4. Jodoh dan Hutang

Kenapa Irsyad sangat menertawakan aku, ketika tahu bahwa Koordinator Dokter Bedahnya sudah bergelar banyak? Itu karena artinya, beliau pasti sudah nggak muda lagi. Just like what he said, "Om om!"

Aku sih nggak peduli beliau udah tua atau belum. Aku sudah punya Irsyad. Maksudku, hampir punya. Tapi, bagi Irsyad juga para Korbid usia dua puluhan, masa-masa seperti sekarang bisa dimanfaatkan untuk sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui sekaligus. Kuliah dan cari jodoh. Atau, kuliah dan cari link. Apalagi, kalau dapat jodohnya dokter. Jackpot! Sudah pasti, karena di sini sarangnya dokter dan calon dokter.

Kepala Departemen biasanya menunjuk dokter paling bungsu, fresh graduated, pasien masih sedikit, muda, dan yang pasti, mudah bergaul dengan mahasiswa sebagai Koordinator Staf Dokter.

Seperti dr. Adam Sp.A, dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Dimana saat beliau mengisi kuliah, kursi mahasiswa selalu membludak sampai belakang. Muda, tampan, ramah senyum, single dan pecinta anak-anak. Perfect!

Aku mungkin dulu juga seperti itu. Setuju masuk kedokteran, salah satunya agar aku juga bisa dapat jodoh dokter. Bisa jadi Ibuk berpikiran hal yang sama. Lagipula, kisah cintaku di SMA juga nggak ada manis-manisnya. Berakhir menjadi cinta bertepuk sebelah tangan. Tunggu, mungkin lebih tepat disebut cinta dalam diam. Karena aku nggak pernah berani bilang suka sama dia. Walaupun waktu itu aku cukup percaya diri soal keuangan, tapi ternyata aku payah soal pasangan.

Awal pendaftaranku di tahun ajaran 2012, aku super bangga. Daftar ulang ke kampus diantar Bapak pakai mobil. Uang gedung pun langsung dibayar lunas sama Bapak. Akhirnya, aku bisa jadi mahasiswa kedokteran yang pakai jas almamater kuning. Hore! Aku tahu Bapak juga pasti bangga. Sebangga beliau ketika merangkul bahuku kuat saat namaku dipanggil. Dadanya membusung, matanya berbinar. Padahal, aku baru masuk.

Kemudian bencana datang. Bahkan sebelum aku memulai kuliah pertamaku. Gara-gara Om Iyan, kami jatuh miskin. Jauh lebih miskin dari sebelumnya.

Bapak menjual mobilnya. Untungnya masih ada motor Kaze kebanggaan yang nggak pernah mogok sekalipun. Sampai saat ini.

Sejak saat itu, aku yang dulu optimis akan lulus tepat waktu dengan nilai membanggakan, impian melanjutkan studi menjadi spesialis, sirna sudah. Sirna di awal aku menginjakkan kaki untuk memulai kuliah pertamaku.

Aku bahkan sempat berpasrah dengan Bapak, bahwa sebaiknya aku mundur sebelum perang ini dimulai. Tapi, Bapak tetap teguh. Anaknya akan lulus menjadi seorang dokter.

"Tapi aku malu Pak, kita minta surat miskin ke kelurahan."

"Gapapa, nanti Bapak yang minta. Orang ada beasiswa, ngapain mundur?"

"Tapi 'kan praktikum nggak ditalangin beasiswa, Pak. Bukunya juga mahal-mahal. Daripada kita nggak bisa makan, mending Tari kerja."

"Nggak. Nanti itu urusan Bapak. Bapak sama Ibuk bisa cari utangan."

Sejak saat itu pula, aku sudah nggak memikirkan lagi soal jodoh. Apalagi mencari calon suami seorang dokter kaya raya. Sebuah kejadian langka seorang miskin sepertiku bisa dapat suami kaya, layaknya Cinderella. Apalagi mukaku juga standar. Menurutku, kisah mengharukan itu hanya ada di novel-novel dan sinetron.

Standarku hanya mampu menjangkau Irsyad. Untungnya dia baik, sholeh dan mau menerimaku dengan apa adanya, menjadi teman Irsyad.

Pikiranku sampai sekarang hanya makan, uang fotokopi karena aku nggak kuat membeli buku, dan membantu membayar hutang Bapak Ibuk. Aku nggak tahu kapan lunasnya. Karena kami ternyata hanya gali lubang tutup lubang. Enggak berkurang, malah bertambah banyak gara-gara riba.

Owh Allah, kapan penderitaan keluargaku usai? Aku benci sekali berhutang!

-----

Hari ini September 2014, aku berjalan menyusuri lorong lantai tiga Gedung D Rumah Sakit Samanhudi, ditemani Irsyad, untuk menghadap Dokter Gamma. Memperkenalkan diri sebagai Korbid sekaligus mengatur jadwal kuliah Bedah untuk minggu pertama bulan ini.

Bagi para dosen, Korbid adalah alarm pengingat kewajiban mereka pada para mahasiswa, disela kesibukannya dengan pasien.

Usai bertemu dengan Mba Cipta, Sekretaris Departemen Bedah, aku diarahkan ke sebuah ruangan di ujung koridor untuk menemui Dokter Gamma.

Sapaan "ya, masuk!" aku dengar setelah kami mengetuk pintu sebanyak dua kali ruangan Dokter Gamma ini.

Kami menginjakkan kaki di ruangan dingin yang bercat biru langit. Dinding ruangannya sepi. Hanya ada lukisan kuda yang hampir memenuhi setengah dinding atas. Selain itu, hanya meja kerja dan kursi putar, komputer, juga sofa set kecil yang hanya muat tiga orang.

Di kursi putar itu, terduduk santai seseorang berkacamata yang sedang sibuk dengan Ipadnya. Dan sepertinya masih muda. Mungkin dia asisten Dokter Gamma.

Aku dan Irsyad mendekat. Sesaat sebelum aku menundukkan kepala memberi hormat, aku terperangah saat sosoknya terlihat lebih jelas. Ia seperti ... pria yang aku temui di peron waktu itu. Owh Allah, takdir apakah ini? Aku berusaha mengatur nafas dan raut tegangku.

"Maaf Pak, Dokter Gamma-nya ada? Saya Mentari, Korbid Bedah yang baru dari angkatan tahun ke tiga."

Pria itu terdiam. Memperbaiki posisi duduknya dan melepas kacamata. Dia juga meletakkan Ipadnya di meja, di atas tumpukan buku-buku Bedah berbahasa Inggris.

"Saya sendiri Dokter Gamma. Bentar! Kamu yang ... waktu itu di kereta?"

Ah, benar! Waktu itu dia memperkenalkan dirinya bernama Gamma.

Tapi, ku kira Dokter Gamma sudah tua. Senggaknya agak tua mengingat seberapa panjang gelarnya. Terang saja, kuliah hingga menyandang gelar Doktor seenggaknya butuh waktu ... S1 empat tahun, koas dua tahun, spesialisasi Bedah lima tahun, subspesialisasi Bedah Digestif tiga tahun, dan Doktoral tiga tahun. Mungkin total tujuh belas tahun.

Jadi bisa ditebak, pasti Dokter Gamma berusia tiga puluh empat tahun. Usia paling muda untuk menyandang gelar bergengsi itu.

Mungkin Dokter Gamma makan makanan sehat dan rutin berolahraga, sehingga terlihat layaknya usia dua puluhan. Saat kami bertemu di peron pun, dia juga terlihat seperti pulang dari berolahraga.

"M-maaf Dokter. Mungkin Dokter salah lihat. Saya jarang naik kereta."

Maaf, aku nggak berani jujur kali ini. Sikapku terakhir di kereta terlalu ketus padanya. Bisa-bisa dia menyimpan dendam padaku dan mempersulit pekerjaanku sebagai Korbid.

Aku bertukar pandang dengan Irsyad yang berada di sampingku. Berharap Irsyad menolongku, meskipun nggak tahu apa yang terjadi.

"Emang kamu pernah ketemu Dokter Gamma, Ri?" tanya Irsyad lirih dengan raut kebingungan. Aku menggeleng.

"Owh maaf mungkin bukan Tari, Dok. Tari seringnya naik angkot, Dok. Perkenalkan Dokter, saya Irsyad." Irsyad menunduk hormat. Dokter Gamma menghela nafas pelan. Semoga saja dia nggak ingat.

"Kami di sini maaf Dokter, mau menyesuaikan jadwal kuliah dengan jadwal praktek Dokter Gamma dan Dokter Made, untuk kuliah minggu ini."

"Oke. Saya terima perkenalan kalian di sini. Jadwal minta ke Mba Cipta ya? Oh iya, jadi ini Korbid-nya berdua?"

"Maaf Dokter. Tari Korbidnya. Saya Korbid Anak, Dok. Saya nemenin aja di sini."

"Saya Dokter, Korbidnya. Mohon maaf kalau nanti mungkin saja jadi sering telepon Dokter untuk penyesuaian jadwal."

"Saya oke untuk telepon dan WA. Tapi kalo senior yang lain, mungkin WA aja. Takutnya pas lagi operasi."

"Baik Dokter."

Dokter Gamma membuka kunci tombol handphone dan menggulirnya, lalu menyerahkannya padaku. Aku menerimanya dengan perasaan bingung sekaligus gemetaran.

"Ketik nomor kamu di situ!"

----------

Ramaikaann komen yuks.

Lanjut gak?