Part 2–Mimpi
Pukul setengah sebelas malam Bu Neti dan suaminya sudah tertidur nyenyak. Tak ada sama sekali kekhawatiran terhadap Renata yang belum pulang. Tidur mereka baru terganggu saat pintu rumah diketuk berkali-kali. Awalnya, Bu Neti enggan membuka mata. Akan tetapi, karena ketukan itu tidak mau berhenti, mau tak mau ia pun beranjak bangun.

"Iya sebentar!" serunya seraya menyanggul rambut asal. "Pasti anak sial*n itu. Bagus kalau dia pulang dengan membawa uang banyak," gumamnya seraya berjalan menuju pintu. "Pulang juga ka—" Bu Neti tak menyelesaikan ucapan ketika mengetahui yang datang bukanlah keponakannya itu.

"Dengan Ibu Neti?" tanya salah satu petugas kepolisian.

"I–iya, Pak. Saya sendiri. Ada apa, ya?" tanyanya ragu sekaligus bingung.

"Apa benar saudari Renata tinggal di rumah ini?"

"B–be–benar, Pak. Dia ... dia keponakan saya," jawabnya gelagapan. Dalam hati Bu Neti merasa takut. Ia berpikir kalau Renata nekat kabur dan melaporkan tentang kekerasan yang dialaminya selama ini.

"Mari ikut saya!"

"I–ik–ikut dengan Bapak? Tapi kenapa?" Bu Neti semakin ketakutan dan berpikir dirinya akan ditangkap.

"Saudari Renata ada di rumah sakit. Nanti kami jelaskan. Mari, Bu!"

'Rumah sakit?' batin Bu Neti kaget.

"Ibu Neti?" panggil polisi itu saat melihatnya hanya tertegun.

"I–iya, Pak. Sebentar saya  bangunkan suami dulu," ujar Bu Neti.

Bu Neti melangkah cepat mendekati suaminya yang tertidur pulas di kasur lantai tipis. Menggoyang-goyangkan bahunya dengan cukup kencang, tapi pria paruh baya itu hanya menggeliat lalu tidur lagi.

"Pah! Bangun, Pah. Ada polisi."

Suami Bu Neti langsung terperanjat bangun dan memposisikan dirinya duduk.

"Polisi, Ma?" tanyanya memastikan seraya mengucek mata.

"Iya, pah. Ayo cepat bangun! Kita diminta ikut mereka."

"Lho, memangnya ada apa?" 

"Si Renata masuk rumah sakit," bisiknya pelan.

"Kok, bisa, Ma?" Pak Yanto—suaminya Bu Neti—bertambah terkejut mendengar itu.

"Mama juga tidak tahu, Pah. Sudah cepat! Kita ikut dengan mereka saja dulu." Bu Neti membantunya untuk bangun.

Keduanya pun segera naik ke dalam mobil polisi tanpa banyak bertanya lagi. Perjalanan ke rumah sakit memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Dua anggota kepolisian itu mengantar Bu Neti dan Pak Yanto ke ruang perawatan. Mereka cukup terkejut dan syok melihat wajah Renata yang sudah babak belur.

"Keponakan saya kenapa, Pak?" tanya Bu Neti.

"Saudari Renata menjadi korban pemerkosaan, Bu. Dia ditemukan tergeletak tak berdaya di pinggiran jalan oleh seorang warga yang kebetulan lewat."

Bu Neti dan suaminya saling melempar pandang terkejut.

"Renata!" Bu Neti langsung berlari mendekat. Menghambur memeluk tubuhnya yang terbaring lemas di atas brankar. "Kenapa nasibmu seperti ini, Nak? Bangun, Sayang." Ia terisak seraya menepuk-nepuk pipinya pelan.

"Sabar, Bu. Saudari Renata baru saja diberi obat penenang. Keponakan ibu ini selalu menangis dan menjerit histeris," ujar salah satu anggota kepolisian.

"Pantas saja dia tidak pulang-pulang, Pak. Saya sangat khawatir. Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ketemu," ujar Bu Neti masih dengan isakan.

"Apa keponakan ibu ini selalu keluar malam-malam? Usianya masih belia, tidak baik keluyuran seperti itu."

"Iya, Pak. Keponakan saya ini memang suka membantu berjualan keliling. Kalau barang dagangannya belum habis, dia pasti tidak mau pulang. Saya sudah berusaha melarangnya, tapi dia keras kepala. Benar, 'kan, Pah?" Bu Neti mendelik pada suaminya.

"Benar, Pak. Renata ini memang keras kepala, tapi dia anak yang baik, kok. Selalu bersikeras ingin membantu kami meskipun sudah dilarang." Pak Yanto membenarkan pernyataan istrinya itu.

"Bagaimana dengan pelakunya, Pak?" tanya Bu Neti lagi.

"Kami masih dalam tahap penyelidikan. Di lokasi kejadian belum ditemukan barang bukti yang cukup kuat. Kami menunggu kondisi mental keponakan ibu stabil dulu sebelum meminta keterangan," jawab salah satu polisi.

"Hukum mereka seberat-beratnya, Pak! Saya tidak rela keponakan saya dibuat seperti ini!" geram Bu Neti.

"Ibu tenang saja. Kami akan melakukan yang terbaik."

Usai berbicara dengan mereka, dua anggota kepolisian tersebut pamit keluar ruangan. Bu Neti dan suaminya langsung mengintip ke jendela, memastikan polisi itu benar-benar telah pergi.

"Sial*n! Mama sudah ketakutan tadi, Pah. Kirain kita akan ditangkap karena ketahuan sering menyiksa dia," sungutnya.

"Sama, Ma. Papa juga kaget sewaktu Mama bilang ada polisi."

Bu Neti berjalan kembali mendekati brankar. Menelisik penampilan Renata dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum mengejek.

"Ma, tadi Mama itu sedih sungguhan?"

"Ya tidak, dong, Pah. Untuk apa mama sedih? Memangnya dia anak kita? Lebih bagus lagi kalau anak ini mati sekalian tadi! Merepotkan!"

"Pintar juga Mama akting nangisnya. Papa kira tadi Mama serius khawatir dan sedih." Pak Yanto terkekeh pelan.

"Siapa dulu, dong! Mama," ucap Bu Neti dengan senyuman bangga.

"Apa nanti kita usir saja anak ini dari rumah, Ma? Daripada bawa masalah terus."

"Jangan!" tukas Bu Neti.

"Kenapa?"

"Kalau kita usir dia, siapa yang akan bantu kita cari uang, Pah? Lumayan, 'kan? Setidaknya, jadi ada tambahan penghasilan untuk kita juga," jelas Bu Neti.

"Iya juga, ya." Pak Yanto mengangguk setuju.

Bu Neti kembali menatap Renata yang terbaring lemah. Tangannya terulur menyentuh pipi yang lebam, lalu menekannya cukup kuat.

"Cepatlah sadar! Jangan manja kau, Renata! Dasar anak pembawa si*l!" Bu Neti memukul kencang kening Renata dengan telapak tangan, lalu mengajak suaminya keluar.

Setitik bulir bening menetes dari kedua sudut mata Renata yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Ia benar-benar hancur. Masa remaja yang harusnya diisi dengan keceriaan dan tawa bahagia, nyatanya hanya penuh dengan luka dan penderitaan.

🌸🌸🌸

Renata tengah berdiri di sebuah padang savana yang hijau. Rambut lurus panjangnya dibiarkan tergerai, bergoyang pelan diterpa angin. Pandangan mata menyapu ke sekeliling, mencari sosok yang sangat dirindukannya.

Senyum bahagia seketika merekah tatkala jauh di depan sana ia melihat sosok ibu dan ayahnya tengah berdiri seraya melambaikan tangan. Renata berlari cepat, tertawa kecil sembari sesekali menghapus air mata yang menghalangi pandangan. Renata menghambur ke dalam pelukan mereka, menangis tersedu-sedu untuk meluapkan segala rasa sakitnya.

"Aku rindu Ibu dan Ayah," lirihnya terisak.

Ibunya Renata tersenyum. Menangkup lembut kedua pipi Renata seraya menghapus air matanya dengan ibu jari.

"Rena anak yang kuat. Ibu bangga padamu, Sayang," ucapnya sangat lembut. Suaranya terdengar begitu menenangkan untuk Renata.

"Ibu ...." Renata kembali menghambur ke dalam pelukan. Mengeratkan kedua tangannya yang melingkar seolah takut kehilangan lagi.

"Rena," panggil ayahnya.

Renata perlahan melepaskan pelukan, lalu beralih memandang ayahnya. "Ayah ...."

"Kau anak yang paling hebat, Nak. Jangan menangis! Ayah percaya kau bisa melewati semuanya," ujar ayahnya seraya mengusap kepala.

"Iya, Ayah. Selama ada Ayah dan Ibu, aku pasti akan baik-baik saja." Renata mengangguk dan tersenyum senang.

Kedua orangtua Renata saling melempar pandang sesaat, lalu kembali menatapnya. Mereka ikut tersenyum, tapi bulir-bulir kristal menggenang di pelupuk mata keduanya.

"Jaga dirimu baik-baik, Sayang!" Ibunya membelai lembut pipi Renata.

"Ibu .... Ayah," lirihnya masih dengan tetesan air mata. Renata mengernyitkan dahi, menatap bingung keduanya yang perlahan mundur menjauh. "Ibu! Ayah! Kalian mau ke mana?"

Tak ada jawaban. Membuatnya seketika merasa bingung sekaligus takut. Renata mengayunkan kaki mengikuti keduanya yang kini tengah berjalan membelakangi dengan bergandengan tangan.

"Ayah! Ibu! Tunggu Rena! Jangan cepat-cepat jalannya!" teriaknya panik saat menyadari jarak keduanya malah semakin jauh.

Renata berlari. Akan tetapi, semakin ia mempercepat langkah, semakin jauh pula jarak keduanya. Renata tak mampu lagi menahan air mata. Takut. Sudah cukup hidupnya menderita tanpa kehadiran mereka. Ia tak mau kehilangan lagi.

Renata menangis dan berteriak kencang memanggil keduanya, tapi tak ada jawaban. Renata berdiri terpaku di tempat, memandang frustasi orangtuanya yang tak menoleh sedikit pun.

"Ibu! Ayah! Jangan tinggalkan Rena!" teriaknya sekuat tenaga.

Berhasil! Langkah keduanya terhenti, lalu menoleh bersamaan. Memandang sendu ke arah Renata yang menangis tak berdaya. Melempar senyuman sebelum akhirnya, sedikit demi sedikit sosok mereka hilang perlahan tersapu angin.

"Tidak boleh. Kalian tidak boleh pergi," gumamnya lirih. "Kumohon jangan tinggalkan aku lagi. Ayah! Ibu!" jeritnya histeris.

Renata terduduk lemas di sana. Meraung-raung meratapi nasibnya yang kembali ditinggalkan sendirian. Hingga akhirnya, ia jatuh terbaring lemas di rerumputan. Terisak lirih dengan pandangan yang semakin mengabur dan buram.

"Ibu ... Ayah ... bawa aku pergi bersama kalian."

Hening. Tak ada suara yang terdengar selain desauan angin. Detik berikutnya, terpaan angin lembut telah mengantar Renata kembali pada kegelapan.

🌸🌸🌸



Komentar

Login untuk melihat komentar!