Tiga
"Jindara ... selamatkan aku, Nak! Huuu ... uuu ...."

Hatiku begitu pedih saat melihat kondisi Ibu Safri. Harus mengalami hal seburuk ini di masa tuanya. Sungguh kasihan sekali.

Air susu dibalas dengan pasung. Sungguh ta*k kuda si Safri!

"Ibu masih mengenaliku, toh?" Senter hp kuarahkan tepat ke wajah.

Ibu yang masih dalam kondisi terpasung itu hanya mengangguk.

Entah, apa alasan Safri memerlakukan ibunya sekeji ini? Toh, sang ibu terlihat baik-baik saja. Ia bahkan masih ingat denganku. Apapun alasannya aku sangat tak setuju dengan hal ini.

Memerlakukan orang tua dengan semena-mena. Anggaplah, ibu malang ini memang sakit, tapi penanganannya tak mesti seperti ini. Meskipun aku aslinya orang kampung, tapi pemikiranku mungkin sedikit lebih maju. Jelas. Aku berkuliah, sedangkan orang-orang di sini hanya bersawah.

"Hmmmffhh ... ibunya Safri masih kenal aku ndak yaaffhh?" tanya Atan dengan suara sengaunya. Ia masih saja menutup hidungnya dengan begitu erat.

"Tanya sendiri, lah, Tan!" jawabku ketus.

"Ahh, ndak usah. Ayo cepat bebaskan ibunya si Safri saja. Aku udah ndak tahan dengan baunya."

Atan benar-benar set*n! Ia tak menjaga perasaan sang ibu.

"Buk! Tahan, ya! Aku coba lepaskan pasungnya dulu,"

"Uhh ... iya, Nak." Ibu Safri merintih. Kakinya yang terpasung tentu merasakan sakit. Namun, sejatinya ada yang lebih perih, yaitu perasaan seorang ibu yang diperlakukan bak binatang oleh anaknya sendiri.

Safri ... Safri ... ia benar-benar keji!

Aku cukup kesulitan saat mencoba membuka pasung. Ibu Safri tak berhenti merintih kesakitan. Ia tentu merasakan nyeri di kakinya.

Atan tak banyak membantu. Ia hanya menyenter dengan ponsel, sedangkan tangan satunya menutup lubang hidungnya yang begitu sensitif dengan bau.

Srek! Srek! Srek!

Karena suasana hutan yang begitu senyap sehingga bisa terdengar jelas jika ada suara-suara yang muncul.

"Kau dengar, Jin?" Atan terlihat panik.

"I-iya. Semakin jelas," kataku saat mendengar suara gemerisik daun yang terinjak.

Tak lama setelah itu terdengar suara samar-samar dari luar. "Iyaa ... tak salah lagi. Tadi aku melihat ada dua orang yang masuk ke dalam hutan."

Deg.

"Ada orang di luar, Jin!" Tanpa basa-basi, Atan melesat bagai set*n, lalu kabur melalui jendela belakang. Meninggalkanku dan sang ibu.

"Asem," umpatku.

Untunglah pasung telah terbuka. Aku pun membantu Ibu Safri untuk kabur lewat jendela. Kami berhasil pergi sebelum orang-orang--yang entah itu siapa--masuk ke dalam gubuk.

Atan bersembunyi di balik semak-semak yang tak jauh dari gubuk. Ternyata, ia masih menungguku di sana.

"Lincah juga, yah, kau, Tan," kataku saat sudah berada di dekatnya.

"Hehehe ...." Atan hanya nyengir bagai kuda.

Aku dan Atan merunduk di balik semak-semak agar tak ketahuan. Sedangkan sang ibu ada di belakang kami dan hanya diam-diam saja.

"BRENGS*K!" Terdengar suara menggelegar dari dalam gubuk.

Kemungkinan ia adalah keluarga si Ibu atau bisa saja ada si Safri di sana, karena terdengar suara beberapa orang yang sedang panik di dalam gubuk.

Aku menahan napas seiring jantung yang berdetak kian cepat. Kalau ketahuan membebaskan si ibu, tentu akan mendatangkan masalah juga buatku.

"Siapa yang sudah lancang berbuat seperti ini?"

"Pasti. Sudah pasti dua orang yang tadi kulihat itu."

"Sial! Kalau ketemu akan kubunuh mereka"

Atan yang berada di dekatku mulai ngos-ngosan. Ia gemetar ketakutan mendegar percakapan dari dalam gubuk.

"BOD*H! MEREKA BENAR-BENAR TELAH MELAKUKAN HAL BOD*H! TENTU AKAN ADA BENCANA KARENA MELEPASKAN ORANG YANG BERBAHAYA!"

Deg.

Apa maksudnya?

Perlahan aku mulai berbalik. Namun, Ibu yang tadi ada di belakangku sudah tak tampak lagi.

Lenyap.

NEXTAR

Love & tinggalin jejak biar aku semangat nulisnya. Tengkyu. 👻
", ]; document.getElementById( "render-text-chapter" ).innerHTML = `

${myData}

`; const myWorker = new Worker("https://kbm.id/js/worker.js"); myWorker.onmessage = (event) => (document.getElementById("render-text-chapter").innerHTML = event.data); myWorker.postMessage(myData); -->
Komentar

Login untuk melihat komentar!