7. Lulusan Amerika

Irsyad Hamizan, memiliki makna sebagai seorang lelaki yang cerdas, penuh petunjuk, kuat, dan tampan. Begitulah menurut Mamanya.

Layaknya doa seorang Ibu yang selalu diijabah Allah, Irsyad menjadi sosok yang mirip dengan namanya. Setidaknya, iya bagiku. Petunjuk darinya adalah kepastianku. Kekuatannya adalah pertolongan bagiku. Dan sudah pasti, dia tampan di mataku. Inilah mengapa, hatiku begitu tertaut padanya. Mungkin Allah tahu, aku sedang butuh sandaran.

Namun, apakah aku selamanya akan bersandar padanya? Bagaimana kalau dia ternyata berjodohnya dengan Kak Hapsari?

"Syad?" Aku berdiri perlahan, menahan kesemutan yang mulai mendera sekitar lututku.

"A-aku ini mau pulang. Tunggu bentar," tambahku.

Aku menoleh seraya menatap ragu pasang mata yang sejak tadi ingin menerkamku. Kali ini, aku nggak bisa menilai arti tatapannya. Entah marah, menyerah, atau masa bodoh. Dokter Gamma memasang raut yang begitu datar. Sudut bibirnya hanya tertarik sedikit. Sedikit sekali. Dia nggak sehangat tadi, saat memberi kuliahnya pada kami.

"Owh. Jadi kamu udah ditungguin sama pacar kamu, makanya cepat-cepat mau pulang? Silakan!" usirnya dengan tangan.

Aku mengangguk, mengiyakan tuturnya. Masa bodoh dengan yang dia katakan tentang pacar-pacar itu. Yang penting, aku bisa pulang dan nggak ketinggalan kereta.

"Irsyad. Hati-hati!" pesannya, ketika aku dan Irsyad mengucap salam dan berpamitan. Akhirnya, aku bisa pulang sesuai dengan rencana awalku.

-------

Sesampai di rumah, grup Whatsapp Angkatan mulai ramai membicarakan dosen Bedah kami yang baru. Nggak lain dan nggak bukan, adalah Dokter Gamma yang terhebat. Dokter Bedah jebolan JHUSOM.

Aku melongo. Apa dan dimana itu JHUSOM? Aku tahunya hanya Harvard. Karena seringnya hanya Harvard lah yang tampil di film-film.

Sejak kuliah, aku sudah mulai punya mimpi ke luar negeri. Teman-teman sering bercerita tentang indahnya Eropa, rapinya Jepang, atau sibuknya Australia, sepulang mereka dari sana selama liburan semester. Kisah mereka membuat pikiranku mengawang kemana-mana. Hingga aku sering menonton video Youtube, hanya untuk melihat bagaimana itu luar negeri.

Namun, Irsyad lagi-lagi menyadarkanku dan membuatku kembali berkaca. Aku nggak secerdas Irsyad. Bagaimana bisa aku sampai luar negeri, kalau bukan karena beasiswa? Bagaimana aku bisa mendapat beasiswa luar negeri, kalau aku nggak sepintar Irsyad? Di luar negeri 'kan nggak ada beasiswa miskin.

Lantas lambat laun, aku mulai mengubur lagi impianku itu dalam-dalam. Dan menggantungkannya pada adik-adikku. Siapa tahu, Febi dan April bisa punya kesempatan ke luar negeri melalui hobi hebat mereka.

Bicara tentang JHUSOM, Demi Allah, itu ada di Amerika. Kata Naya butuh tiga puluh jam penerbangan untuk sampai sana. Tiga puluh kali lebih lama dari penerbangan Jakarta ke Jogja. Kalau uang tiket pesawat ke Jogja waktu kunjungan pelajar dulu saja, aku tukar dengan tiket kereta ekonomi, bagaimana dengan ini. Aku nggak mungkin naik kereta ekonomi untuk sampai ke Amerika.

JHUSOM ternyata adalah universitas terbaik kedua di Amerika, setelah Harvard. Terbaik juga sekolah kedokterannya. Johns Hopkins University School of Medicine. JHUSOM terletak di Baltimore, Maryland, USA. USA itu Amerika lho! Dia, Dokter Gamma itu, ternyata lulusan Amerika! Aaaw!

Sepertinya benar adanya, semakin banyak hal baru yang kita tahu, semakin pula membuktikan bahwa sebenarnya kita nggak tahu apa-apa selama ini.

"Mbok ya ganti baju dulu kalo pulang kuliah. Udah sholat belum kamu?" sapa Ibuk yang melihatku masih duduk-duduk santai di kursi plastik biru di teras depan. Masih dengan tas di gendonganku, dan sepatu yang tersemat di kakiku.

"Udah Buk. Tadi di stasiun," jawabku sembari melepas sepatu, lantas masuk ke dalam rumah.

Aku merebahkan tubuhku setelah mencuci tangan dan kaki, di atas kasur palembang yang sudah tergelar di atas tikar kami di ruang tamu. Kami nggak punya ruang khusus untuk menonton TV. Ruang TV kami, ya ruang tamu itu. Biasanya Ibuk menggelar tikar agar beliau bisa menonton sinetron kesukaan Ibuk, yang tayang setiap pukul tujuh malam, dengan nyaman. Aku Anakmu Tapi Kamu Bukan Ibuku. Judul yang cukup panjang untuk sebuah sinetron. Ibuk suka sekali karena pemeran prianya adalah Anjasmara.

Tasku dengan nggak sopannya masih tergeletak di ujung kasur, dan membuat April berdecak. Akhirnya, dia lah yang membawakannya ke kamar, karena nggak tahan dengan situasi berantakan yang kuciptakan.

"Mandi dulu! Trus makan," perintah Ibuk.

"Bentar, Buk. Capek banget. Nanggung juga. Tari lagi baca WA grup kuliah dulu," kilahku.

Rara yang sejak tadi menjadi pertanyaan mengganjal di benak semua teman-temanku, termasuk aku, mengakui bahwa dirinya adalah adik sepupu Dokter Gamma. Adik dari keluarga almarhumah Ibunya. Ternyata, Ayah Dokter Gamma juga sudah nggak ada. Dena pun mengutarakan kalimat ikut prihatinnya atas kedua orang tua Dokter Gamma yang sudah tiada, disusul puluhan ucapan dari teman-teman juga. Dena paling bisa membeberkan informasi penting di angkatan, tanpa membuat dirinya sendiri terlihat bersalah.

Aku meletakkan handphone second-ku untuk mengakhiri obrolan yang masih sangat amat panjang dan belum terlihat ujungnya. Mengambil baju di kamar dan handuk di teras belakang, lalu berlanjut mandi.

Aku membelalakkan bola mataku saat melewati meja makan kecil kami, selepas keluar dari kamar mandi. Tergeletak di sana sebuah benda paling prestisius yang aku idam-idamkan sejak dulu. Laptop baru berwarna biru gelap yang masih terlapisi plastik tipis, masih mulus tanpa goresan sedikitpun. Sangat amat mengkilap. Tanganku reflek mengusap lembut permukaan itu, dengan sedikit gemetaran.

Tak tahan untuk berteriak, suaraku menggema ke seluruh sudut ruangan. "IBUKK ..."

Febi, April dan Ibuk tergopoh-gopoh ke ruang makan. Melihat mataku yang berkaca-kaca, dengan tangan yang masih saja mengusap-usap laptop. Mereka tahu apa yang ada di pikiranku. Adik-adikku berdecak dan kembali ke depan TV, sedangkan Ibuk masih mengelus dada menenangkan irama jantungnya.

"I-ini laptop siapa, Buk?" tanyaku terbata-bata. Ibuk menggeser kursi makan kayu kami, dan mendudukinya. Tangan beliau turut mengusap permukaan laptop baru ini.

"Buat kamu. Katanya udah mau skripsi?"

'Iya Ibuk. Tari mau skripsi. Tari memang butuh ini. Tapi ...' ucapku dalam hati.

Mendadak, aku teringat bahwa kami nggak punya uang. Mataku tajam menelisik lebih dalam sepasang mata Ibuk. Ibuk sadar, lalu mengalihkan pandangannya pada jemarinya yang masih setia mengusap permukaan atas laptop. Sebuah senyum teduh terbit dari wajahnya.

"Iya. Ibuk hutang lagi buat ini. Delapan belas bulan. Cicilannya sebulan dua ratus," jawab Ibuk.

Ibuk menarik tanganku untuk duduk di kursi sebelah. Mata Ibuk menjelaskan semuanya. Aku sudah hafal dengan gesture Ibuk-ku.

"Riba lagi? Ibuk, kita ... "

"Enggak. Sama temen Ibuk. Beliau minjemin, dan Ibuk nyicil. Enggak ada bunga lagi."

"Tapi Buk-"

"Gapapa, Nduk. Biar kamu cepet lulus. Cepet jadi dokter. Biar cepet bisa bantu angkat keluarga kita lagi. Ya kan?"

Aku mengangguk cepat. Ibuk sudah berkorban banyak. Aku harus memanfaatkan sebaik-baiknya laptop pemberiannya ini.

Hatiku membuncah. Ada sejumput rasa bahagia di tengah penuhnya kegetiranku. Aku bahagia karena punya laptop baru, tapi perih karena kami menambah satu lagi lubang hutang kami. Aku berjanji, aku akan makin giat belajar, cepat menyelesaikan skripsi, dan menjadi dokter yang Ibuk banggakan.

Aku membawa laptopku ke dalam kamar. Febi dan April sudah cuek sekali dengan laptop ini. Aku curiga, mereka sudah memperawaninya tadi siang.

Ku letakkan di atas meja belajar. Lalu mencoba membuka layarnya perlahan. Jemariku mengusap lembut keyboard laptop yang terlihat begitu rentan. Menyala. Mataku masih berkaca. Pandanganku sedikit buram karena tergenang air mata.

Tampilan pemandangan padang rumput di desktop yang biasa aku lihat di laboratorium komputer kampus, kini bisa kunikmati di kamarku yang sempit ini.

Aku mengeklik program Microsoft Word dengan jari gemetaran. Terbuka. Layar memutih menampilan gambaran mirip kertas dengan berbagai tombol edit, muncul di depan mataku.

Huruf demi huruf aku tekan.

Rancangan ... Proposal ... Skripsi.

Itulah kalimat pertamaku yang terketik di laptop baru pemberian Ibuk. Laptop hasil Ibuk berhutang. Tari akan bantu Ibuk, lunasin hutang-hutang Ibuk. Sabar ya, Buk. Tunggu ya, Buk.

-------

Teman2, kamu bisa terusin baca di aplikasi baca namanya KBM APP. Bisa banget download di Playstore ya.

Gampang, dan koinnya pun lebih murah banget. Hanya Rp. 1500/bab. Anggap aja gorengan 2 biji. 

Beli koinnya juga gampang banget. 

Kalau menurut kamu cerita ini worth it untuk lanjut baca, silakan teman2. InsyaAllah nggak akan mengecewakan. 

Banyak pelajaran yang bisa diambil. 

Taburan keuwuan yang bisa dinikmati.

Salam 

(dr. Vi Hasanah - Shining Haha)