5. Range Rover

"Ya halo? Maaf ada yang bisa dibantu Dokter?"

"Mentari, besok kuliah saya diundur jam terakhir saja. Jadwal op saya besok banyak."

"Maaf Dokter, jam terakhir besok diisi Forensik, Dokter. Bagaimana kalo jam pulang, Dok? Jam tiga sore."

"Ok. Bisa. Sampaikan ke teman-teman kamu."

"Baik Dokter."

"Mentari ..."

"Ya, Dokter?"

"Kamu yakin ... bukan perempuan yang saya temui di peron waktu itu?"

"Maaf Dokter, sepertinya bukan Dokter."

-----

Kalimat terakhir yang dia utarakan di panggilan telepon semalam, membuatku semakin nggak enak tidur. Setelah mengabarkan perubahan jadwal di grup, aku berusaha menghubungi Irsyad, dan menceritakan semua yang terjadi waktu itu. Irsyad dengan cerewetnya membombardirku dengan segala wejangannya. Tentang probabilitas sekaligus resiko yang harus aku tanggung, antara kalau aku jujur, dengan kalau aku tetap meneruskan ketidakjujuranku. Sudah mirip kakek-kakek.

Aku nggak berani jujur. Kalau aku jujur sekarang, berarti ketahuan kalau aku kemarin bohong. Ketahuan juga kalau akulah perempuan ketus yang menganggapnya pria mesum. Meskipun dia nggak tahu isi kepalaku. Untungnya kemarin aku pakai masker. Mudah-mudahan dia melupakan kejadian sekejap itu. Lagipula, hanya sekejap sekali. Untuk apa diingat-ingat.

----

Aku sedang duduk di bangku depan kelas, bersama teman-teman perempuanku yang sibuk menghebohkan tas keluaran terbaru dari merk yang akhir-akhir ini sedang digilai para gadis seumuran kami. Merk Fancy and co. Aku juga merasakannya sebagai perempuan. Terkadang jempolku sangat gatal, kala tas, baju, dan sepatu cantik terpampang nyata di Instagram. Namun, aku nggak tega merogoh kocekku hanya untuk kesenangan sesaat itu.

Padahal aku juga jualan tas online. Tapi nggak berani menunjukkan pada mereka jualanku. Mereka bukan pasarku. Atau, barangku yang nggak masuk kelas mereka. Murah, tapi tetap bagus kok. Aku menjualnya sebagai reseller, dari brand yang mungkin nggak terlalu terkenal. Asal nggak perlu harus belanja banyak dulu agar aku terdaftar jadi reseller, aku pasti akan dengan sukarela membantu menjualkan.

Aku sedang sibuk membaca novel online gratis di platform baca, saat tiba-tiba suara riuh di sampingku berganti siulan. Hei, mereka bisa bersiul?

Aku memalingkan pandanganku ke arah teman-teman. Dena melongo sembari menggeleng-gelengkan kepala, ada pula temanku yang tersipu, bahkan ada seseorang yang berbalik dan membenahi riasan bedaknya. Beberapa teman laki-laki juga melongok dari jendela, memicingkan mata demi mengamati satu titik pengalih perhatian semua orang.

Kuikuti arah pandang mereka. Ternyata, sebuah mobil Range Rover putih nan mengkilat sedang parkir di area parkir dosen, berhasil membuat para gadis di sampingku siap siaga. Mesinnya sudah mati, tapi sepertinya sang pemilik masih sibuk di dalam. Siap-siap saja mereka kecewa, jika yang keluar dari pintu itu sudah bapak-bapak.

Aku nggak tahu siapa pemilik mobil itu, karena nggak pernah melihatnya lalu lalang di kampus kami. Tapi aku tahu, itu mobil mahal.

Sejak tiga tahun yang lalu, aku yang nggak punya mobil ini, sudah hafal dengan hampir semua tipe mobil yang beredar di parkiran kampus. Hafal kisaran harganya. Sudah pasti, karena impianku beli mobil. Bukan Range Rover. Tapi, Avanza. Seperti mobil yang dulu Bapak jual untuk mengganti uang nasabah.

Aku mematikan handphoneku. Membaca novel mampu sedikit meringankan isi kepalaku, setelah berpanas-panas ria selama delapan jam diisi oleh materi kuliah, sampai meluap-luap.

Aku mulai suka membaca novel sejak SMA kelas tiga. Novel pertamaku adalah novel chicklit milik temanku. Novel yang dia dapat dari laki-laki misterius yang suka padanya. Karena dia takut, daripada novel itu dibuang, akhirnya dia mengedarkannya pada kami untuk dibaca. Yang penting, nggak ada di tangan dia. Setelah itu, aku jadi sering baca novel.

Aku mengamati jam di handphoneku. Sudah jam tiga lebih tiga puluh menit, dan dosenku belum datang. Hampir saja aku mengirim pesan yang sudah aku ketik untuk mengingatkan, ketika suara serempak kembali terdengar.

"Whoaaa ... "

Aku mengikuti kembali arah pandang teman-teman. Dan benar, pria itu. Hari pertama dia mengajar, sudah membuat para gadis mahir bersiul dan ber-whoaaa.

Untung jarak parkiran sedikit jauh dari bangku kami duduk. Aku kemudian beranjak, dan menggiring teman-teman untuk masuk.

"Udah udah ... masuk, itu Dokter Gamma. Yang ngajar Pengantar Bedah sama Bedah Digestif."

Dena sontak membelalakkan matanya. Juga yang lain.

"Eh serius lo, Ri? Ini dosen kita? Awww ... gemess!" tanya Dena dengan raut makin penasaran.

"Hissh. Jangan malu-maluin deh. Ehemm ... eh eh ... doi udah jalan ke sini. Jaga sikap jaga sikap, girls," imbuh temanku yang lain.

"Iya jaga sikap. Sama masuk. Ayo ... denger-denger dia galak," jawabku menakuti mereka. Jujur, aku belum tahu bagaimana cara dia mengajar.

"Masa sih, Ri? Adem gitu mukanya. Coba deh, ntar gue tanya Bokap."

"Bokap lo 'kan THT, Na. Emang kenal? Tanya Rara deh. Siapa tau ... "

"Ayo masukkkk."

Aku sampai harus dengan sekuat tenaga mendorong mereka yang masih melangkah lambat memenuhi jalan, sembari meributkan sumber mana yang bisa mereka korek tentang seorang Dokter Gamma.

"Kenapa belum pada duduk?" Kami menoleh. Cepat sekali dia sampai di belakang kami.

"Mas Gamma? Loh. Udah dapet jatah ngajar juga?"

Rara yang duduk dekat pintu berdiri, ketika Dokter Gamma masuk. Ia sedikit kaget melihat sosok dosen baru kami. Apalagi kami. Sangat amat kaget mendengarnya memanggil Dokter Gamma dengan sebutan 'Mas.'

"Jangan panggil 'Mas'. Saya ini sekarang dosen kamu," jawab Dokter Gamma dengan ekspresi datar dan nada yang sedikit menyebalkan.

Rara menarik sedikit sudut bibirnya. Lalu duduk kembali, diikuti kami dengan menempati posisi kursi kami masing-masing.

Sepertinya sepulang kuliah, Rara-lah yang akan jadi pusat perhatian selanjutnya.

----

Satu angkatan kami berjumlah seratus orang. Dulu, awal-awal semester, kami dipecah menjadi dua kelas dengan dua jadwal. Makin kesini, kami sering digabungkan, karena jadwal dosen yang praktek di rumah sakit hanya bisa mengisi sekali saja. Kalau nggak cepat-cepat berangkat pagi dan mengambil kursi di depan, nasibku akan sama seperti Irsyad yang duduk di bangku paling belakang. Buram.

Selama mengajar, Dokter Gamma ternyata dosen yang baik. Dia bukan tipikal dosen killer yang seketika akan memangsa jika berbuat sedikit kesalahan. Ketika temanku bertanya, dia menjawabnya dengan nada santai, namun tetap terlihat cerdas dan tegas. Tipe-tipe dosen muda, baru, masih ramah, dan super duper pintar.

"Ada lagi yang belum paham?"

Seseorang di bangku belakang mengangkat tangan. Aku menoleh. Dia Irsyad.

"Dokter, apa semua pasien yang masuk Bedah sudah pasti harus dioperasi?"

Dokter Gamma berjalan ke sisi tengah yang terbebas dari kursi. Jalur jalan mahasiswa yang duduk di bangku belakang. Dimana sekarang, aku duduk paling tepi dari barisan bangkuku. Dia berhenti di sampingku.

"Siapa nama kamu kemarin?"

"Irsyad, Dok."

"Oke Irsyad. Nggak semua pasien Bedah harus dilakukan tindakan pembedahan. Kita lihat dulu kasusnya seperti apa. Kalau masih bisa kita lakukan terapi tanpa pembedahan, pasti kita pilih terapi itu dulu. Misalnya, dengan terapi obat."

Dokter Gamma mengetukkan pointer di meja kecilku, membuatku tersentak.

"Seperti kalimat seseorang yang pernah saya temui. Dia bilang, kalo gak semua orang punya pilihan. Tapi menurut saya, semua orang tetap punya pilihan ya, adek-adek. Sekalipun ternyata pilihan dia satu-satunya adalah harus dioperasi, kami tetap memberinya pilihan. Bersedia atau tidak."

Seketika kata-kata yang meluncur dari mulut manisnya, membuatku merinding. Dia sedang menyindir kalimatku saat di peron dulu. Tuh kan! Dia masih ada dendam sama aku. Aku nggak berani mendongak lagi. Ingin rasanya menenggelamkan muka ini ke dalam meja saja.

"Oke. Gak ada lagi pertanyaan?" Kami serempak menggeleng. Sudah sore, kami hanya ingin pulang. Aku mau pulang!

"Saya mau kalian tulis 10 tindakan pembedahan yang kalian tahu. Terserah. Bebas. Gak cuma sub Digestif saja. Korbid?"

Aku menegakkan punggung. Bersiap menerima titah darinya. Dia masih berdiri di sampingku, memberi tatapan setajam silet, ketika aku dengan susah payah berusaha menatap pasang matanya, demi kesopanan. "Ya, Dokter."

"Kamu tunggu tugas mereka. Kumpulin. Dan serahkan ke saya di ruang dosen."

Aku menelan ludah, menghilangkan kegugupan yang mencekat pita suaraku hingga sulit mengeluarkan jawaban.

"Baik, Dokter."



--------

Yuk cyinn, ramein komen dan Vote ya. Biar makin semangat aku nulisnya.

Jangan lupa follow akun aku.