas aroma mint juga, tapi tidak memiliki aroma manis seperti menthol mint. Kalau lebih pedas iya, biasa untuk campuran pasta gigi."


Kenan mengambil potongan peppermint di tangan Adeena dan langsung menciumnya, lalu kembali mencium menthol mint. "Benar, memang beda. Kalau begitu aku minta menthol mint aja. Berapa?"


"Katanya minta?"

"Cuma bercanda, Kak. Masa minta? Gini-gini sudah punya pekerjaan."


Kembali Adeena tergelak. "Iya, aku tau. Masalahnya kau mau bekerja, mau taruh di mana? Bisa nggak merawatnya?"

Kenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenyataannya ia hanyalah membuat alasan. Ia tidak berpikir sejauh itu. 


"Begini saja, kamu bebas mengambil daun mint di sini, tapi setelah jadi minuman kau harus memberiku hasilnya. Gimana?"


Kenan mengerutkan kening. "Kakak juga suka meracik minuman?"


Adeena menggeleng. "Aku banyak stok mint kering. Rencananya mau jual teh mint, tapi belum menemukan komposisi yang pas. Barangkali dengan sering mencoba racikan kamu, perasaku jadi lebih sensitif.”


Kenan menjentikkan kedua jarinya. "Kalau begitu, serahkan saja padaku. Biar aku yang racik, kalau sudah, nanti aku kirim ke Kakak."


"Gratis?"

"Iya, buat Kakak. Apa yang tidak?"

Seketika Adeena tersentak. Naluri siaganya mulai terjaga. 


"Maksud aku … meski kita cuma baru saja kenalan, tidak salahnya kan berteman? Terlebih lagi aku memang perlu daun mint untuk terus bisa latihan. Lagi pula ini cuma eksperimen, belum tentu juga berhasil. Hitung-hitung lumayan buat aku mengasah pengecap rasa juga."


"Bagaimana dengan biaya penunjang. Maksudnya perlu bahan bakar, gula dan lainnya sebagainya?"

Kenan pura-pura berpikir. "Bagaimana kalau aku uji coba di dapur kafe ini?"


Untuk lebih aman. Sebenarnya Kenan ingin berkata di toko Adeena saja. Namun mengingat Adeena sempat memasang siaga, ia harus berpikir alternatif lain. 


"Baiklah kalau begitu."

"Deal!" Kenan mengulurkan tangan. 

Adeena bingung menatapnya. Kenan mengerutkan kening. Akhirnya Adeena mengangkat tangan yang akhirnya diaplaus oleh Kenan. 


"Untuk sementara begini dulu. Perlahan, Kenan," batin Kenan. 

"Kalau begitu, malam aku ke sini, usai dari bekerja. Kafe ini sampai malam, kan?"


Adeena mengangguk.

"Oke, sampai jumpa." Kenan menghidupkan mesin motor, tetapi kembali mematikan. "Oh ya, daun mintnya mana? Sekalian aku bawa."

"Tunggu sebentar."



*** 

Hari selanjutnya Adeena sengaja datang agak siangan ke rumah Kamila untuk menghindari Ayden juga putri mereka. Tak apalah berjemur sebentar. Lumayan membuat kulitnya sedikit lebih hitam. 


Namun ia salah duga. Saat ia datang ke rumah, ternyata Ayden masih ada di rumah. Membantu Kamila latihan berjalan dengan menggunakan palang sejajar di bawah sinar matahari pagi. Ayden berdiri di dekat Kamila, dengan kondisi anggota tubuh yang siap memegang Kamila. 


“Assalamu ‘alaikum,” ucap Adeena, setelah memarkir sepedanya di bawah di tempat yang teduh. 


“Wa alaikum salam,” sahut Kamila dan Ayden bersamaan. 

“Aku kira tidak datang hari ini,” seru Kamila. Tangannya berpegangan pada palang sejajar. 


“Maaf. karena suatu hal jadi terlambat,” ucap Adeena tertunduk. Tidak mungkin ia berani beralasan karena menghindari Ayden. 


“Tidak apa. Hanya saja, kamu terpaksa menungguku. Aku mau mandi dulu. Badanku berkeringatan gini. Pa.” Kamila mengulurkan tangannya, langsung disambut oleh Ayden. 


“Tidak apa, Kak. Kakak teruskan saja latihan. Aku bisa langsung ke kebun.”


“Tidak apa. Memang sudah capek sekali. Kamu masuk ke rumah saja. Kemarin aku bikin kue kering, kamu harus coba. Enak lo. Ayo masuk.”


Adeena hanya bisa meringis, mengiringi mereka. 

“Kita ke sini dulu,” seru Kamila pada Ayden.


“Tidak jadi mandi?” tanya Ayden.

“Nanti, badanku masih keringatan begini.”

“Baiklah!"

Akhirnya Ayden membawanya ke meja makan. Ironisnya ia harus duduk berhadapan dengan Adeena. 


“Surti, tolong bikinkan minuman buat Adeena.”

“Iya, Bu,” sahut Surti dari dapur. 


Kamila menggeser toples kaca yang berisi kue kering, membuka penutupnya, lalu meletakkan di depan Adeena. 


“Kamu harus coba, dan beri nilai.”

“Wah rajin sekali, Kak.”

Kamila tertawa. “Wanita lumpuh harus rajin buat kegiatan. Kalau tidak akan bosan.”


Adeena mengambil sepotong, lalu menggigitnya. “Enak. Enak sekali. Ini butternya mahal. Aku pernah coba buatan temanku.”


Kamila mengangkat alisnya. “Oh iya. Jadi buatanku masih pasaran?”

Adeena tersentak. “Bukan begitu. Aku sedikit mengenali rasa seperti ini karena punya taman yang kaya. Rasa seperti ini, mana ada di pasaran?!”


Kamila tertawa. “Kamu mudah ditakuti ya. Tidak apa, aku cuma menggodamu. Lagi pula, aku beli butter ini di pasar, ya wajarlah kalau ada rasa yang sama.”


Surti datang membawakan teh dalam teko porselen beserta beberapa gelas dan meletakkannya di depan Kamila.


“Sini, biar aku yang tuang.” Kamila mengambil alih teko itu. Surti mengangguk, lalu berlalu ke dapur. 


Adeena terpana, cara Kamila menuang teh. Sesaat ia teringat drama China klosal yang memperlihat betapa anggunnya perempuan bangsawan menuang teh.


“Ngomong-ngomong, temanmu itu pemilik kafe yang di samping itu ya?” Ayden buka suara. 

Kamila meletakkan secangkir ke Ayden lalu ke Adeena. 


“Iya.”

"Namanya Teratai?"

Adeena mengangguk.

“Teratai? Rasanya pernah dengar?” sela Kamila. 


“Istri Sanad yang sekarang,” imbuh Ayden.

“Oh gitu. Wah, dunia sempit sekali ya.” 

“Kakak kenal mereka?” tanya Adeena. 


“Mulai dari ayahnya Sanad, langganan hotel dan restoran kita, jadi lumayan akrab dengan mereka.”

Ayden mengangguk. 


Kamila terdiam, menatap Adeena. 

“Orang Bangkau cantik-cantik ya.” 

Mendadak Adeena tersedak. Kue kering yang hancur di mulut membuatnya semaput. Ia mencoba meminum air, tetapi batuknya tak kunjung reda.


“Pa, bantuin dia. Kasihan banget, wajahnya sampai memerah gitu!”

Giliran Ayden yang terkesiap. 


***


Terima kasih telah menemukan cerita ini dan tetap setia 💜

Jangan lupa follow, subscribe, like, share dan berikan komentar terbaikmu supaya author semakin bersemangat menulis. 

Terima kasih ♥️