1. Peron

Di satu sore, aku sedang terduduk manis di sebuah bangku besi di sepanjang peron, yang disediakan untuk para penumpang menunggu. Tiba-tiba, seseorang menggeserku dari sisi kanan, sehingga pena yang aku gunakan untuk menulis setiap ide yang muncul, meluncur di depan kakinya.

"Penulis?" sapanya setelah mengintip sekilas tulisanku.

"Mmm. Terimakasih." Aku menerima pena yang dengan sukarela ia ambilkan dari bawah. Black shirt with black track pants, running watch on left hand, and white running shoes. Dia juga membawa sebotol air mineral yang sudah habis setengahnya.

Aku selalu mencatat, saat tiba-tiba inspirasi datang melintas di kepalaku. Sepanjang perjalanan dari stasiun Bekasi hingga Manggarai ini, aku berhasil memenuhi tiga halaman bukuku, buku merk Sidu dengan tebal 100 lembar yang harganya cukup ramah di kantong. Daripada harus membeli notebook cantik dengan harga di atas dua puluh ribu, atau bahkan Ipad yang sama sekali nggak terjangkau oleh tabunganku sekalipun.

Menyimpan tulisan di handphone yang memorinya penuh dengan foto April dan Febi, sepertinya juga mustahil. Mereka malah sering meminjam ponselku karena resolusi kameranya paling tinggi di antara anggota keluarga lainnya. Samsung Galaxy lama yang aku beli bekas dari hasil berjualan online-ku ini, seenggaknya masih berguna untuk buka Instagram dan Whatsapp. Aku akan sangat ketinggalan broadcast jadwal kuliah kalau nggak ada handphone ini.

Aku masih mencorat-coret tulisanku, saat kereta arah Bogor berhenti di depan kami. Kerumunan orang seketika berpindah ke dalam gerbong.

"Gak naik? Bogor 'kan?"

"Iya, masih rame."

"Sama. Gue juga heran, mereka tiap hari rela desek-desekan di kereta."

Aku menaikkan kedua alis, kegiatan menulisku berhenti oleh kalimatnya. "Don't underestimate them. You did't know anything. Maybe, they're trying to reach what they dream of."

"Wow wow wow! Calm down." Pria itu tertawa mendengar reaksiku. "Maksud gue, ada cara yang lebih kreatif, lebih fleksibel, mandiri, jadi bos sendiri, dan lebih menghasilkan."

"Nggak semua orang punya pilihan."

Dia menghentakkan kaki dan berdiri menjulang di hadapanku. "Kita selaluu punya pilihan!"

Aku menutup bukuku. Lebih baik masuk ke dalam kereta daripada menghadapi orang sok kenal sok dekat ini. Sebelum gerbong tertutup, aku berhasil masuk menjadi salah satu bagian dari kerumunan pegawai korporat yang pulang kerja.

Ada beberapa orang di belakang yang mendorong badanku ke depan. Aku nggak bisa berbalik untuk lihat siapa pelakunya, karena badanku tertahan. Ketika kereta sudah berjalan, desakan sekeliling sudah mulai berkurang. Orang sudah mencari pegangannya masing-masing.

Jam berangkat dan pulang kerja, memang jam yang paling dihindari untuk naik kereta. Mendapat tempat duduk rasanya juga tergantung dengan amal ibadah masing-masing.

Tak saling kenal, berdiri berdempetan, dan fokus dengan gadget masing-masing. Pemandangan statis yang bisa aku nikmati tiap sore hari di kereta selama ini. Alih-alih ikut bermain jempol dengan smart gadget layaknya yang lain, aku lebih baik melindungi harta paling berhargaku itu. Tersimpan aman di dalam ransel yang aku gendong di depan.

"Marah?"

Aku berbalik mencari asal suara samar yang beberapa menit lalu sudah familiar di telinga. Orang ini lagi.

Dia menelan ludahnya sendiri. Baru beberapa menit mengikrarkan diri anti berdesakan dengan orang, sekarang bahkan nggak ada sisi kosong disekelilingnya yang nggak terisi oleh manusia.

Aku berusaha maju menjauhi badannya yang berada tepat di belakangku. Berbalik dan membenarkan masker yang sejak tadi aku pakai.

"Maaf, Masnya ngomong sama saya?" Aku menjaga kesopanan dengan baik.

"Iya. Emang ada siapa lagi yang gue kenal?"

"Owh. Saya nggak marah. Siapapun bebas mengungkapkan pendapat 'kan?"

"Kenapa kabur? Gue bukan orang jahat." Ia menyodorkan tangannya menawarkan perkenalan, "Gamma."

"Saya nggak kabur." Aku menangkupkan kedua telapak tanganku. Aku melihat jam seolah sesuatu mendesak sedang menuntutku bergerak cepat.

"Ah Cawang. Permisi saya turun dulu." Aku mendekati pintu gerbong yang berlawanan arah dengan pria itu. Oiya, Gamma namanya.

Cawang ini sekedar kamuflase. Aku cuma nggak ingin terlibat lebih lama lagi dengan pria tak dikenal yang terlihat ramah itu. Kata Ibuk, berbahaya. Sekarang sedang musim penipuan melalui hipnotis.

Meskipun di dompet nggak genap dua puluh ribu, handphone second yang bila dijual mungkin sudah nggak ada yang beli, dan setumpuk buku juga barang nggak penting di tas, nggak ada lagi yang bisa diincar dari bawaanku. Kecuali, tubuhku. Aku takut ternyata dia adalah pria mesum yang mencari mangsa untuk diperkosa.

Aku nggak mau ambil resiko. Setelah turun di sini, aku akan melanjutkan perjalanan dengan kereta setelahnya. Itu lebih baik.


------


Kesan ep 1 nya gimana teman2? Ada yang senasib sepenanggungan sama Mentari ini? 

Lanjut bab 2 ya ..