Bab 2

GARA-GARA EMOT


PART 2

Mas Putra terlihat turun dari motornya. Kemudian mendekat.

"Syukurlah, pulang juga suamimu!" ucap Mbak Es. Seolag dia ingin mengadu. Ngadu sajalah sana.

Aih, geram banget dengar nada suaranya. Sumpah bikin tambah emosi.

Mas Putra sudah ada di antara kami. Menatap aku dan Mbak Es secara bergantian.

"Ada apa ini?" tanyanya lagi.

"Gara-gara emot," balasku santai. Mas Putra terlihat melipat kening.

"Gara-gara emot?" Mas Putra mengulang kata itu. Mungkin bingung. Aku hanya manggut-manggut.

"Nggak usah ngelantur ngomongnya. Emot apaan? Nggak usah kemana-mana. Dasar pengganggu suami orang!" sungutnya lagi.

Sumpah, ingin sekali aku tonjok bibir tipisnya itu biar tebal. Siapa tahu kalau biburnya tebal, dia jadi faham, kalau dia salah faham dan salah pengertian.

"Heh, jangan asal ngomong! Dasar gaptek!" balasku tak kalah menyungut. Sumpah ingin sekali aku layangkan kepalan tangan ini ke mulutnya.

"Nggak usah melenceng kemana-mana. Tadi emot, sekarang gaptek, apaan? Pengganggu suami orang sama aja pelakor. PELAKOR!" balas Mbak Es sambil mengegaskan kata pelakor.

Astaga! Aku kira hanya di cerita Mak Glow saja ada orang kayak Mbak Yuyun dan Sujontor, ternyata aku menemuinya. Allahu Akbar.

"Gaptek parah!" sungutku dengan mata sengaja aku mendelikan.

"Stop! Ada apa ini? Jelaskan di dalam!" pinta suamiku.

"Dia dari tadi aku suruh masuk nggak mau, Mas. Kayak orang gila aku nanggapi dia," ucapku.

"Ish, ogah, ngapain baik-baik sama perempuan penggoda suami orang!" balas Mbak Es.

"Silahkan masuk di jelaskan, atau pergi dari rumah saya!" ucap Mas Putra. Nada suaranya sih terlihat geram. Nggak tahu geram sama aku atau si Mbak Es.

Wajar, sih. Dia pulang kerja, capek. Pulang untuk sholat dan makan. Istirahat sebentar. Eh, malah ketemu temannya si Mayuyun di SEKILO KURANG. Atau masih saudaranya? Hemmm.

"Ok. Saya akan masuk, bukan karena mau baik-baikan sama kamu! Tapi, karena mau menjelaskan sama suamimu. Biar suamimu tahu, keburukan istrinya!" ucap Mbak Es.

Aku hanya mencebikan mulut. Silahkan saja jelaskan sampai berbusa. Ujung-ujung Mas Putra paling juga ikutan emosi.

"Silahkan! Jelaskan sedetail-detailnya!" tantangku.

"Gini ni, Mas. Kalau kamu terlalu baik dan memanjakan istri. Nggak ada takutnya sama sekali. Malah nantang. Jelas-jelas kepergok godain suami saya!" sungut Mbak Es.

Mas Putra masih diam. Tetap masuk ke dalam rumah. Aku tahu seperti apa suamiku. Dia itu tipikal orang yang nggak langsung percaya apa kata orang. Dan setiap ucapan yang masuk, tidak serta merta dia telan mentah-mentah.

********

Kami semua sudah duduk di ruang tamu. Mbak Es terlihat mengedarkan pandang. Aku hanya bisa mencebikkan mulut saja.

Mas Putra terlihat masih mengatur napasnya. Kasihan sekali dia, harusnya pulang untuk menghilangkan letih sejenak, sekarang malah menambah penat.

"Mbak Esti, kita ini sudah kenal lama. Ada apa kok tiba-tiba ke sini tengkar dengan istri saya. Malah ngata-ngatain istri saya pengganggu suami Mbak Esti?" tanya Mas Putra.

Mbak Esti terlihat membuka kata sandi hapenya. Jempol itemnya terlita menari-nari diatas layar pipih itu. Mungkin mau nunjukin emot itu.

"Lihat ini Mas kelakuan istrimu!" jawabnya. Sambil memperlihatkan foto suaminya di efbe.

Aku pun akhirnya juga ikut melihat. Astaga, ternyata cuma aku doang yang kasih emot. Pantas saja dia kira aku macam-macam. Akun baru mungkin, ya? Kok, cuma aku doang yang kasih emot.

Aku menoleh ke arah Mas Putra. Lagi, dia melipat kening.

"Terus kenapa? Apa yang salah?" tanya balik Mas Putra. Mungkin dia belum faham maksud Mbak Esti.

"Yang tadi aku bilang, Mas. Gara-gara emot," sahutku.

"Jangan bohong kamu Mbak Ra, bukan gara-gara Emot, Mas Putra. Istri kamu ini, kasih-kasih jempol suka dan tanda cinta ke foto suami saya. Nggak punya malu!" sungutnya. Nada suaranya sih sok terdzolimi. Sok benar dan sok sok yang lainnya. Ngueselin sumpah.

Mas Putra bibirnya terlihat sedikit menganga. Kemudian meneguk ludah.

"Astaga! Mbak Esti baru main pesbok?" tanya Mas Putra.

"Iya. Saya memang baru main pesbok. Tapi, bukan berarti saya ini bodoh!" jawabnya. Yang menurutku semakin memperlihatkan kebodohannya.

"Tapi, faktanya memang Mbak Es bodoh!" sungutku karena geram.

"Hati-hati kalau ngomong! Lihat sendiri tuh Mas istrimu! Udah ketahuan tetap saja nggak merasa salah!" sahut Mbak Es. Nampaknya tak terima aku bilang bodoh.

Mas Putra terlihat menghela napas panjang. Kemudian garuk-garuk kepala.

"Mbak Esti ini salah paham. Tanda-tanda seperti ini di pesbok itu memang banyak. Dan bisa di kasihkan ke siapa saja. Tunggu bentar!" jelas Mas Putra. Aku lihat dia mengeluarkan gawainya dari dalam saku.

Aku lihat jempolnya lagi membuka kata sandi.

"Nie, Mbak. Yang main pesbuk bukan hanya suami Mbak Esti saja. Saya juga. Ini foto saya di pesbuk. Buanyak hang kasih jempol tanda suka dan cinta. Apakah mereka semua ini suka sama saya. Bahkan ada laki-laki juga yang kasih tanda seperti itu?" jelas Mas Putra.

"Tuh, faham nggak Mbak Es? Kalau nggak faham, nanti aku telpon Mak Glow, untuk daftarin kamu, masuk ke cerita SEKILO KURANG!" ucapku. Sengaja mengegaskan kata sekilo kurang

"Mak Glow siapa? Entahlah! Pusing saya. Gara-gara hape enduit semua orang jadi nggak punya malu. Nyebar suka dan cinta nggak peduli hati pasangannya! Amit-amit! Ya Tuhan, apa aku saja yang masih punya malu? Astagfirullah!" ucapnya sambil beranjak kemudian berlalu.

Aku dan Mas Putra hanya bisa saling pandang dengan bibir menganga.

Benar-benar persis di novel Mak Glow, yang judulnya SEKILO KURANG. kalau ini Gara-gara Emot. 🙄

************