lima
KETIKA MANTAN ISTRI MENJADI CANTIK 5



Hari ini aku sengaja pulang terlambat karena mampir ke toko dulu untuk membeli semua kebutuhan anak. Aku ingin membeli baju, makanan, mainan, dan semuanya. Ya, aku akan menggunakan anakku yang bahkan tidak pernah kutemui setelah kami berpisah itu. Entah seperti apa wajahnya. Yang jelas pasti ganteng seperti aku. 



Aku agak kebingungan saat hendak memilih baju. Selain tidak tahu warna favoritnya apa, aku juga tahu berapa ukurannya. Kira-kira sajalah.



"Apa ini, Van?" tanya ibu saat aku baru sampai di rumah dan membawa beberapa paper bag. 



"Aku ingin menemui anakku, Bu," 



"Anak? Anak yang mana?" 



"Anakku dengan Alya lah, Bu? Siapa lagi? Memangnya aku pernah punya anak dengan orang lain?" jawabku santai. 



"Ada angin apa sehingga membuatmu tiba-tiba ingin bertemu anak yang sudah kamu anggap tidak ada itu?" Ibu membuka paper bag itu dan membuka isinya. 



Sejak aku dan Alya menikah, ibu memang tidak pernah  menganggap wanita itu sebagai menantu di rumah ini. 



"Aku ingin kembali pada Alya, Bu. Aku sadar, sampai kapanpun Vino itu tetap darah dagingku. Ya, hubungan antara bapak dan anak tidak akan pernah putus sampai kapanpun." Aku berdiri di depan cermin untuk mematut diri meskipun tanpa bercermin pun aku sudah yakin kalau wajah ini memang tampan. 



"Kembali? Apa ibu tidak salah dengar? Bukankah kamu sebentar lagi akan menikah dengan Reana?" Mata ibu melotot mendengar jawabanku. 



"Sekarang aku sadar, Bu. Berpisah dengan Alya adalah kesalahan terbesar dalam hidup dan aku ingin menebus kesalahanku dengan kembali padanya."



"Lalu Reana?" 



"Aku sudah bilang pada Reana jika mau tetap menikah denganku, maka ia harus rela berbagi suami dengan Alya." Aku menghela napas perlahan. 



"Memangnya Alya mau kembali?" 


"Ini baru usaha untuk mendekatinya melalui Vino. Aku yakin jika berhasil mendekati Vino, hati Alya pasti dengan mudah kudapatkan. Sudah, ya, Bu, aku mau berangkat dulu." Aku mengambil barang dari tangan ibu. 



"Ibu tidak mau punya menantu Alya lagi, Van. Selama ini ibu sudah nyaman dengan tidak kehadirannya dalam hidup kita. Sekarang kamu malah ingin membawanya kembali. Mau cari penyakit?" Ibu mendelik. 



"Bu, Alya yang ini beda, Bu. Dia cantik dan punya butik, bukan Alya menantu ibu yang kumal itu." 



"Oh, orang lain, ya. Ibu pikir si Alya mantan menantu ibu yang menyebalkan itu. Entah di mana dia sekarang, masih hidup atau sudah mat* dia. Memang, ya, yang namanya Alya tidak hanya satu di dunia ini. Kalau ada Alya yang jelek pasti ada juga Alya yang cantik, tetapi dia janda juga? Terus sudah punya anak? Siapa namanya? Vino? Kok sepertinya nama anak kamu juga bernama Vino? Benar nggak sih?" tanya ibu dengan mata memicing. 



Separah itu hubungan antara aku, Alya, Vino, dan Ibu, sampai-sampai nama cucunya sendiri lupa-lupa ingat. 



"Alya mantan istriku yang dulu, Bu, tetapi ia sudah berubah sekarang. Pokoknya aku harus kembali padanya." 



"Maksud  kamu apa, sih? Sebenarnya Alya yang kamu maksud itu Alya kumal atau orang lain yang kebetulan namanya sama? Kok kamu bilang dia cantik? Jangan buat ibu bingung." Ibu memijit kepalanya. 



"Alya mantan istriku, Bu, bukan orang lain, tetapi ia cantik sekarang sehingga aku harus kembali padanya. Sudah, ya, jangan tanya-tanya lagi. Dah." Gegas kutinggalkan ibu yang masih bengong dengan kepergianku. 



Kulajukan mobil sambil bersenandung kecil menuju kediaman Alya yang sudah kuselidiki selama beberapa hari ini. Ya, kemarin aku mengikuti Alya hingga ke depan rumahnya. Kupandangi banyak barang yang ada di sampingku. Aku tersenyum, anakku pasti senang menerima hadiah ini. 



Kuhentikan mobil di halaman sebuah rumah bercat biru muda. Rumah itu kecil, tetapi nyaman sepertinya. Memang sederhana dan tidak mewah, tetapi bagi seorang janda, hebat lah bisa punya rumah sendiri seperti ini. 



Di depan rumah tampak seorang anak laki-laki yang sedang bermain seorang diri. Gegas aku turun dari mobil dan membawa semua hadiah untuk kuberikan padanya--Darah daging yang selama ini terabaikan. Anakku sudah besar sekarang. 



"Sayang, ini Papa, Nak." Kudekap erat bocah berusia enam tahun itu. Ya, aku dan Alya sudah berpisah selama lima tahun dan saat kami pisah anakku berusia satu tahun. 



"Papa? Tidak! kamu bukan papaku? Pergi! Mama! Tolong ada penculik!" Bocah itu berteriak dan berusaha melepaskan pelukan tanganku, tetapi aku semakin erat mendekap nya. 



"Sayang, ini papa, Nak? Lihat! Papa bawa banyak hadiah untukmu?" Aku kesal kenapa Alya tidak pernah mengenalkan aku sebagai papanya pada anak ini. 


"Lepaskan aku, tolong!" Bocah itu teriak dan meronta, tetapi tidak jua kulepaskan. tidak lama kemudian terdengar derap langkah buru-buru dari dalam dan terdengar pintu terbuka. 



"Lepaskan anakku!" 



Aku menoleh dan betapa terkejutnya aku saat mendapati serang lelaki berdiri di hadapanku dengan muka merah. Tangan kirinya di pinggang dan tangan kanan menunjuk mukaku. 



"Papa, orang ini mau menangkapku, Hu hu hu." Bocah itu berlari dan memeluk lelaki itu. Ia menangis dalam dekapan lelaki yang ia panggil papa itu. 



Papa? Ah, kurang aj*r si Alya, bisa-bisanya ia sudah menghadirkan sosok papa baru bagi anakku. Ini tidak bisa dibiarkan. 



Mataku memanas melihat anak itu begitu akrab dengan lelaki yang ia panggil papa itu. Alya pasti sudah bilang dan mencuci otak bocah itu kalau laki-laki itu papanya. 



Haruskah aku berteriak HARUSNYA AKU YANG DI SANA?